Wanita Mewarnai Kuku, Bagaimana Wudhunya?

by -1,308 views

Pertanyaan:

Untuk menyempurnakan penampilan dirinya, tidak jarang wanita selain merias wajah dan badannya juga mewarnai kulit atau kuku di jari-jarinya baik jari tangan maupun kaki dengan warna sesuai keinginannya.

Melihat kuku di jari merupakan salah satu anggota wudlu yang wajib dibasuh dengan air, bagaimana hukum kuku wanita yang diberi warna ketika berwudhu. Apakah sah wudhunya ?

Jawaban:

Dalam menghias kuku atau tangan di kenal nama Kutek dan Henna, Inai, Rani atau sejenisanya.

Lazimnya Kutek berbahan dasar cat yang ketika sudah kering dan akan menempel di kuku, sehingga menghalangi datangnya air pada kuku tersebut yang merupakan anggota wudhu wajib dibasuh.

Sedangkan Henna atau Inai adalah sejenis pacar dari daun tanaman yang disebut Henna atau Lawsonia Inermis. Kata Henna berasal dari bahasa arab “Al-Hanaa”.

Cara pemakaian keduanya pun berbeda. Kutek ditempelkan langsung pada kuku dan tidak dibasuh setelahnya, artinya yang menempel pada kuku tersebut adalah dzatiyah atau ‘ain nya. Dan ketika dikerok misalnya maka akan terkelupas cat nya.

Sedangkan Henna, Rani atau Inai, ditempelkan  pada kuku dan setelah beberapa saat kuku pun dicuci sehingga yang tertinggal hanya atsar warnanya saja tidak meninggalkan dzatiyah atau ‘ain dari pewarna tersebut.

Maka ketika kuku diwarnai dengan Kutek bisa menghalangi sampainya air pada anggota wudhu sehingga menyebabkan wudhunya tidak sah. Adapun ketika diwarnai dengan Henna atau Inai hanya berupa atsarnya saja, maka wudhunya sah.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang menempel pada anggota wudlu yang wajib dibasuh, baik pewarna atau yang lainnya ketika menghalangi sampainya air pada anggota tersebut karena masih ada wujud dzat/’ain-nya maka wudlunya tidak sah. Apabila hanya tinggal bekas/atsarnya saja maka wudlunya sah.

Referensi : Al Majmu’ juz 1 hal. 387, Nihayatuz Zain : 17, I’anah al Tholibin : 1/46

المجموع الجزء 1 صحـ : 387 مكتبة المطبعة المنيرية
( السَّابِعَةُ ) إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِينٌ أَوْ حِنَّاءٌ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ فَمَنَعَ وُصُولَ الْمَاءِ إلَى شَيْءٍ مِنْ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ أَكَثُرَ ذَلِكَ أَمْ قَلَّ وَلَوْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ أَوْ أَثَرُ دُهْنٍ مَائِعٍ بِحَيْثُ يَمَسُّ الْمَاءُ بَشَرَةَ الْعُضْوِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا لَكِنْ لَا يَثْبُتُ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ اهـ

Sumber: fiqhmenjawab.net

loading...
loading...