Wanita Keluar Angin Dari Kemaluan, Apakah Wudhu’nya Batal?

by

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz.

Setelah buang air kecil, kemudian membatukkan diri agar sisa air seni bersih (seperti yang dianjurkan), tapi ketika shalat dalam keadaan tidak pakai celana dalam, sering terasa seperti buang angin tapi dari kemaluan.

Bagaimana hukum shalatnya? Bagaimana cara menghentikannya, karena sering terjadi? Kebetulan badannya agak gemuk.

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Masalah buang angin lewat kemaluan, ada dua pendapat:

1. BATAL Wudhu’nya
Ini pendapat Syafi’iyah dan Hambaliyah. Imam an -awawi mengatakan:

الخارج من قبل الرجل أو المرأة أو دبرهما ينقض الوضوء ، سواء كان غائطا أو بولا أو ريحا أو دودا أو قيحا أو دما أو حصاة أو غير ذلك ، ولا فرق في ذلك بين النادر والمعتاد ، ولا فرق في خروج الريح بين قبل المرأة والرجل ودبرهما ، نص عليه الشافعي رحمه الله في الأم ، واتفق عليه الأصحاب

Sesuatu yang keluar dari kemaluan dan dubur laki-laki dan perempuan adalah membatalkan wudhu, baik itu tinja, kencing, angin, ulat, nanah, darah, atau lainnya. Tidak beda dalam hal ini baik yang jarang atau kebiasaan. Tidak ada beda antara keluarnya angin dari kemaluan laki-laki dan perempuan, dengan dari duburnya. Demikianlah ungkapan dari Asy Syafi’iy dalam Al Umm dan disepakati para sahabatnya. (Al-Majmu’, 2/3)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

نقل صالح عن أبيه في المرأة يخرج من فرجها الريح : ما خرج من السبيلين ففيه الوضوء . وقال القاضي : خروج الريح من الذكر وقبل المرأة ينقض الوضوء

Shalih mengutip dari ayahnya (Imam Ahmad bin Hambal) tentang wanita yang mengeluarkan angin dari kemaluannya: “Apapun yang keluar dari dua jalan (dubur dan kemaluan) adalah membatalkan wudhu.” Al Qadhi mengatakan: “Keluarnya angin dari dzakar laki-laki dan kemaluan wanita adalah membatalkan wudhu.” (Al Mughniy, 1/125)

2. TIDAK BATAL
Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Malikiyah. Imam Ibnu ‘Abidin Rahimahullah mengatakan:

لا – ينقض – خروجُ ريح مِن قُبُل وَذَكر ؛ لأنه اختلاج ؛ أي ليس بريح حقيقة ، ولو كان ريحا فليست بمنبعثة عن محل النجاسة فلا تنقض

Tidaklah membatalkan wudhu angin yang keluar dari kemaluan laki-laki dan perempuan, karena itu bukanlah angin yang sebenarnya, kalaupun itu angin itu bukankah berasal dari tempat bersemayamnya najis. (Raddul Muhtar, 1/136)

Al ‘Allamah Ad Dardir Al Malikiy Rahimahullah mengatakan:

إذا خرج الخارج المعتاد من غير المخرجين ، كما إذا خرج من الفم ، أو خرج بول من دبر ، أو ريح من قبل ، ولو قبل امرأة ، أو من ثقبة ، فإنه لا ينقض

Jika ada sesuatu keluar yang biasa bukan berasal dari dua jalan keluar, seperti keluarnya dari mulut, atau kencing dari dubur, atau angin dari kemaluan, walau kemaluan wanita, atau walau dari lubang kencingnya, maka itu tidak membatalkan wudhu. (Asy Syarhul Kabir, 1/118)

Mana yang kita ambil? Pendapat pertama lebih hati-hati untuk diambil. Sesuai hadits:

لَا وُضُوءَ إِلَّا مِنْ صَوْتٍ أَوْ رِيحٍ

Tidak ada wudhu kecuali dikarenakan suara atau angin. (H.R. At Tirmidzi no. 74, katanya: hasan shahih)

Tapi, jika sudah menjadi penyakit yang tidak bisa dikontrol, semoga itu dimaafkan dan bisa diambil pendapat kedua.

Demikian.

Wallahu a’lam.

Sumber: alfahmu.id

Loading...
loading...
loading...