VIDEO: Nenek Asal Bogor Keliling Jual Ginjalnya Demi Pengobatan Suami yang Derita Komplikasi

by -688 views

Mumun Sumiyati (58) memasarkan ginjalnya di area dekat Stasiun Bekasi, Selasa (2/4/2019) siang.

Wanita paruh baya itu mengalungi karton bertulisan permohonan bantuan dan penawaran bagi siapa saja yang ingin membeli ginjalnya.

Warga Jalan Raya Rawa Indah 2, RT 04 RW 02, Pondok Terong, Bojong Gede, Kabupaten Bogor itu, mengaku terpaksa menjual ginjalnya demi biaya pengobatan suaminya yang menderita penyakit komplikasi.

Dari rumah kontrakannya, ia datang menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL)

“Enggak ada cara lain, saya butuh banyak uang buat suami berobat,” katanya, di sela waktu istirahatnya, dekat pintu perlintasan kereta api Stasiun Bekasi, Jalan Raya Perjuangan, Margamulya, Bekasi Utara.

Sumiyati mengaku sudah dua hari memasarkan ginjal di daerah Bekasi.

Mumun Sumiyati (58) menjual ginjalnya di area dekat Stasiun Bekasi, Selasa (2/4/2019) siang.

Sebelumnya, ia telah memasarkan ginjalnya ke Jakarta, Bogor, dan Depok, namun tak kunjung ada yang membeli. Hanya ada sejumlah dermawan yang memberikannya uang.

Ia mengaku mulai memasarkan ginjalnya sejak 2017 lalu, saat penyakit yang diderita suaminya semakin parah, seperti jantung, gula darah, hipertensi, dan penyempitan tulang pinggang.

“Jadi saya bingung mau kerja apa, kondisi saya juga sudah lemah, enggak kuat jalan lama, sakit pengapuran di kaki,” ungkapya.

Selama itu, untuk pengobatannya sang suami, ia mengandalkan uang dari belas kasihan warga saat sedang memasarkan ginjal.

“Saya ada BPJS tapi kan enggak semua bisa di-cover. Belum lagi saya harus bayar kontrakan dan makan sehari-hari,” tuturnya.

“Dulu suami saya sopir serabutan. Sekarang semenjak sakit ya suami saya enggak kerja. Apalagi umurnya udah hampir 64 tahun,” sambungnya.

Setiap hari, Sumiyati mengaku membutuhkan uang sekitar Rp 200 ribu untuk berobat suaminya.

“Setiap satu minggu sekali, saya beli obat untuk suami dan biaya kontrol di rumah sakit di daerah Cikini Jakarta,” jelasnya.

Biaya obat, kata dia sekitar Rp 200 ribu, belum buat makan sehari-hari dan bayar kontrakan Rp 700 ribu setiap bulan.

Mumun Sumiyati (58) menjual ginjalnya di area dekat Stasiun Bekasi, Selasa (2/4/2019) siang.

Untuk itu, ia ikhlas jual ginjal untuk mengobati suami. Selain uang hasil jual ginjal untuk biaya berobat suaminya, Sumiyati juga ingin memanfaatkan uang hasil menjual ginjalnya untuk membeli rumah.

“Saya mau uangnya bukan buat berobat aja, tapi buat beli rumah. Ya, jadi enggak perlu besar, yang kecil aja, jadi tidak perlu repot bayar kontrakan. Kan jadi beban juga bayar kontrakan,” paparnya.

Sumiyati mengaku tenang jika sudah memiliki rumah sendiri.

“Kalau uangnya habis dipakai berobat sendiri nanti gimana bayar kontrakan? Kalau sudah punya rumah kan tenang,” terangnya.

“Jadi saya tinggal bekerja cari uang buat berobat suami saja, tidak perlu bingung cari buat kontrakan,” ucapnya sambil menahan tangis,” tambahnya.

Bahkan, kata Sumiyati, anak-anaknya sampai saat ini belum mengetahui bahwa dia berniat menjual ginjal.

Sebab, ia tidak mau merepotkan anaknya.

“Anak saya saja buat diri sendiri kurang. Yang satu Go-Jek, yang satu buruh cuci. Mereka pada di kampung Cianjur,” bebernya.

“Saya mau pinjam ke saudara juga enggak enak, takut nyakitin. Tapi kalau anak saya tahu ya saya jujur aja,” imbuhnya.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...