Tinggal di Gubuk Bersama Ibunya yang Sudah Tua, Pria ini Selama 25 Tahun Tubuhnya Kaku Seperti Kayu

by -157 views

Seorang warga di Lingkungan Kampung Nipa, Kelurahan Bentengnge, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan kesulitan beraktivitas.

Sekedar membalikkan badannya sendiri saja Tepu yang berusia 40 tahun itu kesulitan dan ia hanya bisa terbaring di kasur selama hampir 25 tahun.

Derita yang Tepu alami ini berawal saat dirinya berusia 15 tahun.

Saat itu ia sedang menemani orang tuanya di kebun di daerah Kabupaten Jeneponto, derita yang ia rasakan adalah bagian perut hingga ke ujung jari-jari kaki kayu seperti kayu.

Bahkan pada bagian paha dan betis mengecil, yang terlihat hanya tonjolan tulang.

“Waktu itu saya pergi kencing di bawa pohon kayu. Dan beberapa hari kemudian tubuh saya kaku tidak bisa digerakkan sampai sekarang,” kata Tepu, saat ditemui Kompas.com, Selasa (29/9/2020).

Cobaan yang dialami Tepu tidak hanya itu saja. Sang ibu, Manna (80) mengalami kelumpuhan akibat jatuh dari motor. Terlebih kondisi mereka yang memprihatinkan.

Mereka tinggal di gubuk kecil dengan berdinding seng. Kondisi Tepu yang tidak bisa bergerak itu membuatnya hanya bisa berguling ke sebuah lubang yang ada di kamarnya jika dirinya ingin mandi dan buang air.

Tim Kompas.com mencoba mendatangi kediaman Tepu. Pada saat tim Kompas.com sampai di kediaman, Tepu hanya terbaring lemah diatas kasur merah dengan sarung yang menutupi tubuhnya.

Sementara sang ibu, Manna duduk berada di dekatnya. Selama dirinya sakit, ia tidak pernah di bawa berobat karena terkendala biaya.

Untuk makan sehari-hari mereka hanya bisa bergantung kepada menantu Manna, Saiyya (45).

Saiyya merupakan istri dari anak Manna, Kulle. Saiyya memberi makan hingga membersihkan dan mencuci pakaian.

Selama ini, Saiyya hanya bekerja sebagai buruh cuci pakaian dengan gaji Rp. 35 ribu rupiah per bulan. Ia sudah bekerja kurang lebih 7 tahun sebagai buruh cuci pakaian tersebut.

Selain menjadi buruh cuci, Saiyya juga terkadang membantu panen rumput laut dan menerimah upah Rp. 15 ribu.

Uang hasil kerjanya itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, terhitung sejak 2018 lalu ia sudah berhenti menjadi buruh cuci keliling karena tangannya gatal dan membengkak.

Biasanya uang yang didapatkan Saiyya tidak mencukup kebutuhan sehari-hari mereka. Bahkan terkadang mereka harus berpuasa karena tidak memiliki beras.

Para tetangga sekitar rumahnya juga tidak ada yang peduli. Kini  Saiyya hanya berhara bantuan dari pemerintah, namun sebelumnya ia mengaku pernah mendapat bantuan beras dari pemerintah namun hanya sekali saja.

Sumber: palingseru.com

loading...
loading...