3 Waktu yang Tidak Dianjurkan Untuk Melaksanakan Sholat Tahiyatul Masjid

by

Sholat Tahiyatul Masjid adalah salat sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan ketika memasuki masjid sebelum duduk.

Jadi, secara otomatis anjuran tersebut gugur ketika seseorang yang memasuki masjid dan memutuskan untuk duduk langsung.

Sebagaimana kita ketahui, perkara sunnah adalah sesuatu yang jika dilaksanakan akan mendapat pahala, dan jika tidak dilaksanakan tidak akan mendapat dosa.

Salat Tahiyatul Masjid adalah salat sunnah yang sangat  dianjurkan, sebab salat ini adalah suatu bentuk adab atau etika seorang Muslim ketika memasuki suatu masjid.

Namun, ada beberapa situasi di mana seseorang tidak dianjurkan untuk melaksanakan salat Tahiyatul Masjid ini.

Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syeikh Nawawi al-Bantani menerangkan :

وهي ركعتان قبل الجلوس لكل داخل متطهرمريد الجلوس فيه لم يشتغل بها عن الجماعة ولم يخف فوت راتبة، ولا تسن للخطيب إذا خرج للخطبة، ولا لمن دخل آخر الخطبة بحيث لو فعل التحية فاته أول الجمعة مع الإمام

“Salat sunnah Tahiyatul Masjid berjumlah dua rakaat dan waktu pelaksanaannya adalah ketika memasuki masjid sebelum duduk bagi setiap orang yang dalam keadaan suci dan hendak duduk, serta tidak khawatir akan tertinggal salat berjamaah. Tidak disunnahkan pula salat Tahiyatul Masjid ini bagi seorang khatib yang hendak berkhutbah dan juga bagi seseorang yang tiba di masjid ketika khutbah akan segera berakhir yang sekiranya jika melaksanakan salat ini, ia akan tertinggal rakaat pertama salat Jumat berjamaah.”

Melihat penjelasan dalam kitab ini, bisa disimpulkan ada tiga kondisi di mana seseorang yang memasuki masjid tidak dianjurkan untuk melaksanakan salat Tahiyatul Masjid.

Berikut adalah tiga kondisi tersebut;

Pertama, ketika salat berjamaah akan segera dilaksanakan atau iqamah segera akan dikumandangkan, maka setiap orang yang masuk masjid dalam situasi tersebut tidak dianjurkan untuk melaksanakan salat Tahiyatul Masjid karena dikhawatirkan akan tertinggal salat berjamah.

Kedua, tidak dianjurkan melaksanakan salat Tahiyatul Masjid bagi seorang khatib yang akan langsung naik mimbar untuk mengisi khutbah salat Jumat.

Misalnya, seorang khatib tiba di masjid ketika memasuki waktu salat Jumat, maka lebih baik bagi seorang khatib untuk langsung naik mimbar guna menyampaikan khutbahnya daripada melaksanakan salat Tahiyatul Masjid terlebih dahulu.

Ketiga, tidak dianjurkan untuk melaksanakan salat Tahiyatul Masjid bagi seseorang yang tiba di masjid ketika khutbah salat Jumat akan segera berakhir.

Maka, lebih baik bagi seseorang tersebut untuk langsung duduk diam mendengarkan khutbah, dan jika melaksanakan salat, ditakutkan akan tertinggal salat Jumat berjamaah.

Tidak dianjurkannya salat Tahiyatul Masjid dalam beberapa situasi tersebut tidak lain adalah untuk mendahulukan perkara wajib sebelum perkara sunnah, sebab jika perkara wajib tertinggal, maka ditakutkan akan kehilangan keutamaan perkara wajib tersebut.

Wallahu ‘alam Bi As Showab.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...