Tidak Cukup Cuma Cinta, Ada Hal Penting Lain Dalam Pernikahan

by

Kita seringkali menganggap cinta adalah fondasi yang kuat untuk pernikahan. Mungkin ungkapan tersebut tidak keliru.

Namun, perlu selalu diingat, hanya bermodalkan cinta juga tak menjamin pernikahan langgeng.

Sebab, selain cinta, mutlak diperlukan sikap saling menghargai dalam pernikahan. Tanpa sikap itu, cinta akan semakin memudar.

Bahkan, dalam banyak pernikahan, sikap saling menghargai terkadang lebih penting dari cinta itu sendiri.

Ketika salah satu pasangan kehilangan rasa saling menghargai, hubungan tersebut akan runtuh.

Sebaliknya, sikap saling menghargai akan menguatkan hubungan. Lantas, bagaimana cara menunjukkan sikap menghargai pada pasangan?

Menurut Saba Harouni Lurie, pakar pernikahan berlisensi dan terapis keluarga, hal itu bisa diwujudkan dalam cara komunikasi dengan penuh hormat dan perhatian.

Selain itu, usahakan untuk selalu melibatkan pasangan dalam membuat keputusan, memenuhi kebutuhan dan keinginan pasangan juga menjadi bagian dari sikap saling menghargai.

“Tapi itu bukan berarti mengorbankan diri kita untuk membuat pasangan bahagia. Ini berarti berkomunikasi dengan cinta, bahkan ketika itu sulit,” paparnya.

Teori ini terlihat sederhana, tapi -percayalah, sulit dilakukan. Sikap saling menghargai bisa hilang ketika salah satu pasangan bersifat egois.

“Sering kali, pasangan mencoba untuk membangun rasa hormat dengan definisi mereka sendiri, dan mencoba untuk membuat segalanya menjadi adil.”

Demikian dikatakan Aricia E. Shaffer, seorang terapis dan pelatih pengasuhan anak. Misalnya, salah satu pihak merasa jalan-jalan bersama setiap akhir pekan akan mendatangkan kebahagiaan.

“Namun, salah satu pihak mungkin ingin menghabiskan waktu bersama teman ketika akhir minggu. Sementara yang lain hanya ingin menikmati waktu berdua,” tambahnya.

Bisa jadi, pasangan kita adalah tipe introvert yang hanya ingin menghabiskan akhir pekan di rumah.

Ini adalah salah satu contoh mengapa dibutuhkan komunikasi. Rusaknya komunikasi, kurangnya pemahaman akan kebuuhan orang lain adalah awal dari berkurangnya rasa saling menghargai.

“Rasa saling menghargai membutuhkan komunikasi,” kata Shaffer.

Menurut dia, kita tidak mengetahui apa yang dianggap hormat atau berharga bagi pasangan kecuali kita menanyakannya.

“Ada beberapa hal yang jelas, tetapi rasa saling menghargai yang mendalam itu tak terlihat, dan berbeda untuk semua orang,” papar Shaffer.

Shaffer mencontohkan hal kecil seperti membiarkan pintu garasi yang terbuka.

Bagi kita, hal semacam itu bisa saja terlihat sepele. Namun, bisa saja sangat mengganggu bagi pasangan kita.

“Ini tentang mendengarkan pasangan kita, dan mengingat apa yang penting baginya. Kemudian, kita mempertimbangkannya ketika membuat keputusan,” tambahnya.

Menurut Lurie, rasa saling menghargai terwujud ketika kedua pasangan menyadari mereka berada dalam hubungan karena pilihan.

“Berada dalam suatu hubungan tidak mudah, dan setiap hubungan akan memiliki periode yang sulit atau kadang-kadang tampak mustahil,” katanya.

Bahkan di saat-saat itu, kata Lurie, kita harus menyakinkan diri untuk tetap mempertahankan hubungan.

Jika terjadi masalah, bicaralah pada pasangan dengan rasa hormat yang sama seperti kita akan berbicara pada teman atau orang asing.

Jika kita merasa tak enak hati saat berteriak atau memaki orang asing, maka harapannya adalah kita juga akan mempertahankan standar yang sama untuk pasangan kita.

Tina B. Tessina, seorang psikoterapis berlisensi dari California, mengatakan rasa saling menghargai bergantung pada empat kondisi.

Kondisi tersebut yaitu saling cinta, saling percaya, saling menguntungkan, dan saling mendukung.

“Ketika empat kondisi di atas ada, mutualitas yang diperlukan untuk cinta sejati ada,” katanya.

Ini bisa menjadi hal penting jika kita memiliki pengalaman hubungan masa lalu, di mana kebutuhan kita belum dipenuhi, kita merasa tidak dicintai, atau ditinggalkan.

Mengevaluasi kebersamaan kita juga merupakan cara yang baik untuk mengetahui apakah kita siap berkomitmen untuk menjalin hubungan, atau membutuhkan lebih banyak waktu untuk membangun komitmen.

Jika menyadari kita dan pasangan sama-sama merasakan cinta, kepercayaan, manfaat, dan dukungan, intuisi kita mungkin akan menjadi indikator yang bagus apakah mutualisme benar-benar ada.

Ketika ingin membangun kesetaraan dalam hubungan, kita harus fokus untuk bertanggung jawab atas pengaruh tindakan kepada pasangan.

Menurut Shaffer, kita harus menggunakan akal sehat untuk memikirkan hal ini.

Kita harus mempertimbangkan segala konsekuensi yang kita lakukan. Namun, kita juga harus memperhatikan apa yang kita butuhkan dan membicarakannya dengan pasangan.

”Tanpa komunikasi yang konstan, rasa saling menghargai tidak akan pernah tercapai,” papar Shaffer.

Sumber: kompas.com

Loading...
loading...
loading...