Tentang Kebaikan dan Perbedaan Iman

by

Ada sebuah tulisan yang beredar secara agak viral, berisi dialog antara seorang kiyai dengan seorang liberal. Tulisan ini berisi dialog imajiner. Karena imajiner, maka tentu saja dibuat, oleh penulisnya yang anti-liberalisme, dengan setting kiyai cerdas dan liberal bodoh. Di akhir dialog si liberal tak lagi bisa membantah sang kiyai. Maka kaum liberal sudah dikalahkan.

Dialog diawali dengan gugatan si liberal soal orang kafir yang meski berbuat baik tidak akan mendapat surga. Ini tidak adil. Kiyai menjawab dengan analogi seorang mahasiswa. Orang kafir dalam analogi itu adalah mahasiswa yang tidak terdaftar di suatu kampus. Jadi, meski dia pintar, dia tidak akan pernah lulus dalam ujian.

Analogi di atas sangat sempit. Boleh jadi mewakili sempitnya akal penulisnya. Doktrin Islam yang mungkin dianut oleh penulis di atas menyatakan bahwa orang muslim, betapapun buruknya, selama tidak menyekutukan Allah, pada akhirnya akan masuk surga. Ia akan dihukum dulu di neraka atas berbagai dosanya, tapi pada akhirnya ia akan masuk surga. Jagal-jagal ISIS yang bengis itu, bila mereka bersyahadat, akan masuk surga. Sementara pekerja sosial yang mereka tangkap dan mereka sembelih, akan masuk neraka.

Bila bersyahadat, mengakui ketuhanan Allah dan kenabian Muhammad, dianalogikan sebagai “terdaftar sebagai mahasiswa”, maka sang mahasiswa boleh saja tidak mengerjakan soal ujian, membuat onar di kelas, mengganggu orang yang sedang belajar dan ujian, melecehkan dosen, tapi tetap saja pada akhirnya ia bisa jadi sarjana. Pertanyaan saya, universitas macam apa itu?

Sebaliknya, orang-orang baik seperti Bunda Teresa, atau orang cerdas seperti Newton, adalah orang-orang yang beramal saleh. Dalam analogi tadi, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya lulus ujian. Tapi bukan di Universitas A tempat jagal ISIS terdaftar, tapi di Universitas B. Bagi Universitas A, mereka memang tidak lulus, dan universitas itu tidak akan mengeluarkan ijazah. Mereka akan mendapat ijazah sebagai lulusan Universitas B.

Bahkan ada orang seperti Einstein. Ia tidak terdaftar di Universitas A maupun B. Ia tidak terdaftar di universitas mana pun. Ia tidak mengakui universitas itu ada. Ia tidak menganggap ujian yang dilakukan kedua universitas itu sah. Ia tidak menganggap ijazah itu penting. Ia hanya belajar dan berpikir, lalu menghasilkan Teori Relativitas Umum. Pentingkah bagi kita di universitas mana Einstein terdaftar, dan berapa nilai di transkripnya?

Tulisan seperti yang saya bahas itu menggambarkan bagaimana banyak orang yang gagal memahami perbedaan iman. Banyak orang menilai amal orang lain dalam kerangka iman dia sendiri. Kalau mau dianalogikan lagi, ibarat orang nonton pertandingan bola tangan, tapi dalam pikirannya ia merasa sedang menonton pertandingan sepak bola. Ia akan berteriak-teriak melihat wasit membiarkan para pemain memegang bola, menuduh telah terjadi hands-ball. Padahal tidak. Lucu bukan?

Bagi saya ini menyedihkan. Orang gagal memetakan kebaikan dan keburukan, oleh karena iman. Maka tak heran kalau John Lennon kemudian mengajak kita,”Imagine there’s no heaven. And no religion too.”

Sumber: abdurakhman.com

Loading...
loading...
loading...