Teknik yang Perlu Ibu Ketahui Untuk Mengatasi Anak yang Tantrum

by -986 views

Anak-anak yang tidak bisa mengekspresikan permintaan atau emosi biasanya suka menunjukkan rasa kesal. Oleh karena itu, sebaiknya Anda mengajarkan beberapa kosakata yang menunjukkan ekspresi emosi seperti ‘marah, sedih, lelah, dan kecewa’.

Berdasarkan hasil data statistik, ditemukan bahwa 20% dari anak-anak berusia 3-4 tahun dan 11% dari anak-anak berusia 5 tahun menunjukkan rasa kesal lebih dari dua kali dalam sehari.

Mengapa anak-anak walau sudah besar juga masih menunjukkan tantrum? Ini karena kebanyakan anak-anak belum mempelajari cara mengekspresikan emosi atau cara berkomunikasi dengan baik. Bantulah anak Anda agar dapat mengekspresikan emosi diri ketika sedang memiliki emosi yang negatif.

1. Ajarilah Anak Mengenai Ungkapan-ungkapan Untuk Mengekspresikan Kekecewaan
Anak-anak yang tidak bisa mengekspresikan permintaan atau emosi biasanya suka menunjukkan rasa kesal. Oleh karena itu, sebaiknya Anda mengajarkan beberapa kosakata yang menunjukkan ekspresi emosi seperti ‘marah, sedih, lelah, dan kecewa’.

Cobalah temukan dua tiga kosakata yang menjelaskan tentang ekspresi emosi yang dapat memicu kekesalan anak, sehingga anak dapat lebih mudah mempelajari emosi.

Selain itu, gunakan kata-kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan juga bacakan buku yang berhubungan dengan ekspresi emosi. Jika tidak ada buku, bisa juga dengan memberikan contoh mengekspresikan emosi yang disesuaikan dengan keadaan.

Setelah anak memahami kosakata tersebut, bantulah anak agar dapat mengekspresikan emosi dirinya sesuai dengan keadaan, berkata seperti “Aku sedang marah” ketika anak memang sedang merasa marah.

Awalnya mungkin anak tidak terbiasa, sebaiknya Anda terus mengingatkan anak untuk menggunakan kosakata yang sesuai dengan perasaan hatinya.

“Ternyata kamu sedang kesal ya. Coba ceritakan ke Bunda apa yang sedang kamu rasakan!”, ucapkanlah dengan lembut, sehingga anak dapat mengekspresikan emosi diri dan sedikit demi sedikit rasa kesalnya akan menghilang.

Setelah itu, kemampuan kosakata anak juga ikut meningkat, sehingga ketika kesal anak tidak lagi menangis atau menendang-nendang dan dapat menggunakan kosakata tersebut untuk menunjukkan emosi dirinya.

2. Berlatihlah Agar Anda Tidak Menjadi Stres
Jika ibu dan anak sama-sama marah dan kesal, ini malah dapat mengakibatkan keduanya lelah secara emosional. Oleh karena itu, Anda perlu berusaha untuk membalikkan suasana.

Hindari penjelasan panjang, mencari-cari dan menghasut permasalahan. Anda hanya perlu mengatasi hati Anda yang lelah. Karena semua penjelasan Anda tidak akan masuk ke dalam telinga anak ketika ia sedang menunjukkan tantrum atau tidak mendengar Anda.

Karena sekarang ini anak pasti tidak mendengar Anda, maka sebaiknya tenangkan diri dan carilah cara untuk membalikkan kembali suasana hati si kecil terlebih dahulu.

3. Saat Hendak Marah, Cobalah Mengingat Kembali Jati Diri Anda
Ketika hendak meredakan emosi anak, apakah Anda sudah menunjukkan respons yang konsisten? Apakah Anda bersikap tenang dan kepala dingin?

Saat Anda dapat mengontrol amarah dan mengintrospeksi diri, suatu hari pasti anak dapat memahami kondisi ini.

4. Pikirkan Penyebab Awalnya
Jika emosi anak sering meledak-ledak dan menunjukkan tantrum, Anda perlu melacak masalah awalnya. Anda perlu menemukan pola kapan dimana anak sering menunjukkan rasa kesal.

Misalnya, ketika anak mengantuk sebelum tidur siang, setelah pulang dari sekolah, atau ketika dihadapkan dengan lingkungan baru, pasti ada masa dimana anak menunjukkan rasa kesal dan merengek. Saat seperti ini, cobalah pikirkan terlebih dahulu adakah solusi yang tepat untuk mengatasinya.

5. Terlebih Dahulu Memikirkan Konsekuensi Dari Tindakan Anak
Jika Anda terlebih dahulu sudah memikirkan solusi untuk mengatasi anak yang merengek atau tidak mendengarkan Anda, Anda dapat meredam terlebih dahulu luapan emosi yang berlebihan.

Anda dapat mengingat apa yang harus dilakukan ketika Anda marah. Jika anak terus menunjukkan rasa kesal walau sudah Anda berikan perhatian, maka Anda harus memperingatkan tentang hukuman yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Misalkan dengan membuat anak duduk di tempat yang telah ditentukan atau mencabut salah satu haknya. Walaupun sulit, namun yang terpenting adalah menjalankannya secara konsisten.

Sumber: havitplay.com

No More Posts Available.

No more pages to load.