Sutopo Pernah Bingung Pola Hidupnya Sehat, Tapi Idap Kanker? Ini Faktor Penyebab Non Perokok Terkena

by

Mendiang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho yang meninggal akibat kanker paru paru ini dikenal memilik gaya hidup sehat semasa muda.

Hal tersebut diungkapkan adik ipar Sutopo, Ahmad Jatmiko kepada Tribunsolo.com (Grup Tribunnews.com)

“Pak Sutopo itu sebenarnya hidupnya sehat, dia tidak pernah merokok juga,” katanya Minggu (7/7/2019) siang.

“Makanya saya heran kok bisa terkena penyakit kanker paru-paru,” katanya.

Saat divonis menderita kanker paru, Ahmad membeberkan bahwa Sutopo pun kerap mempertanyakan hal tersebut.

“Dia pernah bilang bingung juga padahal hidup saya itu sehat, ndak pernah merokok dan minum minuman keras tapi kok bisa kena kanker,” kata Ahmad menirukan ucapan Sutopo.

Ahmad mengenal Sutopo sebagai pribadi yang religius.

“Makanya saya syok juga pas dengar kabar tersebut, apalagi keluarga juga tidak ada keturunan sakit kanker,” katanya.

Jenazah Sutopo rencananya akan dimakamkan di Boyolali pada Selasa (8/7/2019) siang.

Jenazah Sutopo sudah dibawa pulang dari Guangzhou, China menuju rumah duka di Raflles Depok dan kini dalam perjalanan ke Boyolali.

Nantinya usai disemayamkan di Jakarta jenazah baru dibawa pulang ke rumah duka Jalan Jambu RT 7, RW 9, Desa Surodadi, Kelurahan Siswodipuran, Kabupaten Boyolali.

Sutopo meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru.

Di tengah perjuangannya masih sempat bertugas mengawal kejadian bencana di Indonesia.

Sutopo sendiri pernah dianugrahi Asian Of The Year 2018 sebelum bertolak ke Guangzhou untuk pengobatan.

Sebelum keberangkatan, dirinya meminta doa dan restu dari para netizen menjalani satu bulan pengobatan di Guangzhou.

Keluarga Tak Memiliki Riwayat Kanker
Adik ipar Sutopo, Ahmad Jatmiko kepada Tribunsolo.com mengatakan jika keluarganya tak memiliki riwayat sakit kanker.

“Dari keluarga juga tidak ada keturunan sakit kanker,” katanya Senin (7/7/2019) siang.

“Semua sehat, bapaknya saja sudah hampir 80 tahun sehat juga,” katanya.

“Hingga sekarang pun ibunya juga sehat semua,” katanya.

Ahmad sendiri juga heran dengan penyakit yang diderita Sutopo.

Faktor Penyebab Non Perokok Bisa Terkena Kanker Paru
Lantas, mengapa kanker bisa mampir ke tubuh Sutopo, padahal dia tidak merokok?

Melansir dari American Cancer Society, kanker paru-paru pada orang yang tidak merokok bisa disebabkan oleh paparan radon, asap rokok, polusi udara atau faktor lainnya.

Banyak penelitian telah menemukan penyebab sel-sel berubah menjadi kanker dan perbedaan sel-sel kanker paru-paru pada perokok serta non-perokok.

Berikut Faktor-faktor yang membuat non-perokok terkena kanker paru yang dikutip dari Hello Sehat.

1. Gas Radon
Penyebab utama kanker paru bagi non-perokok adalah paparan gas radon, menurut US Environmental Protection Agency (EPA).

Gas radon ialah gas yang terjadi secara alamiah yang terbentuk ketika uranium meluruh dan biasanya terjadi secara alami di luar ruangan dalam jumlah yang tidak membahayakan, tetapi hal itu kadang-kadang menjadi terkonsentrasi di rumah yang dibangun di atas tanah dengan endapan uranium alam.

Studi telah menemukan bahwa risiko kanker paru-paru lebih tinggi pada orang yang tinggal selama bertahun-tahun di sebuah rumah yang terkontaminasi radon.

Mereka yang merokok dan terpapar radon memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan dengan yang tidak merokok terpapar gas radon.

Gas radon dapat berjalan melalui tanah dan memasuki rumah melalui celah-celah fondasi, pipa, saluran air, atau bukaan lainnya.

2. Perokok Pasif
Perokok pasif atau penghirup asap yang dihasilkan dari perokok lain yang tinggal atau bekerja bersama Anda merupakan faktor risiko untuk munculnya kanker paru-paru.

Non-perokok yang tinggal dengan perokok memiliki peningkatan 24% dalam risiko untuk terkena kanker paru-paru bila dibandingkan dengan non-perokok lainnya.

3. Asbes
Ini adalah senyawa yang banyak digunakan di masa lalu, baik sebagai bahan isolasi termal ataupun akustik. Serat mikroskopik asbes terlepas dari bahan isolasi dan terbang melalui udara sehingga mereka dapat terhirup ke dalam paru-paru.

Serat asber dapat bertahan seumur hidup di dalam jaringan paru-paru berikut paparan asbes. Kedua jenis kanker, yaitu kanker paru dan tipe kanker yang dikenal sebagai mesothelioma, berkaitan dengan paparan asbes.

Merokok dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kanker paru yang berhubungan dengan asbes secara drastis. Non-perokok pekerja asbes memiliki risiko kanker lima kali lipat lebih besar dibandingkan dengan non-perokok biasa.

4. Polusi Udara
Sudah lama diketahui bahwa kedua polusi udara dalam ruangan maupun luar ruangan menyebabkan kanker paru-paru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2013 mengklasifikasikan polusi udara luar ruangan sebagai agen penyebab kanker (karsinogen).

Polusi udara dari kendaraan, industri, dan pembangkit listrik dapat meningkatkan kemungkinan perkembangan paru-paru pada para individu yang terpapar.

Para ahli percaya bahwa kontak yang terlalu lama dengan udara yang sangat tercemar dapat membawa risiko perkembangan kanker paru-paru yang mirip dengan perokok pasif.

5. Keturunan
Karena tidak semua perokok berakhir dengan kanker paru-paru, maka ada kemungkinan bahwa faktor-faktor lain, seperti kerentanan genetik individu, mungkin memainkan peran sebagai penyebab kanker paru-paru.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kanker paru-paru lebih mungkin terjadi di kedua individu, baik perokok maupun non-perokok, yang memiliki kerabat penderita kanker paru-paru dibandingkan dengan populasi umum.

6. Mutasi Gen
Peneliti belajar lebih banyak tentang apa yang menyebabkan sel-sel berubah menjadi kanker, dan bagaimana sel-sel kanker paru berbeda antara non-perokok dan perokok.

Sebagai contoh, sebuah artikel yang diterbitkan di Clinical Cancer Research menjelaskan bahwa jenis mutasi gen tertentu ternyata lebih umum pada kanker paru non-perokok. Mutasi ini mengaktifkan gen yang biasanya membantu sel-sel tumbuh dan membelah.

Mutasi menyebabkan gen hidup terus menerus, sehingga sel-sel kanker paru-paru tumbuh lebih cepat. Mengetahui perubahan gen dapat menyebabkan sel-sel tumbuh, hal itu membantu peneliti mengembangkan terapi target, yaitu pengobatan yang secara khusus menargetkan mutasi ini.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...