Sudah Berutang Beli Ponsel Untuk Belajar Online, 2 Siswa Ini Juga Harus Cari Sinyal Sejauh 4 Km

by -265 views

Thomas Roma (44), warga asal Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, harus berutang untuk membeli  ponsel agar dua anaknya bisa belajar.

Kedua anak Roma duduk di kelas III dan II SMA di SMAK Pancasila.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 yang terjadi hingga saat ini mengharuskan para murid untuk belajar dari rumat lewat sistem daring.

“Tuntutan sekolah belajar dari rumah sehingga saya sebagai orangtua beli handphone dengan berutang. Kalau tidak ada handphone android maka mereka tidak bisa belajar online serta mengerjakan soal yang diberikan guru-guru dari sekolah,” ujar Roma kepada Kompas.com di rumahnya, Kamis (20/8/2020).

Roma merupakan seorang pekerja bangunan yang penghasilannya tidak tetap.

Jika dirata-ratakan penghasilannya berkisar Rp 500.000 perbulannya.  Hal itu tentu saja tergantung dari jumlah proyek yang dikerjakan.

Sejak Maret 2020 ketika pandemi Covid-19, Roma tak lagi bekerja.

Namun, dia tetap berusaha agar keluarganya makan serta anak-anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan.

“Saya sebagai orangtua bertanggung jawab untuk masa depan anak-anak. Walaupun berutang, yang terpenting masa depan anak-anak terpenuhi dengan bekal ilmu pengetahuan. Dengan penghasilan pas-pasan, saya sebagai kepala keluarga serta istri mengatur keuangan sebaik-baiknya,” ucap Roma.

Roma menjelaskan, biaya sekolah dan asrama susteran anak-anaknya sebesar Rp 10 juta lebih per tahun.

Bersyukur biayanya bisa dicicil serta pihak sekolah dan asrama sangat memahami kondisi keluarga mereka yang serba terbatas.

“Jikalau terlambat bayar biaya uang sekolah dan asrama, saya bertemu kepala sekolah dan pihak pembina asrama. Mereka sangat mengerti dengan saya. Saya terus mencari uang untuk membiayai pendidikan anak-anak saya,” jelasnya.

Susah Sinyal
Roma menjelaskan, selain sulitnya ekonomi, tantangan lain adalah sulitnya sinyal.

Untuk itu, meski sudah memiliki ponsel, anak-anaknya harus mencari sinyal hingga ke perbukitan dengan jarak sekitar 4 km dengan mengendarai ojek. Uang sewa ojek sebesar Rp 40.000 untuk pulang pergi.

Di padang rumput mereka biasa belajar. Setelah selesai mereka kembali pulang dan mengerjakan tugas yang diberikan.

Selain biaya-biaya tersebut, juga ada biaya pulsa internet. Beli pulsa juga harus ke Kota Waelengga dengan jarak tempuh 10 kilometer.

Roma menilai belajar di sekolah lebih baik daripada belajar di rumah. Ini karena banyak beban tambahan selama belajar secara daring.

“Selama lockdown dan belajar dari rumah, biaya Rp 40.000 sewa ojek tiap hari untuk belajar online di tempat yang ada sinyal. Beli pulsa di Kota Waelengga. Naik ojek dari Kampung Gurung ke Kota Waelengga dengan biaya Rp 25.000, pergi pulang Rp 50.000,” ujar Roma.

“Untuk dua orang anak saya bayar ojek Rp 100.000; untuk beli pulsa internet, beti ulu (sakit kepala) memikirkan uang serta mengatur pengeluaran dengan pendapatan yang tak menentu. Kami sekeluarga juga dapat Program Keluarga Harapan (PKH), tapi tak cukup untuk biaya kami sekeluarga tujuh orang,” kata Roma menambahkan.

Belajar Dengan Pelita
Selain sinyal, di kampungnya juga belum dialiri listrik. Hal itu membuat anak-anak belajar dan mengerjakan tugas dengan pelita.

“Keadaan ini juga memacu anak-anak saya belajar dalam kondisi serba terbatas. Indonesia sudah usia 75 tahun, tetapi penerangan listrik belum masuk di Desa Gunung. Entah sampai kapan kondisi seperti ini,” jelasnya.

Kepsek SMAK Pancasila Borong, Hermenegildus Sanusi mengatakan, salah satu anak dari Roma mendapatkan beasiswa.

Hal ini tentu saja dapat meringankan keluarga Roma.

“Hari ini saya datang bertemu orangtuanya di Kampung Gurung untuk melihat kondisi keluarga ini dan mendengarkan kisah perjuangan untuk menyekolahkan anak-anak di masa pandemi Covid-19 ini. Saya sudah mendengarkan kisah orangtuanya,” ujar Hermenegildus.

Sumber: kompas.com

loading...
loading...