Suami di Aceh Tega Gantung Istri Muda di Bak Truk karena Minta Pisah Ranjang dan Terlilit Utang

by -813 views

Seorang pria di Aceh ditangkap polisi karena menjadi tersangka pembunuhan terhadap istrinya.

Awalnya, sang istri ditemukan tewas tergantung di bak truk milik suaminya yang terparkir di depan rumah pada Selasa (11/8/2020) pagi sekitar pukul 04.00 WIB.

Diketahui bahwa wanita yang tewas tersebut bernama Arini (35), istri muda dari M (40).

Setelah dilakukan penyelidikan selama kurang dari 24 jam, Satreskrim Polres Bener Meriah berhasil mengungkap penyebab dan motif tewasnya Arini .

Warga Dusun Karang Anyar, Kampung Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Bener Meriah tersebut tewas dibunuh oleh suami sirinya, M.

Dikutip dari Serambinews.com pada Jumat (14/8/2020), Kapolres Bener Meriah, AKBP Siswoyo Adi Wijaya SIK, melalui Kasat Reskrim, Iptu Rifki Muslim SH menjelaskan kepada wartawan, Kamis (13/8/2020) bahwa pembunuhan itu terjadi karena korban meminta pelaku mengembalikan uangnya Rp 37 juta dan dua hanphone (Hp) yang dipinjam oleh M.

Karena masalah tersebut akhirnya Arini meminta pisah ranjang dari suaminya.

Sebelum meninggal, menurut Kasat Reskrim, korban sempat berkelahi dengan suaminya karena berebut kunci truk milik M.

“Kunci truk tersebut selama ini dipegang oleh korban dan ia tidak memberikan kepada suaminya jika pelaku tak membayar utangnya. Saat M meminta kunci truk, terjadinya perkelahian antara korban dan pelaku,” ungkapnya dikutip dari Serambinews.com.

Saat perkelahian itu terjadi, sambung Iptu Rifki, salah seorang saudara M menelepon keluarga mereka.

Lalu, datanglah istri tua M berinisial MN (44) dan anaknya DP (20) untuk menjemput pelaku.

Setelah itu, mereka bertiga pergi dari rumah tersebut.

Tak terima dengan perlakuan tersebut karena menilai persoalannya belum selesai, sebut Kasat Reskrim, korban langsung mengejar pelaku.

Lalu, M dan Arini kembali lagi ke rumah itu.

Sementara MN dan DP menunggu di pinggir jalan yang jaraknya sekitar 20 meter dari rumah M.

Saat hendak menyelesaikan masalah utang itulah, M menghabisi korban.

Saat ditanya pihaknya apakah ia membunuh korban, kata Rifky, pelaku tidak mau mengaku.

“Pelaku hanya mengakui bahwa ia memukul istri keduanya tersebut. Padahal, DP (anak M) mengaku melihat ayahnya mencekik korban.

Bahkan, menurut keterangan saksi, tersangka lah yang menggantung korban di bak truk tersebut hingga seolah-olah istrinya bunuh diri,” ujar Iptu Rifky.

Berdasarkan hasil visum, tambah Kasat Reskrim, banyak ditemukan luka di mulut, tangan, dan kaki korban, serta kehabisan oksigen.

Menurut Rifki, leher korban diikat dengan jilbab oleh pelaku.

“Dugaan awal seolah-olah korban memang bunuh diri.

Tapi, setelah kita lihat ada bekas dan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya, maka kami melakukan penyelidikan sambil menunggu hasil visum.”

“Karena ada luka-luka mencurigakan, kita juga memeriksa sejumlah saksi termasuk istri pertama dan anak pelaku,” tandas Rifki.

Setelah melakukan penyelidikan, lanjut Kasat Reskrim, pihaknya menetapkan M sebagai tersangka kasus pembunuhan terhadap istri keduanya, Arini.

“Tersangka sekarang sudah kita tahan di Mapolres Bener Meriah,” ujarnya.

Sedangkan MN (44) dan DP (20), menurut Kasat Reskrim, tidak ditahan karena mereka sangat kooperatif dan membantu polisi dalam memberikan keterangan untuk mengungkap kasus yang sempat menggegerkan warga setempat.

“Selanjutnya, kita akan panggil saksi-saksi lain untuk memperlancar pengusutan kasus ini,” demikian Kasat Reskrim Polres Bener Meriah, Iptu Rifki Muslim SH.

Sebelum ditemukan meninggal, Arini (35), korban pembunuhan oleh suami keduanya M (40), ternyata menelepon anak kandungnya, Uan Maharani (17).

Uan selama ini tinggal bersama neneknya di Desa Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Arini menghubungi Uan pada Senin (10/8/2020) malam sekitar pukul 19.00 WIB atau sehari sebelum ia ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Pada malam itu, Uan bersama neneknya sedang menonton televisi di rumah.

Tiba-tiba masuk telepon dari ibunya yang tinggal di kampung Dusun Karang Anyar, Kampung Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah.

“Mama di sini nggak tahan, Mama pengen pulang, Mama di sini dipukuli dek,” ujar Uan, meniru ucapan ibunya melalui telepon.

“Saya hanya bilang ke mama, ya sudah ma, pulang ke sini. Tapi, saya tidak menanyakan lebih lanjut kapan mama pulang,” ujar Uan dengan mata berkaca-kaca saat ditanyai wartawan di RSUD Muyang Kute, Bener Meriah, Kamis (13/8/2020).

Menurut Uan, ia juga sering melihat status WhatsApp (WA) ibunya berisi kata-kata sedih seperti ada masalah.

“Saya sering melihat status WA mama, tapi tidak pernah bertanya soal status tersebut,” ungkapnya.

Uan juga mengungkapkan, ibunya tidak pernah pulang ke Medan dan terakhir kali bertemu dengan dirinya setahun lalu.

Menurut Uan, dirinya tahu berita duka itu setelah ditelepon oleh majikan tempat ibunya bekerja.

Setelah mendapat kabar tersebut, tambah Uan, ia bersama nenek, paman, dan anggota keluarga lainnya langsung berangkat ke Bener Meriah.

Setelah tiba pada Kamis (13/8/2020) sekitar pukul 07.00 WIB, mereka langsung menuju ke RSUD Muyang Kute untuk menjemput jenazah ibunya.

“Jenazah mama akan dishalatkan di sini, setelah itu baru dibawa pulang ke Medan untuk dikebumikan,” kata Uan.

Uan menjelaskan, ibunya menikah dengan tersangka pada tahun 2018 lalu.

Ibunya, sambung Uan, pergi dari Medan pada tahun 2016 setelah ayah kandungnya meninggal dunia.

Menurut paman Uan, ia tidak setuju adiknya menikah dengan tersangka.

“Kami saat itu tidak setuju mereka menikah,” ujar paman Uan.

Uan Maharani dan anggota keluarga korban berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

Sumber: tribunnewswiki.com

loading...
loading...