Situasi di Pedalaman Papua, 1 Kardus Mie Instan Dihargai Setara Dengan 2 Gram Emas

by -2,654 views

Papua diketahui masih menjadi salah satu wilayah di negara Indonesia yang tertinggal.

Baik secara pembangunan fisik, SDM hingga akses fasilitas umum, masyarakat Papua hingga kini belum mendapatkan apa yang seharusnya didapat.

Selain itu, sulitnya medan dan panjangnya rantai distribusi barang/jasa menuju dan dari Papua juga masih menjadi kendala hingga kini.

Sehingga, harga-harga komoditi di Papua bisa sangat melonjak tajam dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Misalnya, untuk membeli sebungkus mie instan pun, di Papua perlu mengeluarkan kocek yang tentunya lumayan dalam jika dibandingkan dengan warga Indonesia di daerah lain.

Harga satu dus mie instan di Korowai, Maining, Pegunungan Bintang, Kawinggon, Papua bisa mencapai Rp 1 juta.

Padahal, mie instan diketahui menjadi makanan yang mendunia, mudah dibeli dan relatih terjangkau.

Namun, di Papua harga untuk satu dus mie instan ternayta bisa senilai seharga harga dua gram emas.

“Mie instan satu karton kalau ditukar dengan emas itu, dua gram, satu karton Rp 1 juta, satu bungkus Rp 25.000,” kata salah satu pengelola Koperasi Kawe Senggaup Maining Hengki Yaluwo di Korowai, Rabu (1/7/2020) berjudul Di Pedalaman Pegunungan Bintang Papua, Beras 10 Kilogram Dijual Rp 2 Juta dan Mi Instan Ditukar Emas.

Tingginya harga bahan pangan tersebut terjadi di kawasan tambang emas tradisional di Korowai, tepatnya di Maining 33, Distrik Kawinggon, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Untuk membeli 10 kilogram beras misalnya, warga harus mengeluarkan dana setara Rp 2 juta.

“Beras 10 kilogram itu emas empat gram, kalau dibeli dengan uang, satu karung itu harganya Rp 2 juta,” kata Hengki.

Harga sembako yang lain juga terhitung tinggi. Satu ikan kaleng berukuran besar dijual seharga Rp 150.000.

Sedangkan untuk ponsel dibanderol seharga 10 gram sampai 25 gram emas. Wilayah Korowai, Kabupaten Pegunungan Bintang masuk kawasan terisolir dan tertinggal.

Kawasan Korowai diapit lima kabupaten, yakni Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yakuhimo, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digooel, dan Kabupaten Mappi.

Walapun diapit lima kabupaten, kawasan tersebut belum pernah tersentuh pembangunan.

Untuk menjangkau wilayah tersebut, warga harus menggunakan helikopter dari Kabupaten Boven Digoel.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan menggunakan long boat dari Boven Digoel selama satu hari dan berjalan kaki selama dua hari menuju kawasan tambang Korowai.

Korowai diapit lima kabupaten, yakni Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yakuhimo, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digooel, dan Kabupaten Mappi.

Ben Yarik salah satu pemilik dusun Kali Dairam Korowai di Maining 33, mengatakan, suku Korowai adalah penghuni asli kawasan itu.

“Bertahun-tahun pemerintah tidak pernah membangun Korowai, Tuhan yang memberikan hasil emas bagi kami, sehingga kami bisa menambang dan membantu kami,” kata Ben.

Ben mengatakan bahwa tambang emas tradisional adalah salah satu mata pencaharian masyarakat setempat.

Ia berharap pemerintah tak menutup penambangan tradisional itu karena kawasan tambang tradisional itu menghidupi ekonomi masyarakat sekitar.

“Kasihan ini, banyak masyarakat tidak lagi diperhatikan dan terus tertinggal. Selagi masih ada emas yang menjamin,” ujarnya.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...