Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 2)

by -910 views

Kebanyakan Ahli Tafsir terhenti dalam masalah ini ketika ingin menyingkap permasalan tentang seperti apa kesamaan puasa antara Ummat Islam dan Ummat terdahulu.

Dalam hal ini Imam Ibn Al-‘Arabi menyatakan :

ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ﻣﻘﻄﻮﻉ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﻭﺃﺻﻞ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻣﺤﺘﻤﻞ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻣﻦ ﻭﺍﻟﻘﺪﺭ ﻭﺍﻟﻜﻴﻔﻴﺔ، ﻓﻘﺪ ﻳﺤﺘﻤﻠﻬﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻭﻗﺪ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺑﻌﻀﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﺩﻭﻥ ﻏﻴﺮﻫﺎ، ﺛﻢ ﺍﺳﺘﺸﻬﺪ ﻟﻜﻞ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻻﺣﺘﻤﺎﻻﺕ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻵﺛﺎﺭ ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺍﻟﺪﺍﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ.

“Sesungguhnya bentuk Tasybih (penyerupaan antara puasa Ummat Islam dengan Ummat terdahulu) dalam Ayat Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah : 183) itu (informasinya) terbatas hanya pada konteks kewajibannya semata, akan tetapi masih ada kemungkinan juga dalam Konteks waktu, kadar dan caranya. Bisa saja kemungkinan (keserupaan) itu terjadi dalam 3 hal tersebut (waktu, kadar dan cara) semuanya atau sebagian saja. Untuk itu dalam kemungkinan kesamaan pada 3 hal tersebut masih perlu ditinjau kembali dalam Perspektif Atsar dan Hadits yang Shahih berkenaan hal tersebut.” (Tafsir Ibn Al-‘Arabi Juz 1 hal. 74)

Akan tetapi perkataan Imam Ibn Al-‘Arabi bahwasannya keserupaan puasanya hanya pada batas kewajiban saja dan masih menemui kemungkinan yang lain, maka sejatinya pendapat ini telah didahului oleh riwayat Ibnu Abbas dan Mua’adz Bin Jabal dari Generasi Sahabat serta Atho’ dan Adh-Dhohhak dari Generasi Tabi’in yang menyatakan bahwasannya:

ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺃﻭﻻ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﻣﻢ ﻗﺒﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ، ﻭﺯﺍﺩ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﻫﺬﺍ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻣﻦ ﺯﻣﺎﻥ ﻧﻮﺡ ﺇﻟﻰ ﺃﻭﻝ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺣﺘﻰ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻠﻪ ﺫﻟﻚ ﺑﺼﻴﺎﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻗﺎﻝ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻞ ﻛﺎﻥ ﻧﺴﺨﻪ ﺑﺄﻳﺎﻡ ﻣﻌﺪﻭﺩﺍﺕ ﺛﻢ ﻧﺴﺨﻪ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﺍﻟﻤﻌﺪﻭﺩﺍﺕ ﺑﺸﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻭﻣﻤﺎ ﻗﺎﻟﻮﻩ ﻫﻨﺎ ﺃﻥ ﺻﻮﻡ ﺁﺩﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻛﺎﻥ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺒﻴﺾ ﻭﺻﻮﻡ ﻣﻮﺳﻰ ﻭﻗﻮﻣﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ، ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﻣﺔ ﺻﻮﻡ ﻭﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻻ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻭﺟﻪ، ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﺎﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺻﻔﺘﻪ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺯﻣﻨﻪ.

“Puasa itu diwajibkan kepada kami (Ummat Islam) sebagaimana halnya diwajibkan kepada Ummat-Ummat sebelum kami, yaitu puasa 3 hari dalam satu bulan, sedangkan sebagian lainnya menambahkan kewajiban puasa di tanggal 10 Muharram juga.

Kemudian mereka (Ibnu Abbas, Mu’adz Bin Jabal, Atho’ & Adh-Dhohhak) berkata : “Dan kewajiban Puasa ini telah berlangsung sejak masa Nabi Nuh a.s. sampai pada Masa Islam, hingga pada akhirnya Allah menghapuskan kewajiban puasa tersebut dan menggantikannya dengan Puasa Ramadhan”.

Mu’adz Bin Jabal menambahkan: “Bahkan penghapusan puasa tersebut diganti dengan puasa pada hari-hari tertentu, yang pada akhirnya diganti dengan Puasa Ramadhan”.

Sedangkan yang mereka maksud di sini adalah sesungguhnya Puasanya Nabi Adam a.s. itu di Ayyamul Baidh (yaitu 13,14 & 15 dari penanggalan Hijriyah), sedangkan Nabi Musa a.s. adalah pada hari Asyura’ (10 Muharram). Namun pada kesimpulannya setiap Umat itu memang ada keserupaan dalam segi kewajiban berpuasa, sedangkan dalam segi waktu, jenis dan kadarnya itu tentu sangat berbeda.

Akan tetapi masih ada kemungkinan kesamaan dalam segi jenis itu sebagaimana riwayat dalam Hadits Shahih berikut ini :

“ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻤﺎ ﻗﺪﻡ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﺟﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺼﻮﻣﻮﻥ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ، ﻓﻘﺎﻝ : ﻣﺎ ﻫﺬﺍ ؟ ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻫﺬﺍ ﻳﻮﻡ ﺃﻧﺠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺃﻏﺮﻕ ﻓﻴﻪ ﻓﺮﻋﻮﻥ، ﻓﻘﺎﻝ : ﻧﺤﻦ ﺃﺣﻖ ﻣﻮﺳﻰ ﻣﻨﻜﻢ ﻓﺼﺎﻣﻪ ﻭﺃﻣﺮ ﺑﺼﻴﺎﻣﻪ ” ، ﻓﻜﺎﻥ ﻫﻮ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﺣﺘﻰ ﻧﺰﻝ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻓﻘﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ” ﻫﺬﺍ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺻﻴﺎﻣﻪ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﺻﺎﻣﻪ ﻭﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﺃﻓﻄﺮﻩ.”

“Sesungguhnya Rasulullah Saw. ketika memasuki Kota Madinah telah menemukan penduduk Madinah melakukan Puasa Asyura, kemudian beliau bertanya: “Ada apa ini?”, mereka menjawab: “Ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa a.s. dan telah menenggelamkan Fir’aun”, kemudian Rasulullah bersabda: “Kami lebih berhak kepada Nabi Musa a.s dari pada kalian”. Kemudian Rasulullah berpuasa dan memerintah mereka untuk berpuasa Asyura’. Dan Puasa Asyura’ ini menjadi suatu kewajiban sampai akhrinya turunlah (perintah diwajibkannya) Puasa Ramadhan, kemudian Rasulullah bersabda: “Ini adalah hari Asyura’ sedangkan Allah tidak mewajibkannya atas kalian, barang siapa yang ingin (silahkan) berpuasalah, bagi yang tidak ingin tidak usah berpuasa”. (HR. Imam Bukhari)

Hal yang bisa dipetik dari sini adalah memang pada keserupaan antara puasa yang ada pada ummat Islam dan ummat terdahulu adalah pada batas kewajibannya saja, bukan pada kadar, waktu dan caranya. Hal ini apabila kita mengacu pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz Bin Jabal yang menjelaskan tentang proses perubahan sholat dan puasa dalam pemberlakuan syariat Islam serta peyebab turunnya Ayat tentang Puasa, yaitu sebagai berikut :

ﻗﺎﻝ : ﺃﺣﻴﻠﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺣﻮﺍﻝ … ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ : ﺃﻣﺎ ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﺈﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪﻡ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﺠﻌﻞ ﻳﺼﻮﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻓﺼﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺷﻬﺮﺍ ﻣﻦ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﺇﻟﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻱ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻭﺻﺎﻡ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ.

Beliau (Mu’adz Bin Jabal) berkata: “Perubahan pada Sholat terjadi 3 (tiga) kali…”, Sampai pada perkatan beliau: “Adapun dalam masalah puasa, sesungguhnya Rasulullah Saw. ketika memasuki Madinah beliau berpuasa selama 3 (tiga) hari dalam satu bulan dalam rentang waktu 17 (tujuh belas) bulan, yaitu dari Bulan Rabi’ul Awwal (tahun itu) sampai pada bulan Ramadhan (tahun berikutnya), kemudian beliau berpuasa pada hari Asyura’ (10 Muharram).”

ﺛﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﺄﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ‏: ” ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮن.َ ‏‏” ( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 183 ‏) ﺣﺘﻰ ﻗﻮﻟﻪ : ‏” ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻄِﻴﻘُﻮﻧَﻪُ ﻓِﺪْﻳَﺔٌ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﻣِﺴْﻜِﻴﻦٍ” ‏

“Kemudian Allah SWT mewajibkan Puasa (Ramadhan) dengan menurunkan (perintah) : Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa kepada kalian sebagaimana telah diwajibkan pula kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Sampai pada Firman Allah: ” Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar Fidyah, yaitu memberi makan seorang Miskin”. (QS. Al-Baqarah : 184)

ﻗﺎﻝ : ﻓﻜﺎﻥ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﺻﺎﻡ، ﻭ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﺃﻃﻌﻢ ﻣﺴﻜﻴﻨﺎ ﻓﺄﺟﺰﺃ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﻪ، ﺛﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻷﺧﺮﻯ : ‏” ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥُ ﻫُﺪًﻯ ﻟِّﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺑَﻴِّﻨَﺎﺕٍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻬُﺪَﻯ ﻭَﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺎﻥِ ﻓَﻤَﻦ ﺷَﻬِﺪَ ﻣِﻨﻜُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮَ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻤْﻪُ ﻭَﻣَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺮِﻳﻀﺎً ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻌِﺪَّﺓٌ ﻣِّﻦْ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺃُﺧَﺮَ.”

Beliau berkata : “Maka orang-orang yang berpuasa ada pula yang memberi makan orang miskin sebagai ganti puasa (bagi yang telah lanjut usia yang susah baginya berpuasa begitu pula orang sakit yang tidak ada harapan sembuh-Red).

Kemudian Allah menurunkan ayat lain: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan salah). Karena itu, barang siapa di antara kalian berada di bulan itu maka berpuasalah. (Sedangkan) barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah : 185)

ﻗﺎﻝ : ﻓﺄﺛﺒﺖ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻴﺎﻣﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻘﻴﻢ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭﺭﺧﺺ ﻓﻴﻪ ﻟﻠﻤﺮﻳﺾ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ، ﻭﺛﺒﺖ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﻟﻠﻜﺒﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ، ﻓﻬﺬﺍﻥ ﺣﺎﻻﻥ.

Beliau berkata: “Kemudian Allah menetapkan (mewajibkan) Puasa bagi yang bermukim dan sehat, dan memberi keringanan bagi yang sakit dan yang bepergian. Dan telah tetap pula bagi orang yang telah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa, inilah 2 (dua) hal tersebut”.

ﺃُﺣِﻞَّ ﻟَﻜُﻢْ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺮَّﻓَﺚُ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﺴَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻫُﻦَّ ﻟِﺒَﺎﺱٌ ﻟَّﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻟِﺒَﺎﺱٌ ﻟَّﻬُﻦَّ ﻋَﻠِﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺘَﺎﻧُﻮﻥَ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻓَﺘَﺎﺏَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻔَﺎ ﻋَﻨﻜُﻢْ ﻓَﺎﻵﻥَ ﺑَﺎﺷِﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺨَﻴْﻂُ ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺨَﻴْﻂِ ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻔَﺠْﺮِ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗِﻤُّﻮﺍ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ

“Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur (senggama) dengan Istri kalian, mereka adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa diri kalian tidak mampu menahan diri, akan tetapi Dia telah menerima taubat kalian dan memaafkan kalian. Maka sekarang campurilah mereka (Istri) dan carilah apa yang telah Allah tetapkan bagi kalian. Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian (perbedaan) antara benang putih dan hitam, yaitu Fajar. Kemudian sempurnakanlah Puasa sampai (tiba) waktu malam (Maghrib)”. (QS. Al-Baqarah : 187)

ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ﺭﺍﺟﻊ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﺍﻟﺮﺑﺎﻧﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺑﺎﺏ ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz Bin Jabal, dari Kitab Fath Ar-Rabbani Pada Bab Keadaan (cara) Puasa.

Sedangkan sebagian dari kalangan Tabi’in memandang keserupaan Puasa yang ada pada Ummat Islam dan Ummat terdahulu itu dari sisi kewajibannya disertai dari sisi waktu dan kadarnya, ini menurut Asy-Sya’bi, Qotadah, Mujahid dan Hasan Al-Bashri.

Kemudian As-Siddi, Abu Al-‘Aliyah dan Ar-Rabi’ menambahkan bahwa keserupaannya itu juga pada sisi cara pelaksanaannya, yaitu mereka juga dilarang dari makan, minum dan bersetubuh.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam Tafsirnya (Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an) ketika mengomentari pendapat kalangan dari Tabi’in yaitu Asy-Sya’bi, Qotadah dll :

ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻡ ﻣﻮﺳﻰ ﻭ ﻋﻴﺴﻰ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻓﻐﻴﺮﻭﺍ، ﻭﺯﺍﺩ ﺃﺣﺒﺎﺭﻫﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻳﺎﻡ ﺛﻢ ﻣﺮﺽ ﺑﻌﺾ ﺃﺣﺒﺎﺭﻫﻢ ﻓﻨﺬﺭ ﺇﻥ ﺷﻔﺎﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳﺪ ﻓﻲ ﺻﻮﻣﻬﻢ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻳﺎﻡ ﻓﻔﻌﻞ، ﻓﺼﺎﺭ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ، ﻓﺼﻌﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮ ﻓﻨﻘﻠﻮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺑﻴﻊ، ﻭﺍﺧﺘﺎﺭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻨﺤﺎﺱ ﻭﻗﺎﻝ : ﻭﻫﻮ ﺍﻷﺷﺒﻪ ﺑﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ، ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺠﺎﻫﺪ : “ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﻣﺔ

“Bahsawannya Allah telah mewajibkan Puasa Ramadhan pada Kaumnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s., akan tetapi mereka merubahnya. Kemudian Ulama’ (Pendeta) mereka menambahkan 10 (sepuluh) hari, akan tetapi sebagian dari pendeta ada yang sakit kemudian bernadzar andai Allah menyembuhkannya maka ia akan menambahkan puasa 10 (sepuluh) hari, kemudian dia (yang sakit) menepati Nadzarnya. Maka puasanya Ummat Nasrani menjadi 50 (lima puluh) hari, sehingga puasa menjadi berat bagi mereka (terlebih) dalam cuaca panas. Kemudian pendapat ini diriwayatkan dari Ar-Rabi’, dan pendapat inilah yang dipilih oleh An-Nuhas kemudian beliau (An-Nuhas) berkata : “Inilah yang paling serupa dengan ayat (Al-Baqarah : 183)”. Mujahid juga berkata: “Allah telah mewajibkan Puasa Ramadhan kepada semua Ummat”.

Baca artikel sebelumnya: Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 1)
Baca artikel selanjutnya: Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 3 – Habis)

Sumber: fiqhmenjawab.net

Loading...
loading...
loading...