Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 1)

by

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa kepada kalian sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt. terhadap orang-orang yang beriman. Para ahli sejarah banyak yang menyebutkan permulaan diwajibkannya puasa itu sejak masa Nabi Nuh a.s. bahkan beliau termasuk orang yang pertama kali melakukan puasa di bulan Ramadhan setelah beliau keluar dari bahtera setelah sebelumnya terjadi banjir terbesar sepanjang sejarah ummat manusia. Akan tetapi pendapat yang lebih diunggulkan adalah yang diriwayatkan oleh Imam Mujahid Bin Jabir, salah satu ahli tafsir dari generasi tabi’in dan termasuk salah satu pembesar dari muridnya Ibnu Abbas r.a, yaitu:

أن الله عز وجل كتب صوم رمضان على كل أمة ومعلوم أنه كان قبل نوح عليه السلام أمم وأجيال شغلت الزمان منذ نبي الله آدم عليه السلام

“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mewajibkan puasa kepada setiap ummat, sedangkan sebagaimana diketahui bahwasannya sebelum Nabi Nuh a.s. telah ada ummat dan generasi dari masa ke masa sejak masa Nabi Adam a.s.”. (Tafsir Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an Karya Imam Al-Qurthubi Juz 2 hal. 274 cetakan Dar Al-Kitab Al-‘Arabi th. 1387 H/1967 M)

Ibadah Puasa merupakan Ibadah yang sangat khusus keutamaannya jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain karena besarnya pahala dan keutamaannya sampai-sampai ibadah puasa tersebut dinisbatkan kepada Allah langsung sebagaimana hadits qudsi berikut ini :

يقول الله تبارك وتعالى: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به

“Allah SWT berfirman: Setiap amal anak Adam itu untuk dirinya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Muslim)

Di satu sisi pbadah puasa itu lebih selamat dari terjangkit riya’, karena ibadah ini tidak begitu nampak di hadapan manusia serta menjadi rahasia di antara hamba dan Tuhannya.

Di sisi lain, ibadah puasa ini menjadi lebih istimewa jika dibandingkan dengan Ibadah yang lainnya karena di dalamnya seorang hamba harus menahan diri untuk tidak makan dan minum, mengekang diri dari godaan hawa nafsu, syahwat dan kelezatan serta anggota badan pula. Serta mengajari diri ini untuk menjadi orang yang sabar.

Dalam hal ini Rasulullah meriwayatkan sebuah hadits dari Tuhannya (Hadits Qudsi) :

ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺟﻨﺔ، ﻳﺘﺮﻙ ﺃﻱ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻃﻌﺎﻣﻪ ﻭﺷﺮﺍﺑﻪ ﻭﺷﻬﻮﺍﺗﻪ ﻣﻦ ﺃﺟﻠﻲ

“Puasa itu adalah tameng, kalian meninggalkan makanan, minuman sertasSyahwat karenaKu.” (HR. Bukhari)

Kemudian, pada bagian lainnya Rasulullah SAW juga bersabda :

 ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺒﺎﺀﺓ ﻓﻠﻴﺘﺰﻭﺝ، ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻪ ﻭﺟﺎﺀ

“Barang siapa yang mempunyai kemampuan (biaya) maka menikahlah, sedangkan yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, sebab dalam puasa itu terdapat sesuatu yang mencegah diri (dari hawa nafsu).” (HR. Bukhari)

Di dalam Puasa juga terdapat banyak manfaat lain di antaranya adalah menjernihkan pikiran dan nurani, melembutkan perasaan (sikap empati), membersihkan hati (jiwa) dari perilaku dan perangai yang jelek. Selain itu pula, puasa jika ditinjau dari ilmu kedokteran juga menyehatkan badan dan membersihkannya dari racun-racun yang mengendap di lambung. Sedangkan manfaat terbesarnya adalah seperti tersebut di awal “Agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa”, (QS. Al-Baqarah : 183)

Rasulullah Saw. bersabda:

ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺪﻉ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺰﻭﺭ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﻓﻠﻴﺲ ﻟﻠﻪ ﺣﺎﺟﺔ ﻓﻲ ﺃﻥ ﻳﺪﻉ ﻃﻌﺎﻣﻪ ﻭﺷﺮﺍﺑﻪ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan buruk (ketika puasa), maka tiada perlunya (tiada gunanya) menurut Allah ketika dia meninggalkan makan dan minum”. (HR. Bukhari)

Bagaimana Cara Puasa Ummat Terdahulu?

Puasa pada dasarnya menyimpan banyak hikmah dan maksud tertentu sebagaimana disingkap oleh Al-Qur’an dan Hadits tersebut di atas dan sekaligus menjadi landasan atas diwajibkannya Puasa sebagai bentuk Ibadah kepada Allah terhadap banyak Ummat manusia. Walaupun dalam Ayat ke 183 Surat Al-Baqarah, Allah memberikan Isyarat akan kewajiban Puasa terjadap Ummat-Ummat terdahulu, akan tetapi pada Ayat tersebut di atas tidak menjelaskan secara gamblang bagaimana cara Puasanya Ummat-Ummat terdahulu, begitu juga berapa kadar (lama) waktunya dan kapan saja mereka Wajib berpuasa. Yang diisyaratkan hanya kewajiban Puasa pada Ummat-Ummat terdahulu juga ada pada Ummat Islam.

Dalam Syariat Islam banyak hal yang merupakan hal baru yang belum ada pada Ummat-Ummat terdahulu sejak zaman Nabi Adam a.s. termasuk Syariat Puasa ini yang caranya tentu tidak serupa terlebih dalam hal pahala dan keutamaannya untuk Ummat Islam.

Kebanyakan Ahli Tafsir terhenti dalam masalah ini ketika ingin menyingkap permasalan tentang seperti apa kesamaan puasa antara Ummat Islam dan Ummat terdahulu.

Baca artikel selanjutnya: Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 2)
Baca artikel selanjutnya: Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 3 – Habis)

Sumber: fiqhmenjawab.net

Loading...
loading...
loading...