Seorang Istri Meninggal Tragis Saat Melakukan Ritual Pengasih Agar Suami Memenuhi Segala Permintaannya

by

Detik-detik pembunuhan Levie Prisilia akhirnya terungkap. Levie dibunuh di dalam mobil saat melakukan ritual pengasih.

Ia melakukan ritual agar suaminya tetap lengket dan berhasil dalam bisnis.

Tak disangka, ritual pengasil yang dilakukanLevie Prisilia justru berujung petaka. Jasad Levie ditemukan dalam kondisi mengenaskan di dalam mobilnya di Jalan A Yani Km 11,800 Aston Banua Perumahan Royal Woodpark, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Jumat (23/11).

Ditemui di rumah duka, Sabtu (24/11), Agus yang baru satu bulan bekerja sebagai sopir pribadi Levie tampak syok.

Agus mengaku, sempat melihat tampang pelaku sehari sebelum majikannya tewas.

Ketika itu sekitar pukul 16.00 Wita, dia berpapasan di pintu rumah dengan pelaku. Agus yang tinggal bersama sang istri, Mila disuruh oleh Levie untuk keluar rumah, belanja cari makan bersama anak korban.

Agus mengungkapkan, dia telah mencurigai pelaku yang terus-menerus membuntutinya di depan kompleks gapura Aston Banua.

Pelaku sebut Agus, sepertinya sudah janjian dengan Levie untuk bertemu.

Pasalnya, ketika sampai di depan rumah, pelaku juga langsung memarkirkan motornya dan langsung masuk rumah. Dia sendiri tak menaruh curiga kedatangan orang asing sore itu.

Pasalnya ketika pulang dari sebuah salon di Jalan A Yani KM 1 dan berlanjut ke salon di Duta Mall, Levie mengatakan kepada dirinya, bahwa adik angkatnya akan datang ke rumah. Dia sendiri disuruh cepat-cepat untuk sampai.

“Di sekitar Jalan A Yani Km 6, Ibu (Levie) menyuruh saya untuk cepat-cepat sampai. Karena ditunggu oleh adik angkat beliau. Begitu sampai di rumah, memang ada seorang laki-laki memakai sepeda motor dengan menggunakan jaket hitam,” ujar Agus dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Minggu (25/11).

Lantaran sang majikan menyebut pria tersebut adalah adik angkatnya, Agus sedikit pun tak menaruh curiga.

Apalagi, begitu pulang cari makan sekitar pukul 18.00 Wita, laki-laki tersebut sudah tak ada. Hanya tertinggal Levie sendiri di rumah dan suasananya seperti hari-hari biasa.

Belakangan, saking penasarannya, Mila sempat bertanya kepada Levie, siapa laki-laki yang datang sore itu ke rumah.

Namun, hanya jawaban ketus yang keluar dari mulut sang majikan dengan mengatakan, “Mau tahu saja kamu ini”.

Keanehan lain dirasakan Agus, selama ini ia tahu majikannya sangat anti bawa mobil sendiri. Selalu meminta diantar ketika keluar rumah.

Levie pun keluar sendirian pada Jumat tengah malam. Agus bersama Mila sempat was-was akan terjadi sesuatu dengan sang majikan.

Apalagi tumben-tumbennya sang majikan keluar rumah sendiri, terlebih dini hari.

Sekitar 1 jam ditinggalkan Levie, firasat akan terjadi sesuatu terhadap majikannya mulai muncul.

Agus seperti mendengar ada yang menangis di luar kamar. Begitu pula sang istri, dia turut mendengar suara tangisan dengan samar.

“Ketika itu saya sempat merinding, kenapa ada suara tangisan. Bahkan, dua ekor anjing di halaman terdengar seperti menangis juga,” ucapnya.

Perasaan tak enak hati semakin menjadi-jadi, sang majikan hingga pagi tak kunjung pulang ke rumah.

Padahal tiap pagi, sebut Agus, Levie selalu mengantar si anak sekolah. Namun, pagi itu handphone sang majikan tak aktif.

“Sekitar pukul 08.00 Wita saya bersama istri ngantar anak beliau sekolah. Padahal lewat di tempat kejadian. Namun, saya tak melihat ada mobil majikan saya terparkir tak jauh dari depan Aston Banua. Mungkin karena pagi itu jalanan padat,” tukasnya.

Dia baru tahu, sang majikan sudah tewas sekitar pukul 10.00 Wita, ketika orang kompleks ribut-ribut, menanyakan mobil sang majikan yang terparkir di pinggir jalan.

“Kami langsung ke depan kompleks. Ketika itu warga sudah penuh melihat. Kami berdua hanya bisa menyaksikan dari jauh dan membenarkan yang meninggal adalah majikan kami,” katanya.

Di mata dua pembantunya ini, Levie adalah sosok yang jauh dari kesan glamor. Ke salon siang hari sebelum kejadian itu sebut Mila, baru pertama kali di bulan ini dilakukan almarhum.

“Beliau padahal tak sering ke salon. Anehnya, sebelum kejadian dua salon didatanginya, bahkan dia sempat beli baju baru untuk ibadat Jumat di gereja,” terang Mila menambahkan.

Keyakinan mereka berdua atas meninggalnya sang majikan yang dihabisi oleh pelaku Herman, sejalan ketika dia dimintai keterangan di Polsek Gambut dan Polsek Kertak Hanyar. Ketika itu mereka berdua diperlihatkan rekaman CCTV di tempat kejadian.

“Sepeda motor dan jaketnya sama ketika pelaku datang ke rumah,” ucap Mila yakin.

Sementara itu, Kapolres Banjar AKBP Takdir Mattanete, saat konferensi pers di Polsek Gambut, Sabtu (24/11) pagi menyebut, modus pembunuhan ini bermula ketika Herman yang mengaku sebagai paranormal bisa menolong Levie.

Syaratnya, Levie harus bersedia melakukan ritual. Levie pun menyatakan kesiapannya melakukan ritual tengah malam dengan harapan Aryadi (sang suami) lebih lengket dan memenuhi segala permintaannya.

Namun saat ritual pengasih sedang berlangsung di dalam mobil, korban merasa ada yang janggal. Karena itu, dia sempat protes dan tidak menjalankan semua ritual yang diperintahkan Herman.

Ia juga sempat mengeluarkan kata-kata kasar kepada tersangka. Hal itulah yang membuat tersangka emosi. Tersangka lantas membunuh korban di dalam mobil menggunakan gunting.

“Ucapan korban membuat pelaku marah dan menusuk korban dengan menggunakan gunting dan menjerat leher korban menggunakan kain,” ujar Takdir.

Sumber: pojoksatu.id

Loading...
loading...
loading...