Selama Tiga Hari Terjadi 613 Gempa Susulan Kairatu-Ambon

by

Hingga Ahad, 29 September 2019, pukul 10.00 WIB Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  mencatat 613 kali gempa susulan pasca gempa Ambon-Kairatu bermagnitudo 6,5 pada 26 September.

Sebanyak 72 gempa susulan di antaranya terasa guncangannya oleh masyarakat.

“Hasil monitoring BMKG, frekuensi gempanya semakin mengecil, tanda aktivitasnya kian meluruh,” kata Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Berdasarkan beberapa publikasi ilmiah terkait kondisi tektonik Maluku khususnya wilayah Ambon dan Pulau Seram, kawasan itu memiliki kondisi tektonik yang kompleks.

Ada beberapa unsur tektonik di wilayah ini. “Yaitu Sesar Sorong, Sesar Buru, Sesar Tarera Aiduna, dan Seram Trough,” ujarnya.

BMKG memastikan pembangkit gempa Kairatu, Haruku, Masohi, dan Ambon berkaitan dengan aktifnya salah satu struktur sesar itu.

Karya tulis ilmiah berjudul “Tectonic evolution of North Seram Basin, Indonesia, and its control over hydrocarbon accumulation conditions” oleh Zhugang dkk pada 2016, menjadi petunjuk sumber pembangkit gempa Kairatu-Ambon.

“Ada satu struktur sesar yang diduga memiliki kaitan yaitu Jalur Sesar Mendatar Kawa,” kata Daryono.

Alasannya karena episenter gempa utama 6,5 terletak tepat di jalur sesar itu. Struktur sesar membentuk busur yang melengkung ke utara mengikuti pola busur Pulau Seram.

Jalurnya dari ujung barat Pulau Manipa, Pulau Seram, hingga Pulau Gorong di ujung timur. “Struktur sesar ini panjangnya diperkirakan sekitar 453 kilometer,”kata Daryono.

Mekanisme sesar ini adalah sesar geser mengiri. Jalur sesar mendatar ini berimpit dengan tepi selatan Pulau Seram.

Di Seram bagian barat, kata Daryono, jalur sesar ini memotong pesisir Kecamatan Kairatu Selatan. Di lokasi itu muncul gempa utama.

Secara regional, struktur Kawa Strike-Slip Fault Belt cukup panjang.

“Sehingga khusus di wilayah Kairatu, sesar ini dapat disebut sebagai segmen Sesar Kairatu,” ujar dia.

Rentetan aktivitas gempa tektonik di Kairartu, Haruku, Masohi dan Ambon yang saat ini masih terjadi, murni merupakan gempa susulan.

Lindu itu hasil kerja gaya tektonik pasca terjadinya pergeseran (deformasi) yang dahsyat untuk kembali kepada posisinya semula atau mencari posisi baru yang stabil.

Sumber: tempo.co

Loading...
loading...
loading...