Selain Bripda Miftahul Idris, Dua Bripda Ini Bunuh Diri Gara-gara Cinta, Tembak Kepala

by -710 views

Kematian Bripda Miftahul Idris, anggota Penjagaan Barang Sat Sabhara Polres Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, menambah panjang daftar anggota Polri berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) yang tewas bunuh diri.

Sebelum Bripda Miftahul Idris, setidaknya ada dua Bripda yang juga melakukan bunuh diri dengan menembak diri sendiri dengan senjata api.

Ironisnya, keduanya mengakhiri hidup gara-gara cinta.

Yang pertama adalah Bripda Ricky Ricardo, anggota Polres Mamuju, Sulawesi Barat.

Dia menembak kepalanya sendiri gara-gara lamarannya ditolak oleh keluarga pacarnya, yang juga seorang polisi, bernama Bripda Fitria Indrawati, pada 2 Desember 2015 silam.

Waktu itu, Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pudji Hartanto, bilang kalau kondisi mental Ricky diduga tidak stabil.

Namun, belakangan diketahui kalau perbedaan agama menjadi alasan mengapa orangtua Bripda Fitria tak mau menerima pinangan Bripda Ricky hingga kemudian dia menembak kepalanya sendiri.

Berselang dua tahun kemudian, tepatnya pada 9 Oktober 2017, giliran Bripda Azan Fikri, anggota unit Reskrim Polsek Sungai Lilin, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sama seperti Bripda Ricky, Azan Fikri juga menyudahi hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri dengan senjata api di dalam mobil Honda Mobilio warna hitam dengan nomor plat BG 1652 JF di Dusun VI Rusun Bening, Desa Tri Tunggal, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin.

Sebelum bunuh diri, Azan Fikri sempat menemui pacarnya yang bernama Resi Basir (waktu itu 25 tahun) dan sempat pula mengantar pacarnya itu pulang ke rumahnya di Dusun VI Rawa Bening, Kecamatan Tungkal Ilir, sekitar pukul 02.0 dinihari.

Tak jauh setelah mengantar pacarnya itulah, sekitar 30 meter, Azan Fikri menembak kepalanya sendiri.

Menurut keterangan Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat itu, Azan Fikri diduga bunuh diri karena gagal menikah dengan pacarnya itu.

Bertengkar Dengan Istri
Kapolres Selayar AKBP Temmangnganro Machmud mengklarifikasi kabar perihal kematian Bripda Miftahul Idris, yang disebut-sebut pernah bertengkar dengan sang istri sebelum bunuh diri pada Senin sore (19/10/2020).

Kepada Indozone.id melalui pesan WhatsApp, Temmangnganro bilang kalau tidak ada masalah rumah tangga yang serius antara almarhum Bripda Miftahul Idris dengan istrinya, Bripda Tenri, yang diketahui bertugas di Sat Sabhara Polrestabes Makassar.

“Istri dan suami terpisah, istri dinas di polrestabes makassar dan suami di polres kep.Selayar…tdk ada masalah rumah tangga yg berat,” kata Temmangnganro, Selasa (20/10/2020).

Namun, perihal nama lengkap istri Bripda Tenri, Temmangnganro mengaku tidak tahu dan tidak pernah bertemu, termasuk saat Indozone.id mencoba menanyakan apakah nama lengkapnya Bripda Andi Tenri Waru serta mengonfirmasi fotonya.

“Saya tdk pernah bertemu,” ujar Temmangnganro.

Bripda Miftahul Idris, anggota Penjagaan Barang Sat Sabhara Polres Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, diduga kuat bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri pada bagian dada sebelah kiri pada hari Senin (19/10/2020) sekitar pukul 17.30 WITA.

Kematian Miftahul Idris ini sangat disayangkan mengingat dia masih sangat muda, 26 tahun.

Selain masih muda, dia juga sudah punya istri seorang polwan yang diketahui bernama Bripda Tenri, bertugas di Sat Sabhara Polrestabes Makassar.

Menurut riwayat kesehatannya, Bripda Miftahul Idris pernah mengalami kecelakaan dan dirawat di RS Bhayangkara Makassar.

Dia juga diduga pernah bertengkar dengan sang istri dan punya masalah keluarga.

Namun, tidak diketahui pasti apa penyebab pertengkaran mereka, serta apakah ada kaitannya pertengkaran itu dengan dugaan bunuh diri yang dilakukannya.

Dalam pantauan Indozone.id pada Facebook Miftahul Idris, tampak polisi muda itu menatap ke arah kamera. Ia terlihat tampan dalam foto itu.

Berdasarkan laporan yang disampaikan kepada Kapolda Sulawesi Selatan yang juga ditembuskan kepada Kepala Divisi Propam Polri, diketahui bahwa Bripda Miftahul Idris diduga kuat bunuh diri pada hari Senin sore (19/10/2020) sekitar pukul 17.30 WITA.

Tembakan itu pertama kali didengar oleh Bripda Ary Aryansyah. Ary kemudian bergegas masuk ke dalam mushala tersebut dan terkejut melihat Bripda Miftahul Idris bersimbah darah.

Darah masih mengalir dari dada dirinya dan membasahi sajadah dan lantai.

Dalam fotonya yang diterima Indozone.id, Bripda Miftahul Idris tampak telentang tak bernyawa masih di atas sajadah di dalam mushala penjagaan di dalam markas Polres Selayar.

Mushala itu juga digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata penjagaan.

Setelah mengetahui hal itu, Bripda Ary kemudian memberitahu atasannya tentang apa yang dilihatnya.

Kemudian, Kasat Reskrim, KA SPKT, dan sejumlah anggota Polres Selayar melarikan Bripda Miftahul Idris ke RS KH Hayyung, namun nyawa Bripda Miftahul Idris tak tertolong.

Atas kasus ini, pihak Polres Selayar memeriksa saksi-saksi sembari mengurus jenazah almarhum.

Kapolres Selayar AKBP Temmangnganro Machmud membenarkan kematian Bripda Miftahul Idris. Dia mengaku pihaknya masih mendalami insiden tersebut.

Machmud mengatakan Bripda Miftahul Idris diduga bunuh diri karena tidak kuat menahan rasa sakit pada bagian kepalanya.

Sebab, kata dia, beberapa waktu lalu Bripda Miftahul Idris sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dan dirawat selama lima bulan di RS Bhayangkara Makassar.

“Yang bersangkutan baru saja masuk dinas tiga hari di Polres setelah lima bulan lalu dirawat di RS dan masih ada trauma di kepalanya yang sering nyeri. Diduga kuat yang bersangkutan tidak dapat menahan rasa sakitnya sehingga bertindak di luar nalar,” ungkap AKBP Machmud.

Machmud bilang kalau Miftahul Idris tidak langsung tewas usai menembak dirinya. Dia meninggal ketika dibawa ke rumah sakit.

“(Diduga korban) membongkar lemari penyimpanan senjata inventaris penjagaan Polres yaitu senjata V2 Sabhara, melukai dirinya sehingga sempat dibawa ke rumah sakit namun tidak tertolong karena tertembak di dada sebelah kiri yang tembus ke punggung,” pungkas Machmud.

Sumber: indozone.id

loading...
loading...