Sehari Nabung 20 Ribu, Penjual Kerupuk Ini Berangkat Haji

by

Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Kesungguhan itulah yang dilakukan Sri Handayani (36), warga Tubam Jawa Timur.

Keinginannya untuk bisa pergi haji terkabul meski ia hanya berprofesi sebagai penjual kerupuk.

Pergi haji bukan perkara uang. banyak orang Islam yang bergelimang harta, namun enggan berhaji.

Sebaliknya, tidak sedikit umat Islam yang punya sedikit uang, namun ternyata bisa menunaikan haji karena bersungguh-sungguh mewujudkan keinginannya itu.

Seperti yang dilakukan oleh Sri Handayani (36), warga Gang Masjid Sido Kabul, Kelurahan Panyuran, kabupaten Tuban, Jawa Timur. Tahun 2015 lalu ia menjadi salah satu calon jamaah haji.

Keberangkatan Sri Handayani ke Tanah Suci seolah begitu menampar wajah orang Islam yang kaya, namun belum pergi haji.

Betapa tidak, Sri yang hanya berprofesi sebagai penjual kerupuk bawang saja, bisa mewujudkan impiannya menjadi tamu Allah SWT.

Kerupuk Bawang
Sri sudahmenjadi penjual kerupuk bawang sejak tahun 2002 sampai sekarang ini. Orang tua dua anak ini sehari-hari bekerja keras hanya untuk menbiayai anaknya.

Anak tercinta sejak lulus SD menuntut ilmu di Pondok Pesantren Kanjeng Sepuh Gresik dan Al Muhtazam Mojokerto, Jawa Timur.

Dari sisa membiayai anaknya ditabung hingga cukup menjadi ongkos haji. Sri terdaftar sebagai calon jamaah haji (CJH) kelompok terbang (kloter) 36 asal Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Pada 6 September, pukul 03.10 WIB, ia berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Untuk mewujudkan mimpinya naik haji, setiap hari Sri mengais rezeki dengan menjual kerupuk bawang.

Dia mengakui, menabung untuk haji dilakukan amat perlahan. Meskipun yang utama adalah biaya untuk sekolah anaknya.

Mayoritas di perkampungan Sri tinggal bermata pencaharian sebagai penjual kerupuk bawang.

Setiap harinya, Sri Handayani mampu menjual 700 hingga 1000 biji kerupuk bawang, yang dia beli di pabrik pembuat kerupuk di daerah Panyuran, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Setiap harinya pukul 19.00 WIB, Sri mengambil kerupuk yang dia pesan dari pabrik untuk di bungkus setiap per-10 biji. Ia tak sendiri, Sri dibantu oleh suami tercintanya yang berprofesi sebagai petani.

Berharap Manfaat
Pada pagi pukul 06.00 WIB dari pembelian kerupuk bawang kemudian di jual di Pasar Blimbing Tuban.

“Saya kalau nabung setiap hari harus menyisihkan Rp. 20 Ribu. Setiap hari dari hasil jualan kerupuk bawang biasanya saya mendapat keuntungan sebesar Rp. 100 ribu sampai Rp. 150 Ribu,” katanya

Ibu 2 anak ini memaksakan diri menyisihkan uang dari penghasilan menjual krupuk, setidaknya Rp. 20 Ribu setiap harinya selama 10 tahun.

“Pokoknya setiap hari Rp. 20 Ribu itu wajib,” ucap Sri

Karena tekadnya yang besar, dia berhasil mengumpulkan uang. Pada 2009, dia mendaftar pemberangkatan haji ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban.

Namun, dia harus masuk dalam daftar antrean dan baru akan berangkat haji pada 2015 lalu.

Sri berharap, dengan menjalankan ibadah haji ini, dia bisa menjalankan amalan-amalan dan ilmu yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan setiba ke Tanah Air.

Sumber: jadzab.com

Loading...
loading...
loading...