Safar Bukan Bulan Sial, Ini Doa yang Bisa Diamalkan

by

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Qamariyah, setelah Muharram dan sebelum Rabiul Awwal.

Ibnu Mandzur dalam Lisânul ‘Arab seperti dikutip dari nu.or.id mengatakan bahwa nama bulan safar dipilih karena waktu itu kota Mekkah kosong ditinggal oleh penghuninya.

لِإِصْفَارِ مَكَّةَ مِنْ أَهْلِهَا إِذَا سَافَرُوا

“Karena kosongnya Makkah dari penduduknya apabila mereka bepergian.” (dalam Ibnu Mandzur, Lisânul ‘Arab, Dar el-Shâdir, Beirut, juz 4, halaman 460.)

Entah dari mana asal muasalnya, kaum jahiliyah ada yang menganggap bahwa bulan Safar adalah bulan penuh sial dan bencana. Pendapat itu pun segera diluruskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Safar,” Sabda Rasulullah seperti diriwayatkan dalam Hadis Rasulullah. Al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad (II/327).

Beberapa peristiwa penting justru dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Safar.

Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada ‘an Syahri Shafar menyebut peristiwa penting itu antara lain: menikah dengan Sayyidah Khadijah, menikahkah putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hingga mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Sayangnya meski sudah diluruskan oleh Rasulullah baik melalui sabda mau pun contoh perbuatan, masih saja ada yang percaya bahwa Safar adalah bulan sial.

Padahal jelas disebutkan dalam al-Qur’an bahwa bencana, petaka atau kesialan jika Allah SWT berkehendak tak hanya bisa terjadi di bulan safar.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Latin:
Mā aṣāba mim muṣībatin illā bi`iżnillāh, wa may yu`mim billāhi yahdi qalbah, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

Artinya:
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taghabun: 11)

Namun, jika tetap muncul kekhawatiran akan adanya kesialan di bulan bulan tertentu, termasuk bulan safar ada tuntunan doanya.

Ini seperti diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma dalam Hadis Rasulullah Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1065.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ « أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ».

Artinya:
“Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu”, beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengucapakan: “Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka” (Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu).”

Jika masih muncul kekhawatiran bahwa Safar adalah bulan sial, Rasulullah menganjurkan membaca doa:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ »

“Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka”

Artinya:
“Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu.”

Doa bulan safar bisa diamalkan jika masih ada perasaan bahwa bulan safar penuh kesialan dan bencana.

Sumber: detik.com

Loading...
loading...
loading...