Saat Sholat Sunnah Ada yang Bermakmum Sholat Wajib, Ini Hukumnya

by -1,017 views

Pertanyaan:
BIsmillah, Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika sedang Shalat Sunnah tetapi ditepuk (menjadi imam) oleh jamaah yang baru datang ?

Jawaban:
Keadaan seperti ini pernah dialami langsung oleh Rasulullah yang bisa menjadi pelajaran untuk kaum muslimin, yaitu ketika Rasulullah sedang melakukan sholat sunnah (Sholat malam) di rumah beliau,

kemudian datanglah sepupu beliau yaitu Ibnu Abbas rhadiyallahu anhu untuk menjadi makmum, sebagaimana dalam hadits yang dikabarkan oleh ibnu Abbas:

ثم قام يصلي فجئت فقمت إلى جنبه فقمت عن يساره, قال فأخذني فأقامني عن يمينه

“Kemudian beliau melakukan shalat, dan saya pun ikut shalat bersama beliau dengan berdiri di sebelah kirinya, Namun beliau memegang dan memindahkanku ke sebelah kananya” (HR. Muslim : 1279).

Sehingga dalam hal ini dibolehkan bagi siapa yang datang untuk bermakmum kepada seseorang yang sedang melaksanakan sholat secara sendiri, dan yang sedang sholat pun boleh memposisikan dirinya sebagai imam.

Namun, tentunya dalam hadits tersebut, Rasulullah dan Ibnu Abbas melakukan sholat yang sama jenisnya, yaitu sama-sama sholat sunnah,

sehingga bagaimana jika seseorang sedang melakukan sholat sunnah tiba-tiba datang orang lain yang ingin bermakmum di belakngnya padahal ia akan melakukan sholat fardhu?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin yang artinya:

“Ada yang mengatakan tidak boleh bagi seseorang yang melakukan sholat fardhu bermakmum di belakang seseorang yang melakukan sholat sunnah, karena tidak mungkin sesuatu yang derajatnya lebih tinggi berada di belakang yang derajatnya lebih rendah, sedangkan Sholat Fardhu derajatnya di atas sholat sunnah, bagaimana mungkin seseorang yang melakukan sholat sunnah menjadi imam bagi orang yang melakukan sholat fardhu. Dan Di antara para ulama ada juga yang mengatakan bolehnya seseorang yang melakukan sholat fardhu bermakmum kepada yang melakukan sholat sunnah, dan inilah pendapat yang Rajih (kuat)”. (www.binothaimeen.net/content/9074)

Beliau merajihkan pendapat yang membolehkan dengan dalil bahwa Muadz bin Jabal rhadiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika sholat Isya bersama Nabi secara berjamaah, kemudian Muadz pergi menuju kaumnya untuk mengimami kaumnya melaksanakan sholat Isya tersebut, sedangkan Muadz menjadikan sholatnya ketika menjadi imam tersebut sebagai sholat sunnah, dan Nabi tidak mengingkari hal tersebut, sehingga berbeda niat dan jenis sholatnya Muadz rhadiyallahu ‘anhu dengan sholat kaumnya. (lihat Hadits Riwayat Bukhari nomor: 5641 dan Muslim nomor: 711).

Pertanyaan serupa yaitu: “Jika seseorang sedang sholat sunnah, kemudian datang seseorang bermakmum kepadanya apakah ini dibolehkan ?”

Pernah diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin:

فأجاب فضيلته بقوله: نعم يجوز ذلك, فإذا دخل معه القادم نوى الجماعة, ولا ينبغي له أن يأبى فيحرم نفسه ويحرم الداخل ثواب الجماعة, وقد ثبت أن النبي صلي الله عليه وسلم قام يصلي من الليل وحده فجاء ابن عباس – رضي الله عنهما – فصلى معه ,وما جاز في النفل جاز في الفرض؛ لأن الأصل تساوي أحكامهما إلا بدليل يدل على الخصوصية

“Maka Syaikh menjawab: Iya hal tersebut dibolehkan, apabila seseorang sholat sunnah sendirian kemudian datang orang lain berniat sholat berjamaah maka tidak sepantasnya ia menghalangi dirinya dan orang yang datang untuk mendapatkan pahala sholat berjamaah, dan telah disebutkan bahwa suatu ketika Nabi pernah sholat malam sendirian, maka Ibnu Abbas rhadiyallahu ‘anhuma datang dan bermakmum kepada Nabi. Dan apapun yang dibolehkan pada sholat sunnah maka hal yang sama pun dibolehkan pada sholat fardhu, karena pada dasarnya adanya kesamaan hukum antara keduanya kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rosail al-Utsaimin: 15/171).

Maka, dengan demikian sebaiknya sikap kita adalah untuk mempersilahkan siapapun yang datang untuk bermakmum kepada kita tanpa menolaknya walaupun berbeda jenis antara sholat kita dengan sholat orang yang datang tersebut, sehingga kita tetap melanjutlkan sholat sunnah tersebut sampai selesai.

Wallahu A’lam.

Sumber: konsultasisyariah.com

Loading...
loading...
loading...