Risma Diingatkan Jangan Guyonan Lagi, Corona di Surabaya Berpotensi Jadi Wuhan

by -13,809 views

Penularan virus corona dan Covid-19 di Surabaya, Jawa Timur, sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak bisa dianggap sepele karena itu adalah masalah yang sangat besar.

Karena itu, sebagai seorang pejabat publik, tidak semestinya membuat pernyataan sembarangan bahkan sampai berkelakar.

Terlebih, saat ini rakyat tengah dalam kondisi penuh kekhawatiran akibat virus asal Kota Wuhan, China itu.

Demikian disampaikan analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun kepada RMOL, Jumat (29/5/2020).

Hal itu menanggapi kekhawatiran Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi.

Joni menyatakan, tingkat penularan corona di wilayah Surabaya Raya berpotensi seperti Kota Wuhan yang menjadi asal virus tersebut.

Tingkat penularan atau rate transmission di Surabaya yang mencapai angka 1.6.

Artinya, ketika ada 10 orang terinfeksi Covid-19 dalam satu minggu kini bertambah menjadi 16 orang.

Angka tersebut, tegas Ubedilah, sudah termasuk dalam kategori berbahaya.

“Kasus kumulatif virus corona di Provinsi Jawa Timur juga telah menembus angka 4.112 pasien. Sejumlah 548 pasien di antaranya sembuh dan 337 pasien lainnya meninggal dunia,” ujarnya.

Atas alasan itu, dia meminta kepala daerah tidak lagi menganggap masalah ini sepele.

Ubedilah tidak ingin ada lagi kelakar seperti yang pernah dilontarkan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di awal sebaran corona.

Kala itu, dengan enteng Risma menanggapi peringatan bahwa wilayahnya masuk zona merah.

Risma menyebut Surabaya memang zona merah, hal itu mengacu pada kemenangan PDIP selama bertahun-tahun di wilayah tersebut.

Dalam situasi yang makin membahayakan itu, sambungnya, sebaiknya respon elit lokal seperti Walikota Surabaya mesti ekstra hati-hati.

“Hindari narasi yang bernada kelakar atau menyepelekan,” tegasnya.

Ubedilah menilai, kelakar yang disampaikan Risma pada pertengahan Maret lalu itu terlalu berlebihan dan terlalu politis di tengah pandemik Covid-19.

“Jadi soal zona merah Surabaya dikelakari sebagai zona PDIP itu juga kelakar yang berlebihan, terlalu politis, dan tidak etis di tengah warga Surabaya yang sedang menghadapi situasi sulit,” pungkas Ubedilah.

Sumber: pojoksatu.id

loading...
loading...