Renungan Menyentuh, Bekal Menjelang Kematian

by -16,752 views

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang berlainan namun keduanya merupakan pasangan. Dan keduanya walau berlainan namun tak dapat dipisahkan. Ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada  atasan ada bawahan, ada kaya ada miskin, ada suka ada duka, ada hidup ada mati.

Begitulah, jika sesuatu dikatakan hidup pasti tak akan lepas dari yang namanya mati. Artinya, semua yang hidup pasti mati. Karena hal tersebut telah dinash oleh Allah, “kullu nafsin dzaiqotul maut” setiap yang bernyawa akan merasakan mati.

Segala jenis makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, jin dan malaikat semuanya akan mengalami kematian. Termasuk malaikat pencabut nyawa sendiri juga akan merasakan kematian.

Hadirin wal hadirot yang dimulyakan Allah

Tidak ada yang mengetahui kematian seseorang atau diri sendiri. Karena hal tersebut adalah rahasia Allah. Jikalau kematian datang menjemput, kita juga tidak bisa mengadakan negoisasi dengan malaikat Izroil. Kita tidak bisa merayu malaikat untuk mengundur waktu kematian sedetik pun. Sebab, Allah telah berfirman:

… إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

… Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus:49)

Apabila ajal telah datang, kita tidak bisa mengakhirkan (mengundur, tawar menawar dengan malaikat) waktu sesaat dan juga tidak bisa mengajukan. Oleh karena itu, bagi kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah menghirup udara segar ini harus mempersiapkan diri. Apa yang harus kita persiapkan? Tentu saja bekal yang cukup.

Karena hidup ini ibarat kita berkelana. Dan tujuan kita adalah akherat. Untuk menuju ke tempat tujuan kita tentunya kita harus membawa bekal. Sebagaimana perkataan ulama:

Man dakhola qobron bila zaadin faka’annama rokiba albahro bila safinatin Artinya:

“Barangsiapa yang masuk kubur tanpa bekal, ibarat menyeberangi sungai tanpa kapal.”

Hadirin wal hadirot yang berbahagia

Bekal apa yang baiknya kita bawa? Sebagaimana pesan Nabi Muhammad Saw. Bekalnya ada 3.

Pertama, Shodaqoh Jariyah. Kita menafkahkan harta di jalan Allah, kita sedekah ke masjid, membiayai anak-anak yatim, infak untuk pembangunan sekolah guna mencerdaskan umat, itulah bekal kita.

Selain itu, efek dari sedekah ini sangat luar biasa. Allah melipatgandakan pahala sedekah saampai tujuh ratus kali lipat. Bayangkan jika kita sedekah uang Rp. 1000 dikalikan 700 maka pahalanya disisi Allah adalah 700.000, tujuh ratus ribu. Itu kalau dikalkulasi.

Tapi pahala adalah rahasia Allah. Makanya, milyader-milyader dunia semacam Bill Gate, Donald Trump mempunyai hobi menyedekahkan sebagian hartanya untuk kemanusiaan. Dan itu tidak mengurangi kekayaan mereka. Malah bertambah dengan bukti mereka masih menjadi manusia tertajir di dunia ini.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Jika orang yang meninggal itu tidak memiliki cukup harta selama hidupnya dan lantas kurang memiliki sodaqoh jariyah, maka ia bisa memperoleh pahala dari ilmunya. Ilmu yang memberi manfaat kepada orang banyak. Lantas, apa ilmu hanya sebatas ilmu agama saja? Tidak.

Karena ilmu agama pun bisa menyesatkan bila diajarkan dengan pemahaman yang keliru. Bisa kita lihat aksi bom bunuh diri akibat pengajaran ilmu agama yang keliru. Ilmu-ilmu yang ada di dunia ini adalah ilmu Allah. Ilmu yang bisa memberi manfaat kepada orang lain itulah yang baik.

Seumpama kita memiliki ilmu komputer, kemudian kita ajarkan kepada orang lain dan kemudian orang lain tersebut bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya menggunakan ilmu komputer yang telah kita ajarkan berrati ilmu kita telah bermanfaat bagi orang tersebut.

Ketiga, anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Doa anak sholeh ini bakal terus mengalir buat orangtua yang sedang  di’tahan’ oleh Allah di alam barzakh.

Oleh karena itu, kewajiban kita sebagai orangtua tentunya agar mendidik putra-putri kita supaya menjadi anak yang sholeh yang mau mendoakan orangtuanya tatkala orangtuanya masih hidup ataupun sudah meninggal.

Hadirin wal hadirot jamaah tarawih yang berbahagia

Ketiga hal yang disebut Nabi bakal bisa tetap mengalirkan pahala kepada orang yang sudah mati itu memang sangat logis, masuk akal. Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh itu adalah investasi manusia semasa hidupnya.

Ibaratnya kita keluar modal untuk sebuah perusahaan dan perusahaan itu untung, maka kita tentu saja mendapat keuntungan meskipun kita tidak ikut mengendalikan perusahaan tersebut. Sama dengan orang yang berada di alam kubur atau alam barzakh.

Meskipun ia telah pasif, tidak bisa beraktifitas lagi, akan tetapi investasi-investasi yang telah ia tanam semasa hidupnya akan tetap mengalir. Ketika masjid yang ia bangun masih digunakan untuk aktifitas ibadah umat, maka selama itu pula pahalanya akan tetap mengalir sebagai catatan kebaikan.

Jika ilmu yang ia ajarkan membawa manfaat kepada orang banyak, maka pahala atas ilmunya juga akan mengalir menambah amal baiknya. Demikian pula, jika anaknya yang sholeh itu berbuat baik, maka hal tersebut adalah hasil jerih payahnya mendidik sang anak. Pahalanya akan tetap mengalir.

Hadirin wal hadirot rahimakumullah

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Tak ada yang mampu mengabadikan hiidup manusia selain peninggalannya. Maka tak heran jika Rasulullah Saw pernah bersabda, “Manusia yang paling baik adalah manusia yang peling bermanfaat bagi lingkungannya.”

Sekarang masalahnya adalah seringkali manusia lupa bahwa sesungguhnya hidup ini adalah untuk mati. Tak kurang dan tak lebih. Kehidupan dunia dengan segala pernak-perniknya telah membuat manusia gila dan terlena.

Manusia tak ada bedanya dengan laron-laron dimusim hujan yang keluar dari tanah dan mengejar cahaya. Kian dekat dunia digapai, kian besar bahaya dituai. Terangnya sinar lampu dunia telah membuat manusia gelap mata bahwa semakin dekat manusia dengan sumber cahaya, semakin tinggi pula suhu dan panasnya.

Dan manusia bisa terbakar didalamnya dengan sia-sia. Seorang muslim selayaknya jika siang ia seperti singa yang mencari buruannya. Tapi, jika datang senja, ia menjadi rahib yang merintih meminta ampun kepada Tuhannya.

Kiranya cukup sekian. Kurang lebihnya mohon maaf semoga kita bisa mengambil manfaatnya.

Sumber: iwanhafidz.com

loading...
loading...