Ratusan Warga Amerika Protes Kekerasan Muslim di India

by -538 views

Ratusan warga Amerika Serikat (AS) keturunan India berdemonstrasi di depan konsulat India yang berada di sejumlah kota besar AS, Jumat malam (28/2). Mereka memprotes aksi kekerasan yang terjadi baru-baru ini di Delhi yang menewaskan sedikitnya 42 orang dan melukai ratusan lainnya.

Di luar konsulat India di New York pada Jumat malam, pengunjuk rasa berkumpul dan meneriakkan “Shame! (Memalukan!)” kepada petugas yang keluar-masuk gedung konsulat.

“Kami lelah,” kata Sana Qutubuddin, seorang aktivis dari Alliance for Justice and Accountability, saat berorasi.

Aliansi ini adalah pihak yang berupaya mengorganisir massa pada Jumat malam itu bersama Dewan Muslim Amerika India, Inisiatif Solidaritas Asia Selatan, dan Labs Equality.

Organisasi masyarakat sipil lainnya seperti Alliance for South Asians Taking Action, Chicago Against Hindu Fascism dan Bay Area Against Hindu Fascism juga memprotes kekerasan terburuk di Delhi sejak 1984 itu. Pada 1984 kekerasan menewaskan 3.000 minoritas Sikh di era kepemimpinan Perdana Menteri Indira Gandhi.

“Saya berada di sana untuk ikut serta berduka dengan sebuah komunitas yang memahami betapa mengerikan kekerasan genosida yang terjadi di Delhi,” kata Qutubuddin kepada Aljazirah menceritakan kehadirannya pada aksi di depan kantor konsulat itu. “Dan berada di ruang yang mengakui apa arti momen ini dalam sejarah India modern,” ujarnya.

Panitia memperkirakan hampir 300 orang muncul di rapat umum New York di mana mereka meneriakkan slogan-slogan untuk mencabut Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA), dan menyoroti ideologi “fasis” pemerintah Partai Bharatiya Janata (BJP) saat ini yang menargetkan Hindu berkasta rendah dan minoritas agama lain.

Akar ideologis BJP adalah Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) – organisasi supremasi paramiliter Hindu yang diilhami oleh fasis dan Nazi Eropa – yang menyerukan India, negara sekuler resmi, agar dinyatakan sebagai Hindu Rashtra atau negara Hindu.

Pada aksi di New York, para pengunjuk rasa memainkan musik dan mengadakan aksi di sekitar blok konsulat untuk memberi tahu para tetangga konsulat bahwa kebisuan mereka membuat mereka ikut serta melakukan genosida. Bagi banyak orang India-Amerika, muncul di protes adalah yang mereka rasa bisa mereka lakukan.

“Saya tumbuh dalam ide idilis India sekuler dan saya benar-benar hancur melihat semua yang saya pikir akan terjadi di India terjadi di bawah pemerintahan Modi,” kata Ishita Srivastava yang telah tinggal di New York selama 12 tahun itu kepada Aljazirah.

“Berada di sini adalah semua yang bisa saya lakukan. Saya pikir itu (aksi kekerasan di India) adalah kefanatikan yang sangat sistematis dan didukung oleh negara yang mendukung kekerasan dan jelas ada keinginan untuk perpecahan dan kefanatikan dan ini diperburuk oleh fakta bahwa kita memiliki masyarakat yang tidak setara,” ujarnya.

Aksi protes ini berlangsung mulai dari San Francisco, Chicago hingga Atlanta. Pihak penyelenggara menyebut mereka adalah kelompok multi-agama dan/atau antar-agama dan antarkasta kolektif.

Sebelumnya, kekerasan meletus di ibu kota India, Delhi, pada hari Senin (24/2). Amukan terjadi selama tiga hari. Massa dari kelompok Hindu menyerang rumah, toko, dan masjid Muslim. Sebanyak 42 orang tewas dan ratusan luka-luka.

Serangan itu dilakukan terhadap para pengunjuk rasa yang menentang undang-undang kewarganegaraan baru. Aksi demonstrasi damai itu jadi target sasaran usai pemimpin Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa, Kapil Mishra mengancam aksi damai itu akan dibubarkan dari jalan-jalan di India

Pemerintah nasionalis Hindu India yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA) dimaksudkan untuk membantu minoritas yang dianiaya dari negara-negara tetangga. Tapi, para kritikus mengatakan undang-undang itu, yang menjadikan agama sebagai dasar pemberian kewarganegaraan, bertentangan dengan etos sekuler negara India.

CAA yang disahkan Desember lalu telah dibandingkan dengan larangan Muslim Presiden AS Donald Trump. Sebab, CAA memblokir pengajuan kewarganegaraan bagi Muslim. Padahal, warga Muslim di sana mencapai 15 persen dari 1,3 miliar populasi India.

Selama aksi damai nasional melawan hukum anti-Mulim itu berlangsung, setidaknya 30 orang juga dilaporkan tewas lantaran kekerasan aparat kepolisian.

Sumber: republika.co.id

loading...
loading...