Ragu Apakah Peralatan Makan Disentuh Anjing Atau Tidak, Haruskah Disucikann?

by -1,312 views

Pertanyaan:

Saya seorang pedagang baso keliling. Suatu ketika ada pembeli saya yang punya anjing dan dia makan baso ditemani anjingnya di teras rumah. Dia memberi bakso ke anjingnya, kemudian dia melanjutkan makan bakso lagi.

Karena saya tidak melihat langsung, saya jadi was-was apakah dia memberi anjing dengan disuapi langsung atau dijatuhkan ke tanah dulu baksonya lalu anjingnya memakan bakso tersebut.

Tapi masa iya kalau habis buat nyuapin anjing kemudian sendok itu dibuat melanjutkan makan bakso kembali.

  1. Apakah saya perlu mencuci sendok dan mangkuk bakso saya sebanyak 7 kali dan 1 kali pake air+tanah?
  2. Apakah saya perlu mencuci peralatan bakso saya, karena saat aku ambil mangkuk dari pembeli tersebut secara otomatis saya juga memegang mangkuk itu?
  3. Saya belum bersuci saat pegang gerobak saya karena dalam keadaan tidak ada alat untk bersuci.

Mohon jawabanya

Wassalam

Yudhi Laziale, Klaten Jawa Tengah

Jawaban:

Sebagaimana apa yang di sampaikan di atas, bahwa bapak merasa was-was apakah dia memberi anjing dengan disauapi langsung atau dijatuhkan ke tanah.
Perlu diketahui bahwa Dalam masalah najis, syariah Islam sebenarnya sangat mudah dan fleksibel. Yaitu, bahwa sesuatu benda itu dianggap najis apabila jelas terkena perkara yang najis. Suatu benda suci tetap suci apabila hanya diperkirakan najis. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih (اليقين لا يزول بالشك) Artinya, keyakinan tidak hilang oleh keraguan.

Pengertiannya bahwa status sesuatu itu dihukumi seperti asalnya sampai diyakini terjadi sebaliknya. Dalam kasus bapak, maka karena sendok bapak itu asalnya suci, maka hukumnya tetap suci walaupun bapak “mengira” ada kemungkinan terkena najis. Jadi, kemungkinan itu tidak dapat mengalahkan keyakinan asal yaitu sucinya benda-benda yang bapak miliki.

Contoh lain: Anda yakin sudah berwudhu. Beberapa menit kemudian Anda ragu-ragu apakah kentut apa tidak? Maka, keraguan tersebut tidak dianggap dan Anda dianggap tetap suci. Dalam Islam, air di bejana milik non muslim hukumnya suci dan dapat dipakai berwudhu kecuali apabila jelas tercampur najis.

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata:

أن عمر بن الخطاب توضأ من ماء نصرانية في جرة نصرانية وَلَا بَأْسَ بِالْوُضُوءِ من مَاءِ الْمُشْرِكِ وَبِفَضْلِ وُضُوئِهِ ما لم يَعْلَمْ فيه نَجَاسَةً لِأَنَّ لِلْمَاءِ طَهَارَةً عِنْدَ من كان وَحَيْثُ كان حتى تُعْلَمَ نَجَاسَةٌ خَالَطَتْهُ

… bahwa Umar bin Khattab pernah berwudhu dari air orang Nasrani dalam bejana milik orang Nasrani. Boleh berwudhu dari air orang musyrik (kafir/nonmuslim) dan dari kelebihan wudhunya selagi tidak diketahui ada najis. Karena air itu suci di tangan siapapun dan dalam keadaan apapun kecuali diketahui ada tercampur najis.

KESIMPULAN:
Suatu benda suci menjadi najis apabila jelas/yakin terkena najis. Maksud “jelas” adalah ada bukti najis di benda tersebut atau kita atau teman melihat ada najis yang mengenai benda itu.

Apabila jelas melihat sendok itu dijilat anjing, maka cukup sendok yang dijilat anjing itu saja yang harus disucikan.

والله اعلم بنفس الأمر وحقيقة الحال

Dijawab Oleh:

Syahrul Anam
Alumni Pondok Pesantren Mamabaul Ulum Bata-Bata Pemkasan, Madura dan aktif di Majelis Musyawarah Kutubuddiniyah (M2KD). Sekarang mengajar di Pondok Pesantren Al-Kholil Kabupaten Berau Kalimantan Timur, dan menjadi Kepala Sekolah MTs Al-Kholil Sambaliung Berau.

loading...
loading...