Produk Fashion Dari Kulit Kucing Marak di China, Aktivis Hewan Angkat Bicara

by

Bagi masyarakat Indonesia kucing dianggap sebagai hewan peliharaan lucu dan menggemaskan.

Namun, di China permintaan daging dan bulu dari hewan berkaki empat ini terus berkembang dengan pesat.

Mereka mengonsumsi daging dan mengubah bulu mamalia ini menjadi aneka jaket dan sepatu yang indah.

Perdagangan kucing secara besar-besaran ini mengundang perhatian dari para aktivis untuk berkampanye.

Mereka menuntut para oknum menghentikan penjualan daging dan bulu kucing di China pada 1 Desember 2019.

Selain karena kasihan, para aktivis ini juga menentang kekejaman terhadap binatang.

Menurut salah satu organisasi perdagangan, sebagian besar kucing yang ditangkap dan diperjualbelikan merupakan hewan liar.

Kucing-kucing tersebut tidak pernah dimusnahkan ataupun dikebiri sehingga terus bereproduksi dengan sangat cepat hingga mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Meski demikian beberapa orang diduga mengambil kucing-kucing peliharaan yang membuat pemiliknya kebingungan dalam mencarinya.

Tentunya akan sangat tragis jika sang pemilik mengetahui bahwa hewan kesayangannya justru berakhir dengan kondisi yang sangat menyedihkan.

“Kucing-kucing tersebut dijual kepada tukang daging sebelum direbus secara hidup-hidup. Mereka akan menguliti kulit kucing tersebut dan mengubahnya menjadi sepatu, sarung tangan, dompet dan benda lain-lain. Produk tersebut dijual di toko sebagai barang yang berasal dari kulit,” tulis salah seorang aktivis dalam unggahannya di akun Facebook.

Seperti diketahui menjual bulu kucing dan anjing adalah sebuah tindakan ilegal di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Uni Eropa.

Namun kulit-kulit kucing ini berhasil masuk tanpa spesifikasi yang jelas.

Postingan yang diunggah pada pekan lalu berhasil menjadi viral dan telah dibagikan lebih dari 83 ribu kali dan mendapatkan 19 ribu komentar.

“Peristiwa ini telah menghancurkan hati saya menjadi berkeping-keping. Saya menangis,” tulis salah satu pengguna Facebook.

Sementara netizen lainnya menulis: “Bagaimana orang bisa melakukan hal tersebut?”

Meskipun mengonsumsi daging kucing dan anjing adalah hal yang legal di China.

Namun mengonsumsi hewan berbulu ini adalah biasanya dilakukan oleh kaum minoritas yang jauh dari budaya utama. Pada 2017 media sosial China bereaksi setelah seorang pria ketahuan mengangkut sekira 500 ekor kucing.

Beberapa di antaranya adalah hewan peliharaan yang dicuri di dalam kandang kecil.

Kucing-kucing tersebut akan dijual ke restoran untuk dikonsumsi. Survei lokal pada tahun yang sama menemukan bahwa 13 persen penduduk di Yulin (Tempan festival anjing tahunan terkenal di China) tidak pernah mengonsumsi anjing.

Sementara 59 persen lainnya diketahui jarang mengonsumsi hewan tersebut.

“Yang benar adalah anjing dan kucing bukanlan bagian dari kuliner utama di China bahkan di Yulin yang menjadi rumah dari festival daging anjing. Festival daging anjing adalah aib nasional yang mencoreng nama kota di seluruh dunia. Sekarang adalah waktu untuk mengakhirinya,” terang Spesialis Kebijakan China untuk Humane Society International, Peter Li.

Sumber: okezone.com

Loading...
loading...
loading...