Pria Tua Hidup di Pengasingan Karena Takut Penyakitnya Menular, 10 Tahun Baru Tahu Semua Itu Percuma

by -1,731 views

Pria tua asal Thailand rela hidup terisolasi dari keluarga dan orang terdekatnya karena ia menderita penyakit kulit langka.

Ia takut penyakitnya itu menular ke orang-orang yang dicintainya. Setelah hidup sendiri selama 10 tahun, ia kini baru mengetahui bahwa kesendiriannya itu sia-sia saja.

Seperti yang dilansir Metro UK, Charat Rakmuen (72) mengalami luka yang menyakitkan sejak awal usia 60 tahun.

1. Hidup Sendiri di Hutan
Ia kemudian mulai bersembunyi di hutan kecil di Trang, Thailand bagian selatan. Charat takut penyakit kulitnya menular ke orang-orang di sekitarnya.

Memutuskan hidup sendirian, ia tak banyak berkomunikasi dengan orang lain.

Ia hanya bertemu dengan istrinya sesekali saat istrinya mengirimkan makanan dan obat untuknya.

Namun ternyata, setelah sekitar 10 tahun berlalu, diketahui penyakit yang diderita Charat rupanya tidak menular.

2. Penjelasan Medis
Pemerintah setempat mendatangi Charat akhir November lalu setelah mendengar kabar penderitaan Charat bertahun-tahun.

Mereka datang dengan membawa petugas medis. Petugas medis kemudian memeriksa Charat.

Charat didiagnosis menderita Pemphigus Foliaceus, yang ternyata tidak menular.

3. Takut Menulari Keluarga
Dokter Thiwaporn Srichanthong berkata sebenarnya Charat tak perlu tinggal di pengasingan selama bertahun-tahun.

Thiwaporn berkata satu-satunya cara untuk menangani penyakit luka autoimun adalah dengan penanganan topikal konstan dari medis.

Charat berkata kondisinya dimulai dari bisul yang kecil. Tetapi kemudian bisul itu dengan mudah menyebar ke seluruh tubuh.

Charat tidak mampu membayar biaya rumah sakit karena setelah terkena penyakit itu, Charat berhenti bekerja.

Charat menjelaskan ia jarang periksa ke dokter atau membeli obat karena ia tak punya penghasilan lagi.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh saya tapi saya khawatir penyakit ini akan menulari istri dan warga desa lain, jadi saya tinggal terpisah di gubuk kecil ini,” ucapnya.

4. Istri jadi Tulang Punggung Keluarga
Sementara itu istri Charat, Pha Rakmuean (59) berkata ia harus bekerja menjadi tulang punggung keluarga.

Akan tetapi pendapatnya tak lebih dari 200 baht (Rp 92 ribu) per hari.

Jumlah itu sangat pas-pasan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga.

Pha Rakmuean berkata ia harus meninggalkan suaminya sendirian karena khawatir tertular.

Pha berkata: “Saya bekerja sebagai penyadap karet yang meraih pendapatan rata-rata 200 baht (Rp 92 ribu) per hari.”

“Saya sulit memenuhi kebutuhan karena ia butuh obat pereda nyeri setiap hari.”

“Keluarga ingin menolongnya tapi ia tetap yakin ingin tinggal terpisah karena takut penyakitnya menular.”

Kini, belum diketahui apakah Charat berencana pindah dari gubuknya dan berapa besar penanganan medis yang dibutuhkannya nanti.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...