Potret Keluarga Miskin Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah, Sampai Jual Gelas & Mangkok Buat Beli Beras: ‘Saya Pernah Berpikir Untuk Bunuh Diri’

by -2,195 views

Di tengah masa penggelontoran bantuan sosial dari pemerintah, juga kucuran bantuan kemanusiaan di tengah masa pandemi Virus Corona, rupanya tetap ada saja warga yang luput dari aneka bantuan tersebut.

Seperti yang dialami oleh Ny Triyata (47) atau yang disebut Bu Bambang di lingkungan rumahnya.

Triyata adalah satu contoh dari warga di kawasan perkotaan Jember yang tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Pun, dengan bantuan dari dermawan di tengah masa pandemi Virus Corona ini.

Di luar masa pandemi Virus Corona, perempuan yang tinggal di Jl Letjen Sutoyo RT 03 RW 33 Lingkungan Kebon Indah Kelurahan Kebonsari Kecamatan Sumbersari, itu tidak tersentuh bantuan sosial dari pemerintah.

Padahal, perempuan ini termasuk warga miskin. Dia tidak termasuk sebagai penerima Bantuan Pangan Nont Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), juga bantuan sosial kesehatan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS).

SURYAMALANG.COM mendatangi rumah Triyata pada Kamis (23/4/2020).

Perempuan itu hidup bersama tiga orang anaknya di sebuah rumah kontrakan sederhana, atap plafon rumahnya sudah jebol.

Perempuan itu tidak lagi bisa bekerja karena terserang stroke setahun terakhir. Sebelumnya dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sedangkan tiga anaknya tidak bisa banyak membantu. Anak pertamanya difabel. Satu matanya buta setelah mengalami kecelakaan saat bekerja setahun lalu.

Kini hanya satu matanya yang bisa melihat. Sedangkan anak keduanya hanya bekerja sebagai tukang tambal ban.

“Itu pun ikut orang, dan hanya bekerja jika dipanggil,” imbuh Triyata.

Sementara anak bungsunya, perempuan masih duduk di bangkus kelas 2 SMP.

Suaminya bekerja di Pulau Kalimantan dan hanya mengirimkan uang Rp 500.000 per bulan. Uang itu hanya dipakai untuk biaya sekolah anak bungsu.

“Kalau untuk makan dan lain-lain, saya nyari sendiri. Dulu ketika saya masih jadi pembantu, saya punya penghasilan.”

“Bahkan ketika stroke, saya sempat masih kerja. Meskipun beberapa bulan ini sudah tidak bekerja,” kata Triyata.

Triyata masih bisa berjalan meskipun pelan, dengan cara berbicara yang tersendat karena serangan stroke tersebut.

Di sisi lain, dia harus melunasi utangnya kepada sejumlah ‘bank tithil’ atau koperasi simpan pinjam yang menerapkan pembayaran setiap minggu.

Triyata mengaku terpaksa meminjam utang di ‘bank tithil’ itu karena untuk kebutuhan hidup, membiayai biaya kontrol mata sang anak, juga melunasi cicilan kredit milik anaknya di sebuah bank.

Beberapa bulan terakhir hidupnya semakin susah. Karenanya, dia tidak membayar iuran BPJS Kesehatan mandirinya.

“Tidak punya uang. Untuk makan saja susah. Tidak pernah dapat bantuan. KIS tidak ada. Dulu pernah didata di kelurahan, tetapi tidak dapat apa-apa sampai sekarang,” lanjutnya.

Sebelumnya, Triyata memilih menjadi peserta BPJS Kesehatan secara mandiri. Dia menuturkan, tiga tahun silam dia pernah mendapatkan jatah beras miskin.

Dia mengaku mendapatkan tiga kali, masing-masing 2,5 Kg setiap kali dapat selama tiga kali tersebut.

Setelahnya, dia tidak pernah mendapatkan bantuan sosial apapun dari pemerintah.

“Mendapatkan BPNT, PKH, dan KIS?,” tanya Surya. “Tidak punya. Tidak pernah dikasih,” katanya.

Belakangan ini, dua pekan terakhir dia harus menyambung hidup dengan menjual barang miliknya. Dia menjual mangkok dan gelas beberapa hari lalu kepada tetangganya.

Barang itu laku Rp 30.000 yang kemudian dia belikan beras. Dia juga menjual perabotan yang lain, meskipun nilainya tidak seberapa.

Triyata tidak peduli. Dia hanya berpikiran untuk bisa mendapatkan uang, dan bisa makan.

Bahkan beberapa hari terakhir, untuk sarapan, dia memasak biji kluwih yang oleh warga setempat disebutnya kolor.

Biji kluwih itu digodok, dan sebagai pengganti sarapan. Barulah siang harinya, keluarga itu makan nasi. Terkadang mereka dikasih makan, juga lauk dari tetangga.

“Dua hari sarapan isi kolor. Alhamdulillah, ini dikasih beras. Tadi juga ada orang tua yang tidak saya kenal, ngasih saya uang Rp 20.000. Bisa beli isi ulang gas,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Triyata hanya berharap, dirinya bisa terlepas dari jeratan utang ‘bank thitil’. Dirinya masih memiliki tanggungan sebesar Rp 7,8 juta.

Dia berjanji, jika bisa terlepas dari jeratan ‘bank tihtil’ itu, dia tidak akan ngutang lagi ke mereka.

Selain itu, dia juga ingin mendapatkan bantuan peralatan tambal ban untuk anak keduanya.

Jika anaknya bisa membuka sendiri usaha tambal ban, dia yakin akan ada pemasukan untuk keluarga itu meskipun hanya Rp 20.000 per hari.

Penghasilan itu diharapkannya bisa menyambung hidup.

“Itu impian saya. Saya sampai pernah berpikir untuk bunuh diri. Tapi sama tetangga, saya dimarahi. Dosa.”

“Saya berharap ada bantuan, terutama kompresor dan alat tambal ban untuk anak saya,” pungkasnya.

Triyata tidak mau berharap banyak dari tetangganya, karena beberapa orang tetangganya juga tidak mampu.

Rumah yang ditempati Triyata adalah rumah kontrakan sederhana, dan mulai rusak di beberapa bagian.

Rumah kontrakan itu, dikontrak keluarga itu sampai tiga tahun mendatang.

Sumber: intisari.grid.id

loading...
loading...