Pinjam Uang Lewat Aplikasi, Wanita Ini Merasa Dibuat Seperti Penjahat Hingga Dipecat Dari Pekerajaannya

by

Seorang peminjam uang pada perusahaan financial technology (fintech) berbasis aplikasi Android, Rina Wahyuni (32), warga Babakan Sari, Kota Bandung, dipecat dari tempatnya bekerja.

Sebabnya, ia telat membayar utang setelah meminjam uang tidak lebih dari Rp 2 juta.

“Posisi saya sudah dikeluarkan dari pekerjaan. Harusnya tanggal 31 Juli hari terakhir saya bekerja tapi karena pengganti saya belum ada saya masih dipertahankan. Semuanya gara-gara sistem penagihan utang yang membuat saya seperti penjahat,” ujar Rina saat dihubungi via ponselnya, Rabu (1/8/2018).

Ia meminjam uang melalui aplikasi fintech pada Januari 2018, Tangbull dan Uang Cepat. Pembayaran sempat lancar tapi saat peminjaman untuk kesekian kali, ia terlambat membayar. ‎

‎”Saat saya telat bayar, mereka menagih utang saya pada semua teman-teman saya via SMS. Mereka mengirimi pesan penagihan karena mereka mengakses data nomor kontak telrpon saya,” ujar dia.

Bahkan, kata dia, penagih membuat grup whats app dengan peserta semua teman, keluarga, teman kantor, hingga atasan.

Di grup itu, ia merasa diperlakukan seperti penjahat bahwa ia punya utang tapi tidak bisa bayar.

Ia mengakses pinjaman pada aplikasi Uang Cepat dan Tangbull.

Kedua aplikasi fintech itu tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).‎

“Dan semua pesan-pesan itu dilihat dan dibaca semua teman-teman saya, termasuk atasan saya. Seringkali pesan penagihan yang disampaikan pada teman-teman saya itu dengan bahasa kasar.‎ Sampai akhirnya atasan saya tersinggung dan mengeluarkan saya dari pekerjaan,” kata Rina.

Ia menyangkal tidak bisa membayar utang senilai Rp 1,6 juta itu. Ia juga tidak menyangka pemberian izin untuk akses pada nomor kontak telepon saat menginstal aplikasi itu untuk digunakan tidak sebagaimana mestinya.

“Dari awal saya tidak membaca ketentuan bahwa izin mengakses nomor telepon di ponsel saya yang saya berikan untuk digunakan ‎mereka menagih utang. Padahal, nomor telepon saya masih aktif, saya bisa dihubungi, alamat rumah saya jelas. Saya minta jangan diperlakukan penjahat, mempermalukan saya di depan umum,” ujarnya.

Ia merasa izin yang diberikan pada mereka untuk mengakses nomor telepon di ponsel pintarnya disalahgunakan.

“Kalau begini caranya, ini namanya penyalahgunaan izin atas akses data pribadi elektronik saya,” kata Rina.

Ia menduga data pribadi miliknya yang diberikan pada perusahaan fintech diserahkan pada pihak lain. “Saya merasa begitu, ada debt collector yang menghubungi saya,” ujarnya.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...