Pidato Bung Karno Saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad yang Mengetarkan Hati

by

Di desa-desa mengadakan pengajian, barzanji atau bacaan puji-pujian yang berisi riwayat Nabi Muhammad SAW, di kalangan Keraton, seperti Yogyakarta mengadakan Grebeg Maulud dan lain lain.

Grebeg Maulud adalah puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Yogyakarta.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu sudah dilakukan sejak zaman kemerdekaan di Indonesia, termasuk di pemerintahan.

Dikutip Tribunjogja.com dari Wartakota, Presiden Soekarno atau Bung Karno pernah berpidato pada peringatan Maulid Nabi 1963 di Jakarta.

Pada momen itu, Bung Karno mengingatkan, bagaimana hakikat merayakan maulid Nabi.

Menurut Bung Karno hakikat merayakan Maulid Nabi tidak hanya sekedar memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW saja.

Tetapi diperingati dengan cara meneladani ajaran, konsepsi, dan agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Berikut beberapa penggalan pidato berapi-api Bung Karno

“Diberi oleh Allah melalaui Malaikat Jibril kepada Rasul, Rasul meneruskan lagi kepada umat, yaitu kita saat ini. Itu yang kita rayakan saat ini.”

“Oleh karena itu kita berkata: Jika benar-benar engkau mencintai Nabi Muhammad, jika benar-benar engkau merayakan Maulid Nabi Muhammad bin Abdullah,”

“Jika benar-benar engkau merayakan Rasulullah yang punya hari maulid, kerjakanlah apa yang beliau perintahkan,”

” Kerjakanlah apa perintah agama yang beliau bawa, kerjakan sama sekali, agar supaya benar-benar kita bisa berkata: kita telah menerima agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad,”kata Bung Karno.

Dikutip Tribunjogja.com dari nu.or.id, sholawat kepada nabi merupakan kewajiban bagi orang mukmin yang bisa dilakukan kapan saja, satu diantara ketika menjalankan ibadah salat lima waktu.

Oleh sebab itu membaca sholawat nabi bisa dilakukan kapan saja, sebagian ulama berpendapat sholawat nabi hukumnya sunnah.

Berikuti waktu yang disunahkan untuk membaca sholawat nabi menurut Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990).

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...