Peristiwa 16 Agustus: Penculikan Soekarno-Hatta hingga Pengakuan Belanda atas Kemerdekaan Indonesia

by

Sejumlah peristiwa selalu saja terjadi setiap hari di berbagai penjuru dunia. Kejadian itu terekam dan menjadi catatan sejarah.

Seperti peristiwa yang terjadi pada 16 Agustus. Untuk kembali mengingat peritiwa itu, Okezone mengulas beberapa peristiwa yang terjadi berdasarkan Wikipedia:

1896 – Demam Emas Klondike
Keis atau yang lebih dikenal dengan Skookum Jim Mason adalah seseorang yang tinggal di wilayah Carcross Yukon, Kanada.

Suatu ketika dirinya bersama dengan rekan-rekannya menemukan emas. Penemuan ini membuat masyarakat di sekitar menjadi geger bahkan menjadi demam emas yang dikenal dengan peristiwa ‘Demam Emas Klondike’.

Sebetulnya kabar soal adanya emas di wilayah Yukon tersebut sudah disadari oleh masyarakat asli yang mendiami wilayah Amerika bagian barat-laut namun saat itu mereka menganggap bahwa logam mulia tersebut tidak berharga.

1945 – Peristiwa Rengasdengklok Penculikan Soekarno-Hatta
Siapa yang tidak tahu soal peristiwa yang dikenal dengan sebutan ‘Rengasdengklok’ peristiwa di mana presiden Soekarno dan Hatta diculik oleh pemuda yakni Soekarni, Wikana, Aidit, dan Chairul Saleh.

Mereka berdua dibawa ke suatu wilayah Rengasdengklok, Karawang untuk didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan RI.

Di sana terjadi kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah Jepang mengalami kekalahan dalam perang pasifik.

Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu, di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan.

Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17Agustus 1945 di lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang dipinjam dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.

1972 – Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Mulai Berlaku
Ejaan Yang Disempurnakan atau yang biasa dikenal dengan singkatan EYD adalah ejaan bahas Indonesia.

Ejaan ini mulai diberlakukan pada 1972 hingga 2015 ejaan ini menggantikan ejaan pendahulunya yakni ejaan Soewandi.

Sebelum EYD, lembaga bahasa dan kesusastraan atau saat ini disebut pusat bahasa, mengeluarkan ejaan baru pada 1967 atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no.062/67, pada tanggal 19 September 1967.

Kemudian pada 23 Mei 1972 sebuah pernyataan bersama ditandatangani antara Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Mendikbud Indonesia kala itu Mashuri.

Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan EYD.

Pada 16 Agustus 1972 berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin dan bahasa Indonesia.

Pada waktu pidato kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke XXVII, diresmikanlah pemakaian ejaan baru untuk bahasa Indonesia.

Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

2005 – Pemerintah Belanda melalui Menlunya akui Kemerdekaan Indonesia
Menteri Luar Negeri Belanda untuk Indonesia Bernard Rudolf Bot mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Bernard tercatat sebagai anggota kabinet Belanda pertama yang menghadiri perayaan kemerdekaan Indonesia sejak 1946.

Bernard yang berpidato dalam upacara peringatan berakhirnya pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada 15 Agustus 2006 dengan disaksikan oleh Ratu Beatrix mengatakan kehadirannya di upacara hari ulang tahun kemerdekaan ke-61 RI yang dapat dilihat sebagai penerimaan politik dan moral Belanda bahwa Indonesia merdeka.

Sumber: okezone.com

Loading...
loading...
loading...