Penyebab Cuaca Panas di Sebagian Wilayah Indonesia, BMKG Sebut Akibat Gerak Semu Matahari

by -13,540 views

Akhir-akhir ini, suhu udara di sebagian wilayah Indonesia terasa panas.

Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Miming Saepudin, memberikan penjelasan.

Diketahui suhu udara panas dominan terjadi di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan lainnya.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Tribunnews melalui aplikasi pesan WhatsApp, Senin (21/10/2019), Miming menjelaskan mengapa suhu udara saat siang hari terasa terik.

Sejak Sabtu (19/10/2019), BMKG telah mencatat suhu udara maksimum bisa mencapai 37 derajat Celcius.

Sementara pada Minggu (20/10/2019), tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi mencatat suhu maksimum tertinggi, yaitu:

  1. 38,8 derajat Celcius di Stasiun Meteorologi Hasanuddin, Makassar
  2. 38,3 derajat Celcius di Stasiun Klimatologi Maros
  3. 37,8 derajat Celcius di Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera

Tak hanya itu, stasiun-stasiun meteorologi di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatat suhu udara panas maksimum terukur berkisar di angka 35-36,5 derajat Celcius pada periode 19 hingga 20 Oktober 2019.

Lebih lanjut, Miming mengungkapkan suhu udara panas erat kaitannya dengan fenomena gerak semu matahari.

“Seperti yang kita ketahui pada bulan September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga bulan Desember.”

“Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan,” terangnya dalam keterangan tertulis.

Lebih lanjut, Miming menjelaskan kondisi tersebut menyebabkan radiasi matahari di wilayah tersebut menjadi lebih banyak.

Sehingga menyebabkan suhu udara saat siang hari terasa panas dan terik.

Tak hanya itu, kondisi atmosfer di wilayah selatan Indonesia relatif kering, sehingga menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas matahari.

“Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara,” ujar Miming.

Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi selama satu satu minggu.

Karena itu, Miming mengimbau masyarakat yang terdampak cuaca panas agar minum air putih cukup untuk menghindari dehidrasi.

Juga mengenakan pakaian yang melindungi kulit saat beraktivitas di luar ruangan.

“Waspadai (juga) aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla,” tandas dia.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...