Pengikut Abu Peuleukung di Aceh Rayakan Idul Fitri, Sholat Id di Masjid Tadi Pagi

by

Sebagian umat Islam di Nagan Raya, khususnya pengikut Abu Habib Muda Seunagan atau Abu Peuleukung, Senin (3/6/2019) sudah merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah pada pagi tadi.

Sementara pelaksanaan ibadah Shalat Id berlangsung di Kompleks Masjid Peuleukung, Desa Peuleukung, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya dan di tempat lainnya di luar kabupaten tersebut.

“Kami para pengikut Habib Muda Seunagan sudah melaksanakan perayaan Hari Raya Idul Fitri hari ini,” jelas Abdurrahman (67) salah satu warga Keude Linteung, Kecamatan Seunagan Timur yang ikut melaksanakan Shalat Id di Peuleukung kepada Serambinews.com, Senin (3/6/2019).

Sebelumnya, cucu Habib Muda Seunagan, Kabupaten Nagan Raya Said Kamaruddin yang dikonfirmasi Serambinews.com, Kamis (30/5/2019) lalu mengatakan, para pengikut Habib Peuleukung akan melaksanakan Hari Raya Idul Fitri pada Senin (3/5/2019) hari ini yang akan berlangsung di Masjid Peuleukung dan di sejumlah masjid-masjid lainnya di luar kabupaten tersebut.

“Meski kami lebih lebih cepat melaksanakan hari raya sesuai dengan hitungan, kami mengimbau kepada seluruh pengikiut Habib Muda Seunagan untuk tetap menghormati saudara kita yang masih berpuasa, dengan tidak makan di tempat-tempat umum,” jelas Said Kamaruddin.

Para jamaah dari pengikut Abu Peuleukung mendengarkan khutbah Idul Fitri usai pelaksanaan Shalat Ied di Masjid Peuleukung, Desa Peuleungkung, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, Senin (3/6/2019)

Sebagaimana diketahui, bagi pengikut Habib Seunagan itu, sejak puluhan tahun silam untuk satu Ramadhan lebih awal satu atau dua hari dari jadwal puasa umum, demikian juga dengan Hari Raya Idul Fitri, jadi pada tahun ini dua hari lebih awal.

Naqsabandiyah di Padang
Selain pengikut Habib Muda Seunagan, para pengikut tarekat Naqsyabandiyah di beberapa daerah lainnya di Indonesia, juga merayakan Idul Fitri 1440 H hari ini, Senin (3/6/2019).

Dikutip dari TribunPadang.com, para jemaah Naqsyabandiah melaksanakan shalat Idul Fitri di Mushalla Baitul Ma’mur di Kampung Dalam, Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat.

Mereka melaksanakan Shalat Idul Fitri berjemaah dilanjutkan mendengarkan khutbah yang disampaikan khatib dalam bahasa Arab.

Bila umumnya sesudah melaksanakan salat Idul Fitri orang pulang bersalam-salaman dan langsung pulang ke rumah, tidak halnya dengan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang.

Setelah saling memaafkan, jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang justru makan bersama.

Jemaah tarekat Naqsabandiah saat makan dan duduk bersama di Mushalla Baitul Ma’mur, Senin (3/6/2019)

Pantauan TribunPadang.com, jemaah duduk bersama membentuk lingkaran di musalla.

Selanjutnya menyantap hidangan yang sudah disediakan seperti kopi, teh, gorengan, dan makanan lainnya.

Imam Mushalla Baitul Makmur, Syafri Malin Mudo (78) menuturkan perbedaan jadwal penetapan Hari Raya Idul Fitri sudah lama terjadi.

Hal itu pun tidak ada masalah.

“Menurut saya perbedaan akan jadwal penetapan Hari Raya Idul Fitri itu sudah lama terjadi, dan itu tidak masalah,” kata Imam Mushalla Baitul Makmur, Syafri Malin Mudo (78) kepada TribunPadang.com, Senin (3/6/2019).

Ditambahkan Syafri Malin Mudo, perbedaan itu hal biasa, dan itu sesuai dengan akidah masing-masing yang dipercaya.

Jemaah tarekat Naqsabandiah saat saling bersalaman dan meminta maaf setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1440 H, Senin (3/6/2019)

“Ini sesuai dengan yang biasanya, berdasarkan kitab yang kita pakai yaitu dalam tarekad Naqsabandiah ini adalah kitab Munjib,” kata Sekretaris Naqsabandiah Mushalla Baitul Ma’mur, Edizon Revindo kepada TribunPadang.com, Senin (3/6/2019).

Edizon menjelaskan Ramadan tahun 2019 adalah mulai Sabtu tanggal 4 Mei 2019.

Jemaah berpuasa selama 30 hari.

“Kami sudah berpuasa selama 30 hari. Dan, satu Syawal bertepatan pada hari Senin (3/6/2019) ini, sesuai seperti yang dikatakan dalam Kitab Munjib tersebut,” katanya.

Dituturkannya, dalam menentukan awal Ramadhan, berdasarkan penghisaban saat bulan Syakban, atau bulan sebelum Ramadhan.

Saat bulan Syakban, sudah dilihat peredaran bulan.

Kemudian ditentukan tanggal 15 Syakban atau Nisfu Sya’ban.

Setelah itu dihitung lagi akhir Sya’ban yang biasanya memiliki bilangan 29 hari.

Selain sistem hisab, lanjut Edizon, penentuan awal Ramadhan ini juga menggunakan sistem melihat bulan.

“Jadi, kita tetapkan 15 Sya’ban, yang kita sebut dengan Nisfu Sya’ban. Dan, yang kita hitung saja lagi, bahwa Syakban itu 29 hari.

Kalau bulan tidak kelihatan pada 29 hari itu, maka kita sempurnakan bulan Syakban itu 30 hari, dan satu Ramadannya jatuh pada hari esoknya.

Kita juga menggunakan sistem melihat bulan. Di samping kita hisab, kita juga melihat bulan. Tapi melihat bulan dengan mata telanjang,” ujarnya.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...