Pengakuan Pria yang Bopong Jenazah Keponakan Setelah Ditolak Gunakan Ambulans Puskesmas

by -1,922 views

Video seorang pria menggendong jenazah keponakannya karena ditolak menggunakan ambulans Puskesmas Cikokol viral di media sosial.

Pria tersebut bernama Supriadi, ia menggendong jenazah keponakannya yang bernama Husein (8).

Husen meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Cisadane dan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Dihubungi TribunJakarta.com, Supriadi menjelaskan kondisi saat itu di Puskesmas Cikokol pada Jumat (23/8/2109).

Saat itu jenazah Husei ditemukan dan langsung dibawa ke Puskesmas Cikokol.

Sempat mendapat perawatan medis, Husein dinyatakan meninggal dunia.

Supriadi meminta untuk menggunakan mobil ambulans puskesmas untuk mengantar jenazah keponakannya, namun pihak puskesmas menolak dengan alasan tidak ada ambulans untuk mengantar jenazah, melainkan hanya ada yang untuk rujukan pasien sakit.

Saat itu, Supriadi bisa mengerti, karena ia pernah bekerja di rumah sakit dan memahami pemisahan penggunaan ambulans.

“Ya saya mengerti, saya memang pernah bekerja di rumah sakit dan tahu lah sedikit soal ambulans, makanya saya sama keluarga langsung menghubungi call center ambulans lain,” ujarnya, Minggu (25/8/2019).

Namun beberapa call center ambulans yang ditelepon tidak semua merespons, hanya ada satu.

Itu pun komunikasinya sulit karena saat itu sinyal sedang susah.

“Jadi saya itu lama di menghubungi call center ambulans, sampai dua jam,” ujarnya.

Karena hari sudah menjelang malam, sekira pukul 17.30 WIB, ia memilih membawa sendiri jenazah keponakannya dengan sepeda motornya.

“Iya video itu pas saya keluar dari puskesmas mau ke motor yang ada di seberang puskesmas. Karena ada di seberang, saya harus naik JPO buat nyeberang,” ujarnya.

Saat ia baru melangkah ke anak tangga JPO ke dua, ada seorang warga yang menawarkan tumpangan untuk mengantar Supriadi dan jenazah Husein.

“Akhirnya kita sampe ke rumah ya dari bantuan tumpangan warga itu,” ujarnya.

Setelah sampai di rumah duka, jenazah langsung diurus untuk dimakamkan di TPU Cikokol, pada malam harinya.

Berharap pertimbangkan kondisi mendesak

Supriadi, paman dari almarhum Husein (8) terpaksa menggendong jenazah keponakannya keluar dari Puskesmas Cikokol, karena tidak diperkenankan menggunakan ambulans.

Dirinya hanya berharap ada pertimbangan penggunaan ambulans dalam kondisi mendesak atau darurat.

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, video Supriadi yang menggendong jenazah Husein viral di media sosial karena embel-embel penolakan penggunaan mobil jenazah dari Puskesmas Cikokol.

Hal itu karena pihak Puskesmas menerakan standard operasional prosedur (SOP) ambulans yang hanya boleh untuk pasien rujukan.

Surpiadi berharap regulasi itu bisa diubah, terutama untuk hal mendesak.

“Ya saya berharap peraturan ambulans itu diubah untuk hal yang mendesak,” ujar Supriadi saat dihubungi TribunJakarta.com, Minggu (25/8/2019).

Menurutnya, pengantaran jenazah juga hal yang mendesak karena harus segera dikebumikan.

“Kan mengantar jenazah juga mendesak, harus segera dikebumikan,” jelasnya.

Ia juga mengkritisi pihak rumah sakit yang memiliki nomor call center ambulans namun tidak sigap dalam pelayanannya.

Saat ditolak menggunakan ambulans Puskesmas Cikokol, Supriadi dan keluarga lain sempat menghubungi beberapa call center ambulans. Namun hanya satu yang merespons, dan bantuan tidak jadi terkirim karena komunikasi terkendala sinyal.

“Yang masalah sebenarnya nomor call center itu yang tidak sigap dalam memberikan pertolongan,” ujarnya.

Supriadi mengatakan Wali Kota Tangerang, Arief Wismansyah sudah menghubunginya dan berjanji akan mengubah regulasi ambulans itu.

“Sudah, tadi juga datang ke rumah. Wali Kota juga menghubungi saya. Katanya dia akan mengubah regulasi itu,” ujarnya.

Wali Kota Janji Revisi SOP
Wali Kota Tangerang, Arief Wismansyah, bertakziyah menyambangi rumah almarhum Husein (8) di bilangan Kelapa Indah, Tangerang, kota Tangerang, Minggu (25/8/2019).

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, Husein meninggal dunia stelah tenggelam di sungai Cisadane, pada Jumat (23/9/2019).

Pihak keluarga mendapat penolakan saat meminta untuk menggunakan ambulans Puskesmas Cikokol karena alasan standard operasional prosedur (SOP).

Kepada keluarga korban, Arief menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.

“Saya atas nama Pemerintah Kota Tangerang menyampaikan turut berduka cita atas musibah tenggelamnya dua anak yang terjadi beberapa waktu yang lalu,” ujar Arief dalam keterangan resmi Pemkot Tangerang.

Arief juga memerintahkan Dinas Kesehatan untuk segera memperbaiki SOP mobil ambulans untuk kondisi kegawatdaruratan.

Menurutnya, kondisi darurat itu termasuk kejadian kematian dan untuk mengirim jenazah akibat kecelakaan.

Arief juga akan melakukan optimalisasi mobil jenazah yang ada di seluruh puskesmas Kota Tangerang.

“Untuk kegawatdaruratan, saya instruksikan untuk segera di revisi SOPnya, jadi bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masyarakat,” kata Arief.

“Saya sudah perintahkan tadi pagi, saya telepon langsung Kepala Dinas Kesehatannya buat besok saya ingin semua sudah diperbaiki dan bisa disosialisasikan ke seluruh puskesmas dan juga armada kesehatan lainnya yang ada di Kota Tangerang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Tangerang, dr Liza Puspadewi sudah meminta maaf dan memeberikan penjelasan tentang regulasi penggunaan ambulans kepada awak media terkait insiden penggunaan ambulans Puskesmas Cikokol itu.

“Mewakili Pemkot Tangerang, saya mohon maaf kepada keluarga korban yang tenggelam,” kata Liza kepada awak media.

Sungai Cisadane Makan Korban
Sungai Cisadane yang melintasi wilayah Tangerang sudah memakan korban beberapa anak, dan itu menjadi perhatian Wali Kota Tangerang, Arief Wismansyah.

Terlebih setelah kasus meninggalnya Husein (8) dan Fitrah (12), yang terseret arus setelah bermain air di tepi Cisadane bersama dua orang temannya pada Jumat (23/8/2019).

Setelah takziah ke rumah duka Husein, Arief mengatakan segera menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Tangerang untuk membangun turap sepanjang Cisadane.

Hal itu demi menjaga tepian sungai dari anak-anak yang bermain dan berpotensi terseret arus air.

“Kami akan meminta pengamanan kepada Dinas PU misalnya di pagar dulu atau seperti apa supaya tidak ada korban lagi,” ujar Arief dalam keterangan resminya, Minggu (25/8/2019).

Selain kepada DPU, Arief juga akan menyurati Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menindaklanjuti turap tersebut.

“Kami juga akan bersurat ke Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane untuk menindaklanjuti penurapan supaya jangan ada lagi korban-korban lain dipinggir Sungai Cisadane yang mengakibatkan kerugian buat masyarakat,” ujarnya.

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, pencarian tim gabungan SAR lebih dulu menemukan Husein beberapa jam setelah kejadian tenggelam.

Satu hari setelahnya, Sabtu malam (24/8/2019) Fitrah baru ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...