Peneliti Sebut Potensi Tsunami di Selat Sunda hingga Setinggi 57 Meter

by

Gelombang tsunami kembali menerjang wilayah Indonesia. Pada Sabtu (22/12/2018) lalu, gelombang tsunami setinggi 0,9 meter menerjang pantai-pantai di Selat Sunda.

Akibatnya, ratusan orang meninggal, ribuan orang luka-luka, puluhan orang hilang dan sejumlah bangunan rusak.

Termasuk rumah, hotel dan juga vila yang ada di sekitar pantai-pantai di Selat Sunda.

Tak banyak yang tahu jika ternyata potensi tsunami di Selat Sunda ini sudah menjadi konsumsi akademis sejumlah ilmuwan dan peneliti Indonesia.

Dilansir dari kanal YouTube tvOneNews, BPPT bahkan pernah membuat kajian yang mengungkap adanya potensu tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dalam rekaman siaran berita itu disebutkan bahwa potensi akan adanya tsunami di Selat Sunda ternyata sudah lama menjadi fokus penelitian bagi banyak ilmuwan.

Termasuk salah satunya peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko.

Widjo Kongko pernah mengungkapkan adanya potensi tsunami hingga mencapai 57 meter yang akan menerjang wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten.

Tsunami ini juga berpotensi akan mencapai wilayah Jakarta Utara.

Namun, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa hal tersebut masih berupa kajian awal semata dari simulasi model komputer yang masih perlu dikaji lagi.

Hal ini dilakukan untuk keperluan antisipasi dan mitigasi bencana ke depannya.

Berdasarkan kajian Widjo Kongko, tsunami besar itu bisa terjadi karena di Jawa Barat bagian tengah berpotensi terjadinya gempa megathrust di selatan Jawa dan Selat Sunda.

Jika kekuatan gempa itu mencapai 9 SR di kedalaman laut yang dangkal, maka tsunami besar akan terjadi. Namun, angka 9 SR ini masih belum bisa dipastikan.

BPPT menyebut angka 9 SR ini merupakan skenario terburuk dari hasil kajian yang telah dilakukan BPPT.

Kajian tentang ancaman tsunami di Selat Sunda ini juga pernah dipaparkan kepada BMKG pada bulan April 2018 lalu dengan tujuan antisipasi dan mitigasi bencana.

Saat itu, BPPT menjadi narasumber dalam sebuah seminar yang diadakan oleh BMKG.

Pihak BPPT juga menegaskan bahwa kajian ini hanya berupa potensi dan bukan prediksi.

Artinya, kajian tersebut dibuat guna mempersiapkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

Karena potensi dan prediksi sendiri adalah dua kata yang jauh berbeda.

Menurut Widjo Kogko, potensi gempa dan tsunami besar ini bisa terjadi karena adanya energi yang tersimpan di tiga lempeng megathrust.

Ketiga lempeng tersebut setiap tahunnya terus bergeser 6 sampai 7 centimeter.

“Kita ada tiga lempeng utama yang saling berjalan.

Dari Australia ada lempeng yang menyodok ke Utara dan ini kan terus-menerus setiap tahun 6 sampai 7 cm, katakanlah begitu, dan tentu ini ada energi yang tersimpan dan tentu saja setiap saat bisa saja energi ini lepas dan kemudian menyebabkan gempa bumi yang cukup besar dan tentu diiringi dengan tsunami kalau itu terjadi di lautan,” papar Widjo Kongko.

Kemungkinan atau potensi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah yang disebutkan namun bisa terjadi di beberapa wilayah lainnya di Indonesia.

Mengingat ada banyak wilayah di Indonesia yang menjadi titik temu lempeng selain dari tiga lempeng yang telah disebutkan sebelumnya.

Widjo Kongko juga mengingatkan masyarakat agar tidak resah dengan hasil kajian berupa potensi tsunami yang ia ungkapkan.

Karena ke depannya, kajian ini akan menjadi perencanaan awal untuk dilakukannya upaya penyelamatan jika terjadi gempa dan tsunami besar di kemudian hari.

Sumber: hot.grid.id

Loading...
loading...
loading...