Pemuda Alami Gangguan Jiwa Hingga Jarinya Terus Bergerak Layaknya Bermain Ponsel: Awas, Kecanduan Ponsel Bahayakan Hidup Kita

by

Ada banyak informasi yang mengatakan bahwa seseorang bisa mengalami masalah jiwaan karena kecanduan bermain ponsel.

Mungkin banyak yang tidak percaya, namun hal tersebut benar terjadi.

Dilansir dari bogor.tribunnews.com pada Selasa (16/7/2019), seorang pemuda bernama Wawan Gim  harus tinggal di yayasan rehabitilasi gangguan jiwa, Yayasan Rehabilitasi Jamrud Biru, Bekasi.

Hal ini karena dia kecanduan bermain ponsel.

Dalam tayangan yang diunggah di Youtube pada 6 Juli 2019, terlihat jari Wawan Gim selalu bergerak, seolah sedang memainkan ponsel.

Wawan Gim juga sama sekali tidak biasa diajak berkomunikasi oleh pengasuhnya sekalipun.

Ketika ditanya namanya, Wawan Gim tidak merespon sama sekali. Fokus matanya tidak bisa lepas ke kedua tangannya yang terus bergerak.

Pendiri Yayasan Jamrud Biru, Hartono menerangkan Wawan Gim tidak bisa menghentikan gerakan di tangannya.

Awalnya mereka tidak tahu bahwa Wawan Gim menderita gangguan jiwa sampai Hartono memberikan ponsel rusak ke tangannya.

Setelah itu, tangan tangan Wawan Gim tidak bisa berhenti bergerak seolah sedang bermain game.

Kasus yang terjadi pada Wawan Gim bisa mewakili kebiasaan anak zaman sekarang yang tidak bisa lepas dari ponsel.

Makan bersama tapi pandangan terus ke layar ponsel, jalan-jalan di mal namun yang dilihat layar ponsel, bahkan nonton televisi pun sambil melihat ponsel.

Barangkali bukan hanya anak-anak, kita pun tanpa sadar sudah kecanduan ponsel, dan bingung tak karuan bila ponsel lupa dibawa.

Padahal pemilik yang tak bisa lepas dari ponsel cenderung mengalami masalah konsentrasi di sekolah atau tempat kerja, belum bahaya di jalan raya karena tidak fokus mengemudi atau menyeberang jalan.

Mereka juga mengalami masalah seperti kurang tidur yang berakibat buruk di lingkungan kerja. Kondisi ini berimplikasi pada bisnis di masa depan.

“Kekurangan tidur dapat memberikan efek negatif pada kesehatan,” menurut Dr Yolanda Reid Chassiakos, seorang asisten profesor pediatrik di David Geffen School of Medicine, UCLA yang meneliti masalah kecanduan ponsel.

“Studi menunjukkan bahwa 50 persen pelajar kecanduan ponsel pintar,” katanya.

Chassiakos, yang memberikan tips memerangi penggunaan ponsel berlebihan, mengatakan beberapa orang bahkan menderita nomofobia—sebuah rasa takut tidak dapat mengakses atau menggunakan ponsel.

Nomofobia kini menjadi hal yang umum.

Pada tahun 2015, 4 dari 10 remaja tidur kurang dari tujuh jam semalam. Kondisi itu meningkat 58 persen sejak tahun 1991 dan 17 persen lebih dibandingkan tahun 2009.

Menurut jurnal Sleep Medicine, angka itu melonjak saat ponsel pintar menjadi suatu hal yang umum dimiliki.

John Oldshue, editor SaveonPhone.com, yang meliput tentang industri ponsel, mengatakan hingga tahun depan, dua per tiga populasi dunia akan memiliki ponsel pintar.

Sementara di Amerika Serikat sendiri, angkanya akan mencapai 70 persen.

Dikhawatirkan, bila para pemilik ponsel itu terjangkiti nomofobia, maka tingkat kesehatan masyarakat di dunia akan memburuk karena kurang tidur, dan produktivitas akan menurun.

Karenanya Chassiakos menyarankan agar kita mengurangi ketergantungan pada ponsel.

“Letakkan ponsel Anda dan mulailah berbicara kepada orang lain secara langsung, lihatlah dunia alih-alih memandang layar terus menerus, atau tidurlah,” katanya.

Sumber: intisari.grid.id

Loading...
loading...
loading...