Pelaku Pengeroyokan Habib di Solo Jadi 7 Orang, Kapolda Jateng: Langit Runtuh Hukum Tetap Tegak

by -1,122 views

Beberapa waktu lalu, warga Solo, Jawa Tengah digegerkan dengan aksi pengeroyokan yang menyasar ke keluarga Habib Umar Assegaf, Sabtu 8 Agustus 2020 malam.

Insiden pengeroyokan tersebut terjadi saat keluarga Habib Umar Assegaf tengah melaksanakan acara midodareni atau doa sebelum menjalankan akad nikah di Jl Cempaka No 81, Kp Mertodranan, Kelurahan dan Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Per Kamis 13 Agustus 2020, Polresta Surakarta bersama Polda Jawa Tengah sudah berhasil menangkap 7 orang pelaku yang diduga terlibat dalam aksi tersebut.

“Kami telah mengamankan lagi 2 orang, N dan A. Jumlahnya menjadi 7 orang,” ucap Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi di Mapolresta Surakarta, Kamis 13 Agustus 2020.

Di antara 7 orang pelaku tersebut, 5 di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.

“5 sudah jadi tersangka, yang 2 kita dalami kembali,” lanjutnya.

Dijelaskan Ahmad Luthi, peran pelaku N dan A dalam aksi pengeroyokan itu masih didalami oleh kepolisian.

“Masih didalami penyidik. Asal (N dan A) dari sekitar Pasar Kliwon,” jelas Ahmad.

Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, hingga kini pihaknya telah memeriksa 35 saksi terkait kasus pengeroyokan keluarga Habib Umar Assegaf.

Terkait dengan dugaan kepolisian sebelumnya bahwa aksi pengeroykan diikuti puluhan orang, Kapolda Jateng meminta agar pelaku lain mau segera menyerahkan diri ke polisi.

“Negara tak boleh kalah oleh kelompok intoleran, radikal atau premanisme. Karena itu saya imbau agar (pelaku, red) segera menyerahkan diri atau kita tangkap. Langit runtuh hukum akan tetap kita tegakkan,” tegas Ahmad Luthfi.

Sebelumnya dikutip dari Tribrata Polda Jateng, Kapolresta Surakarta Kombes Andy Rifai menduga pelaku pengeroyokan Habib di Pasar Kliwon berjumlah puluhan orang.

Kejadian bermula ketika Habib Umar Asegaf tengah melaksanakan acara Midodareni atau doa bersama sebelum akad nikah anaknya sekitar pukul Sabtu malam.

Saat acara doa berlangsung, tiba-tiba datang kelompok berjumlah 100 orang menggunakan tutup kepala.

Mereka datang lantaran mencurigai acara midodareni itu adalah acara keagamaan (Syiah) yang ditentang oleh pihak laskar.

Pihak kepolisian yang dipimpin oleh Kapolresta Surakarta Kombes Pol Andy Rifai, saat itu mencoba melakukan negosiasi ke dua belah pihak.

Sayangnya, kejadian pengeroyokan tak bisa dihindari. Saat sebagian keluarga dari pihak tuan rumah hendak keluar dengan mengendarai mobil dan sepeda motor, tiba-tiba mereka dipukul dan dilempari batu.

Petugas yang berada di tempat langsung mengendalikan situasi dan membawa korban ke RS Kustati Solo untuk mendapatkan perawatan.

Sumber: pikiran-rakyat.com

loading...
loading...