Nisfu Sya’ban 2019 Jatuh Pada Malam Ahad Ini, Berikut 3 Amalan Penting dan Doa Nisfu Syaban

by

Sabtu (20/4/2019) malam ini, bertepatan dengan malam Nisfu Syaban (Sya’ban) 1440 Hijriah.

Umat Islam mendapat malam istimewa, malam dibukanya pintu ampunan, malam pembebasan yang dikenal Nisfu Syaban.

Bagi umat Islam, Syaban termasuk bulan yang dimuliakan, terutama karena di dalamnya ada waktu istimewa yang dikenal dengan malam Nisfu Syaban (separuh bulan Sya’ban).

Jika dikonversi ke kalender Masehi, malam nisfu Syaban jatuh pada Sabtu malam atau malam Ahad ini, 20 April 2019.

Mengutip www.nu.or.id, anjuran untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban disampaikan sejumlah hadits.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kitab Mâdzâ fî Sya’bân merinci, setidaknya ada tiga amalan penting yang bisa dilakukan pada malam Nisfu Syaban.

  1. Memperbanyak doa
  2. Membaca sebanyak-banyaknya dua kalimat syahadat atau kalimat Lailaha illa-Llah Muhammadan rasulull-Llah
  3. Memperbanyak istighfar karena tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah. Itulah manusia

Selain itu umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada bulan Syaban.

Walaupun puasa sunah, namun sering diamalkan umat Islam karena di malam Nisfu Syaban memiliki banyak keistimewaan.

Di antaranya adalah Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, kecuali orang yang menyekutukan Allah dan yang bertengkar namun saat malam Nisfu Syaban belum juga berdamai.

Adapun untuk lafadz bacaan niat Puasa Syaban adalah sebagai berikut:

نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى

Latin:
Nawaitu Sauma Syahri Syahban Sunnatan Lillahi Ta’ala

Artinya:
“Saya niat puasa bulan syaban sunnah karena Allah ta’ala”.

Di banyak daerah di Indonesia, malam Nisfu Syaban menjadi momen yang ditunggu masyarakat.

Mereka biasanya memanfaatkan waktu setelah shalat Maghrib untuk membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali.

Aktivitas ini lazimnya diiringi dengan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan umur panjang, rezeki yang halal, wafat dalam keadaan husnul khatimah, atau lainnya.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kitab yang sama memandang kegiatan tersebut sebagai hal yang positif.

Menurutnya, ini adalah momen tepat untuk memperbanyak amal saleh dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, baik hajat dunia maupun hajat akhirat.

Kata Syaban (Sya’ban) secara bahasa bisa bermakna cabang. Dinamakan demikian karena terdapat cabang-cabang kebaikan di dalamnya.

Sebagian ulama berpendapat syaban berasal dari sya‘a ban yang bermakna terpancarnya keutamaan.

Sebagian lain berkata ia dari kata as-syi‘bu, sebuah jalan di gunung sebagai analogi jalan menuju kebaikan puncak.

Sementara sebagian ulama lagi berpandangan syaban berasal dari kata as-sya‘bu yang berarti menambal.

Doa Malam Nisfu Syaban
Pada malam Nisfu Syaban kita bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk panjang umur, murah rezeki, dan tetap iman.

Kita juga biasanya membaca tiga kali Surat Yasin di sela doa tersebut.

Sayyid Utsman bin Yahya menyebutkan doa berikut ini yang dibaca saat malam Nisfu Syaban seperti dilansir laman nu.or.id adalah sebagai berikut:

اللَهُمَّ يَا ذَا المَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ.
اللَهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu ‘alaik, yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in‘âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma’manal khâ’ifîn.”

Allâhumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî ‘indaka sa‘îdan marzûqan muwaffaqan lil khairât.”

Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal ‘alâ lisâni nabiyyikal mursal, “yamhullâhu mâ yasyâ’u wa yutsbitu, wa ‘indahû ummul kitâb” wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil ‘alamîn.”

Terjemahannya, “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi.”

“Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan.”

“Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat.”

“Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.”

“Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku.”

“Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki.”

“Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT.”

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...