Nasib Tenaga Medis, Ikhlas Lebaran Berbalut APD dan Masker

by -2,603 views

Diah Cahyaningsih (23) harus ikhlas kehilangan momen berharga lebaran tahun ini, sungkeman dengan orang tuanya di kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah.

Tradisi ini biasa dijalankannya saat lebaran dari tahun ke tahun.

Sebagai tenaga medis, ia tak dapat mengambil cuti untuk berkumpul dengan keluarga.

Sebagai Analis Kesehatan Laboratorium atau ATLM, Diah berada di garda terdepan dalam membantu penanggulangan virus corona.

Ia mengaku pekerjaannya banyak. Dalam 12 jam sehari, ia bertugas mengambil sampel pasien untuk rapid tes dan tes covid-19, menganalisisnya di laboratorium, hingga menyiapkan diagnosis untuk penanganan dokter.

Saking sibuknya, Diah mengaku jarang pulang ke rumah untuk beristirahat.

“Tadinya bisa pulang ke rumah sekarang jarang pulang ke rumah. Mungkin bisa seminggu sampai 2 minggu sekali. Tenaganya lebih kekuras banget pokoknya, lebih capek, lebih lelah,” ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (24/5).

Ia memilih menginap di RS mengingat repotnya bolak-balik di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Belum lagi, kekhawatirannya menularkan virus mematikan tersebut kepada paman dan sepupu-sepupunya yang tinggal bersamanya.

Ramadan dan lebaran tahun ini merupakan yang terberat dirasakannya.

Diah tak tahu kapan dapat kembali bertemu dengan kedua orang tuanya, barang melepas rindu dan lelah di pelukan mereka.

Jangankan memakai baju baru atau mencicip nastar dan opor kesukaannya.

Diah malah harus disiplin memakai masker, kacamata pelindung, hasmat, dan alat pelindung diri (APD) dalam bertugas.

Lebaran tahun ini, ia melanjukan menguji kesabarannya, menahan geram ketika melihat kelakuan ngeyel masyarakat yang viral di dunia maya.

Ia sempat mengelus dada membayangkan perjalanannya dan rekan-rekan seprofesi yang masih akan panjang dan berat.

Pun begitu, ia masih bersyukur dapat bekerja dengan APD lengkap. Ia bergidik ngeri mengingat saat genting kala tenaga medis kehabisan APD, ia juga sempat bekerja dengan mengandalkan APD seadanya.

“APD tadinya enggak pernah sampai kehabisan stok, sampai sempat kekurangan. Setelah itu, alhamdulillah donasi berdatangan,” katanya.

Diah menghabiskan lebaran tahun ini bersama rekan kerja dan pasien di RS sembari mencuri waktu memanfaatkan teknologi untuk bertatap muka dengan keluarganya di kampung halaman secara virtual.

Meski sadar yang dijalankannya saat ini adalah tuntutan profesi, namun ia berharap masyarakat dapat bersikap disiplin dalam menjaga jarak, memakai masker di ruang publik, dan sering-sering mencuci tangan.

Harapannya hanya satu, pandemi virus corona dapat berlalu dan ia dapat pulang ke kampung halaman menikmati masakan ibunya.

“Semoga semuanya punya kesadaran untuk tetap di rumah saja. Karena tanpa kerja sama semua pihak pun sama saja,” harapnya.

Diah tak sendiri, Dodhy Novanda, perawat yang bekerja di salah satu RS swasta di bilangan Salemba mengaku tak dapat menikmati hari kemenangan dengan keluarganya di tanah Minang.

Pria berusia 31 tahun ini harus bersiap di RS akibat jumlah pasien yang ditangani bertambah.

Sebelumnya, ia hanya menangani pasien yang memerlukan tindakan operasi, namun kini ia juga harus menangani pasien orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala (OTG) virus corona.

Dalam pengalamannya menangani pasien selama tiga tahun, Dodhy mengaku tahun ini merupakan tahun paling menantang.

Jam kerjanya pun kian lentur, ia pernah habis-habisan bekerja hingga menjelang sahur.

Kini, ia tak dapat lagi santai seperti dulu ketika APD selain masker tak wajib dikenakan.

Meski tersiksa harus mengenakan APD sepanjang jam bekerja, namun ia berusaha membiasakan diri dengan new normal yang ada.

“Dulunya kami tidak pakai hasmat (APD), agak nyantai lah. Kalau sekarang, tidak cuma waktunya (shift panjang) tapi pemakaian hasmat yang menyiksa,” ungkap Dodhy.

Sebagai perawat khusus yang hanya menangani pasien operasi, ia mengaku asing dengan penanganan pasien penyakit menular.

Ia pun mengaku sempat takut kala ditugaskan menangani pasien positif covid-19.

Tapi, Dodhy tak punya banyak pilihan mengingat kurangnya tenaga medis yang dibutuhkan.

Mengakalinya, seluruh unit perawat kini saling bahu membahu tak lagi pilih-pilih pasien spesialisasinya.

Saat ditanya bagaimana Dodhy melewati lebaran tahun ini, ia tergelak membayangkan kemewahan lebaran di kampung halaman.

Katanya, barang waktu istirahat pun sudah sulit didapatkan.

“Mau banget pulang ke Padang. Apalagi, saya sudah dua tahun belum pulang. Kangen orang tua dan ziarah ke makan keluarga,” pungkasnya.

Sumber: cnnindonesia.com

loading...
loading...