Muslim Xinjiang Takut Baca al-Qur’an

by

Seketika saya terhenyak. Kaget seakan tak percaya. Sayup saya mendengar orang yg membaca Al Quran. Lantunan ayat yg dibacanya mengiris hati. Lama saya tak mendengar firman-firman Allah dibaca.

Ya, di Xinjiang apa pun kotanya lantunan ayat Al Quran menjadi sesuatu yg langka dan mahal. Langka karena banyak penduduk Muslimnya ketakutan.

Sesiapa yg menyimpan Al Quran, akan menanggung ancaman yg tidak biasa. Mahal karena Al Quran tak lagi ada tersimpan di rumah-rumah, toko buku, hingga bahkan di dalam masjid.

Di sini, yg justru banyak diperdengarkan adalah lagu anak-anak yg isinya bertemakan rajin bekerja. Di pasar, di jalanan, di manapun seakan ada pengeras suara selalu mengukuti kita.

Sesekali, diselingi instruksi untuk semangat bekerja dalam bahasa Mandarin dan Uyghur. Sebuah simbol dan jargon biasa untuk negara yg berideologi komunis sepertinya.

Padahal, penduduk Muslim di sini bukan pemalas. Bahkan lebih rajin mereka bekerja, karena tuntutan kehidupan.

Terlebih jika ada kepala keluarganya yg dimasukkan ke dalam camp, para istrinya ini bekerja serabutan dengan begitu kerasnya untuk memenuhi hajat hidup anghota keluarga yg lainnya.

“Kami takut ‘diambil paksa’ untuk kemudian masuk ke dalam camp,” jawab seorang pemuda berusia 28 tahunan (demi alasan keamanan mereka, saya tidak akan menyebut namanya).

“Kami hanya bisa membaca Al Quran yg telah diterjemahkan ke dalam bahasa Uyghur atau Mandarin, itu pun sembunyi-sembunyi dan satu atau dua ayat saja”, lanjutnya.

“Ada kalanya, kami hanya membaca ayat-ayat yg sudah kami hafal saja seperti surat Al Fatihah. Lalu kami baca berulang-ulang. Kami tak bosan. Karena ayat itu yg hanya bisa kami baca dalam hati tanpa diketahui siapa pun,” tutur dia selanjutnya.

“Apa yg engkau butuhkan? Mintalah. Insya Allah saya berikan,” tanya saya.

“Perdengarkan kami satu ayat saja. Kami tak akan merekamnya. Karena itu berbahaya juga bagi kami. Perdengarkan saja. Kami rindu mendengar bacaan Al Quran,” balasnya.

Saya kemudian membaca pelan Surat Al Baqarah ayat 214 dan kemudian menyampaikan artinya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. al -aqarah, 2:214)

Kami kemudian hanyut dalam pelukan erat. Dalam tangisan hebat. Seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah Yang Maha Kuat. Allahu Rabbi…

***

Pagi itu memang tak biasa, lepas shubuh saya bisa i’tikaf di dalam masjid sembari menjemput pahala haji dan umrah di waktu Syuruq. Dan, lantunan ayat Al Quran itu saya dengar di balik hijab shaf barisan paling belakang.

Ya, saya sudah tidak berada di provinsi Xinjiang. Terpaksa hanya karena untuk mengelabui aparat keamanan yg selalu mengikuti saya setiap hari sejak kejadian di Dabancheng. Saya harus berlagak menjadi wisatawan yg harus juga terlihat jalan-jalan.

Saya tiba di Lan zhou, 1.900 kilometer dari Xinjiang. Tak ada lagi ‘pengawalan’, tak ada lagi pembatasan, tak ada lagi ketegangan.

Tapi, saya akan kembali lagi ke Xinjiang. Misi belumlah usai. Pantang pulang sebelum menang.

Oleh: Azzam Mujahid Izzulhaq

Sumber: tarbawia.net

Loading...
loading...
loading...