Motif Sebenarnya Penusukan Wiranto, Polisi Sebut Pelaku Tertekan Karena Ini

by

Pengamat politik sekaligus Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Kapuskambas UBJ) Hermawan Sulistyo menjelaskan analisanya mengenai motif sebenarnya pelaku penusukan Menkopolhukam Wiranto.

Hermawan Sulistyo menuturkan motif yang digunakan pelaku bukanlah hal yang lazim.

Bahkan, Hermawan Sulistyo menyinggung soal Amerika dan Surga.

Hal itu dikatakan Hermawan Sulistyo saat menjadi narasumber di program Apa Kabar Indonesia Malam dilansir dari kanal YouTube Talkshow Tv One pada Senin (14/10/2019).

Mulanya Hermawan Sulistyo menuturkan berbagai kejanggalan yang dilihatnya dari peristiwa penusukan Menkopolhukam Wiranto itu.

Satu diantaranya berupa penggunaan senjata kunai secara tunggal dan senjata berwarna merah.

“Yang agak aneh buat saya itu, terdapat warna lain senjata kunai… biasanya itu hanya hitam saja dan ada lingkaran itu untuk tali. Penggunaan kunai ini normalnya oleh ninja dibarengi surikem, logam bintang tiga yang stabil dilempar.”

“Diantara lempar-lempar itu maka dia bisa lempar kunainya. Kalau meleset bisa lempar lagi dan dipakai lagi. Jadi ini spesifik,” tutur Hermawan Sulistyo.

Selain itu, Hermawan Sulistyo menuturkan seharusnya jika memang kejadian itu rekayasa maka menggunakan senjata biasa.

Hermawan Sulistyo bahkan merasakan keanehan dengan penyerangan Wiranto tersebut.

Menurutnya, sosok Wiranto bukanlah musuh kelompok garis keras mengingat keluarganya yang religius dan dekat dengan agama.

Dengan berbagai fakta yang ada, Hermawan Sulistyo membantah adanya peristiwa rekayasa penusukan kepada Wiranto.

“Siapa yang mau rekayasa dengan resiko tinggi seperti itu?” tegas Hermawan Sulistyo.

Lebih lanjut, Hermawan Sulistyo justru menuturkan motif sebenarnya pelaku penusukan, Abu Rara.

Bahkan, ia menilai Abu Rara merupakan generasi baru di dunia jaringan teroris.

“Pelakunya itu menurut saya generasi baru yang punya motif bukan untuk meneror melawan Amerika atau Barat, tetapi ia mau ke surga,” ucap Hermawan Sulistyo.

Motif tersebut diungkapkan Hermawan Sulistyo karena ia melihat Abu Rara mengajak istri ikut serta di penusukan Wiranto.

“Dengan mencari thogut sebagai wahana untuk naik surga. Tetapi dia enggan naik ke surga sendirian maka diajaklah istrinya,” beber Hermawan Sulistyo.

Hermawan Sulistyo menilai, mungkin saja dalam beraksi tersebut Abu Rara juga mengajak buah hati jika memilikinya.

Penjelasan Polisi
Terungkap alasan Abu Rara nekat tusuk Wiranto, purnawirawan jenderal dan mantan Panglima ABRI.

Polri menyebut Syahrial Alamsyah, pelaku penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ( Menko Polhukam ) Wiranto, takut dan stres karena perekrutnya, Abu Zee, telah tertangkap polisi.

Dari hasil pengakuan Syahrial Alamsyah kepada polisi, ditangkapnya Abu Zee yang merupakan amir atau ketua dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) menjadi alasan mengapa dirinya menusuk Wiranto.

Abu Zee ditangkap polisi pada 23 September 2019 lalu.

“Dalam pemeriksaan 2 hari ini oleh Densus 88, SA ( Syahrial Alamsyah ) merasa takut, stres dan tertekan setelah mendengar ketuanya dia (Abu Zee) tertangkap,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (11/10/2019).

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, meski Syahrial Alamsyah tidak terafiliasi dengan JAD Bekasi pimpinan Abu Zee tersebut, tetapi dia pernah satu kali berkomunikasi dengan Abu Zee melalui media sosial.

Syahrial Alamsyah dan Fitri Andriana bahkan dinikahkan oleh Abu Zee sebelum kemudian mereka pergi dan bermukim di Kampung Menes, Pandeglang, Banten.

“Dia takut, kalau (Abu Zee) tertangkap dia juga khawatir akan tertangkap, maka dia komunikasi lewat pihak istrinya. Dia persiapan (melakukan serangan), menunggu waktu,” kata dia.

Selama ini, kata Brigjen Pol Dedi Prasetyo, pihaknya sudah mengintai Syahrial Alamsyah namun belum ditangkap karena belum ditemukan adanya persiapan atau bukti otentik untuk melakukan serangan.

Aksi yang dilakukan terhadap Wiranto, ia menjelaskan, adalah aksi spontan.

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, dari pola yang dimiliki jaringan-jaringan teroris, tahapan yang dilakukan Syahrial Alamsyah baru berada di tahapan ketiga yang dinamakan dengan istilah taklim khusus.

Taklim khusus tersebut diistilahkan mereka sebagai tahapan orang-orang yang sudah mendapat penilaian cukup kuat dari tokoh perekrutnya untuk bergabung sebagai simpatisan.

Adapun tahapan pertama merupakan tahap perencanaan awal yang berupa membangun komunikasi intens baik langsung (verbal) maupun tidak langsung (melalui media sosial).

“Di situ ada tokoh yang biasa rekrutmen kepada orang-orang yang memiliki simpati kepada perjuangan ISIS,” kata dia.

Kemudian tahapan kedua diistilahkan mereka sebagai taklim umum, berupa ajaran-ajaran cara menyerang untuk mematangkan sisi mental dan spiritual yang bersangkutan.

Selanjutnya, ada dua tahapan lainnya yang harus mereka lalui agar bisa melakukan aksi penyerangan mereka kepada target, dalam hal ini adalah pemerintah dan kepolisian.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...