Militer Israel Akui Suplai Senjata dan Uang ke Pemberontak Suriah

by

Militer Israel mengakui untuk pertama kalinya telah memberi dukungan kepada kelompok bersenjata di Suriah yang anti terhadap pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Dukungan itu berupa uang tunai, senjata, amunisi, pakaian, obat-obatan dan genset dengan bahan bakarnya.

“Militer mengkonfirmasi itu merupakan bagian dari Operasi Tetangga Baik (Operation Good Neighbour) dengan menyuplai pemberontak Suriah di dekat perbatasan dengan senjata ringan, amunisi untuk membela diri dari serangan,” begitu dilansir media Jerusalem Post, Selasa, 4 September 2018.

Militer Israel juga memberi uang tunai dalam jumlah cukup besar kepada para pemberontak untuk membeli senjata tambahan.

Menurut media Jerusalem Post, yang dikutip Russia Today, Operasi Tetangga Baik ini sudah berjalan sejak 2016.

Operasi itu telah menyuplai sekitar 1524 ton makanan, 250 ton pakaian, 947,520 liter bahan bakar, 21 generator, 24,900 berbagai obat-obatan dan perlengkapan medis.

Informasi ini sebenarnya telah muncul dari berbagai sumber lain sejak beberapa waktu terakhir.

Pemerintah Bashar al-Assad, misalnya, mengklaim Israel memberi senjata kepada kelompok teroris. Ini diketahui dari penyitaan sejumlah senjata dan amunisi bertuliskan bahasa Ibrani oleh pasukan Suriah.

Salah satu kelompok pemberontak yang mendapat dukungan persenjataan dari Israel adalah Fursan al-Joulan, yang memiliki anggota sekitar 400 orang.

Setiap bulan, kelompok ini mendapat suplai uang sekitar US$5000 atau sekitar Rp75 juta dari Israel.

“Israel berdiri di sebelah kami dengan cara yang heroik,” kata Moatasem al-Golani, juru bicara kelompok itu, kepada Wall Street Journal pada Januari 2017. “Kami tidak akan bertahan tanpa bantuan Israel.”

Militer Israel meyakini keputusan untuk menyediakan senjata dan uang tunai kepada kelompok pemberontak di sepanjang perbatasan Datatan Tinggi Golan sebagai keputusan yang tepat.

Tujuan pemberian bantuan senjata kepada kelompok pemberontak lewat Operasi Tetangga Baik ini adalah untuk menghalau pasukan Hizbullah dan Iran dari Dataran Tinggi Golan.

Saat ini, pasukan Suriah dengan dukungan militer Rusia dan Iran mulai menguasai sebagian besar wilayah Suriah, yang awalnya sempat dikuasai berbagai kelompok bersenjata baik oposisi maupun teroris.

Satu wilayah yang masih dikuasai kelompok pemberontak adalah Provinsi Idlib, yang saat ini terkepung dan mulai mendapat serangan udara pasukan koalisi Suriah. Idlib terletak di barat laut Suriah dan berbatasan dengan Turki.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan pasukan koalisi Suriah agar tidak menyerang Idlib secara besar-besaran, yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa warga sipil. Saat ini ada sekitar 3 juta warga sipil yang tinggal di Idlib.

Israel juga memperingatkan Suriah agar tidak menjadikan wilayahnya sebagai markas bagi pasukan Iran.

Pada Senin kemarin, militer Israel mengatakan telah menyerang pasukan Iran dan Hizbullah sebanyak 202 kali sejak satu setengah tahun terakhir.

Sumber: tempo.co

Loading...
loading...
loading...