Meski Sering Bermasalah, Ini Alasan Lion Air Tak Bisa Dibekukan

by

Pesawat Boeing 737 Max-8 milik Lion Air jatuh di Tanjung Pakis, Perairan Karawang, Senin (29/10) lalu.

Pesawat nahas yang membawa 189 penumpang itu sedianya akan terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih terus melakukan investigasi sambil menunggu tim bersama Basarnas untuk menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR).

Jika didapatkan ada indikasi pidana dalam kecelakaan pesawat itu, apakah Lion Air pantas untuk ditutup? Tentu masih terlalu dini untuk menyimpulkannya.

Namun, apa jadinya jika maskapai yang memiliki jargon ‘We Maka People Fly’ itu ditutup?

Presiden Direktur Aviatory Indonesia Ziva Narendra menuturkan keberadaan maskapai bertarif murah atau Low Cost Carrier (LCC) seperti Lion Air di negara kepulauan seperti Indonesia adalah sebuah kesempatan atau opportunity.

“Lion Air melayani lebih dari 200 pesawat setiap harinya. Bayangkan berapa juta penumpang per hari. Kalau company tiba-tiba ditutup, apa yang akan terjadi?,” kata Ziva di Jakarta, Rabu (7/11).

Hal itu makin mustahil dengan melihat pangsa pasar Lion Air Grup yang menguasai 20 persen hingga 30 persen seluruh maskapai penerbangan domestik tanah air.

“Karena kalau Lion Air ditutup kita mesti siap market yang terpotong bisa 30 persen. Dan maskapai lain belum bisa serap,” katanya.

Ziva menilai tentunya perlu berpikir dua kali untuk menutup sebuah maskapai apalagi akibat dari sebuah kejadian kecelakaan.

Menurutnya, lebih baik pemerintah melakukan koreksi terhadap maskapai dan memperbaiki regulasi yang ada.

“Tetap ada pembelajaran, kalau ternyata ada anomali air speed indicator serta ada kerusakan di empat penerbangan terakhir. Yang pasti apakah sanksinya adalah hukum penerbangan atau pidana yang akan kelihatan setelah KNKT umumkan hasilnya,” pungkasnya.

Sumber: jawapos.com

Loading...
loading...
loading...