Menurut Ahli Gizi, Ini Tips Menyajikan Makan Sahur yang Tepat

by

Memasuki Bulan Ramadhan tahun ini, dalam menyajikan makanan ketika sahur, Ahli Gizi Klinik RSUD Ulin, Banjarmasin, Wahyu Hardi Prasetyo menyarankan beberapa hal.

Sebutnya, makan sahur merupakan sunah di dalam menjalankan ibadah puasa.

Akan tetapi makan sahur juga perlu menjadi perhatian kita untuk cerdas dalam memilih makanan untuk dikonsumsi tubuh yang tepat.

Hal itu agar selama menjalankan puasa dalam keadaan prima, tidak ada keluhan yang di dapat.

“Karena makan sahur hanya terjadi perubahan waktu makan, kita tetap makan teratur sesuai kaidah Ilmu gizi, makan sehat, seimbang, higienis dan aman sehingga tubuh anda selalu fit dan fresh selama menjalankan Ibadah puasa,” ucap Wahyu, Minggu (5/5/2019).

Ia menjelaskan, makan sahur sebagai perubahan dari waktu makan pagi. Sehingga dalam makan tidak perlu dalam jumlah banyak.

Hanya dalam pembagian, Makan utama sahur (makan lengkap ada makan pokok atau penukar, lauk hewani dan nabati, sayur dan buah) sekitar 25 sampai 30 persen dari total kalori.

Begitu sekitar 30 menit barulah dianjurkan memakan selingan berkisar 10 sampai 15 persen total kalori.

“Makan sahur sangatlah berfungsi sebagai kalori untuk melakukan aktivitas pada jam berikutnya. Persiapan melaksanakan ibadah, dilanjutkan dengan aktivias masing masing, seperti bekerja dan lain-lain. Sehingga diperlukan asupan makan sahur yang komposisinya dengan gizi seimbang untuk tubuh,” jelasnya lagi.

Wahyu menerangkan beberapa contoh menu sehat yang dianjurkan saat sahur.

Di antaranya, makan sahur dengan nasi, ikan goreng, tahu bumbu, tumis cah sayuran, pisang ambon.

Sementara untuk makanna selingan yakni roti kukus dan teh manis. Makanan yang dimakan ujar Wahyu hendaknya dalam keadaan hangat.

Karena dapat meningkatkan nafsu makan. Kemudian mengandung unsur komposisi gizi seimbang, aman dan higienis.

Ia menyarankan untuk mengurangi makanan yang memiliki kandungan lemak.

Terutama lemak yang digunakan untuk media dalam pengolahan makanan untuk lauk dan sayuran.

Karena pada waktu pagi perlunya tahap lambung atau perlahan untuk menerima makanan.

“Batasi makan yang merangsang dari pengolah, seperti cabe, merica, pala ,lada,” ujarnya.

Masakan pun ujar Wahyu perlu bervariasi sajiannya. Tidak semua mengandung olehan lemak atau media lemak yang digunakan.

Variasi itu ada yang direbus, digoreng atau ditumis, ditim, sehingga tidak terasa enek pada lambung waktu makan.

Makan sahur hendaknya 25 sampai 30 persen dari total kalori.
Kemudian, 30 menit setelah makan utama sahur dapat makanan selingan 10-15 persen dari total kalori (dekat waktu imsak).

“Jangan makan sahur dengan makan sebanyak-banyaknya, dengan asumsi untuk menjadikan makanan cadangan di dalam tubuh, karena akan berbahaya pada saat menjalankan ibadah puasa pada siang harinya,” saran lelaki tersebut.

Pentingnya asupan air untuk tubuh saran Wahyu diupayakan pada makan sahur mendapatkan cairan berkisar empat gelas.

Wahyu juga mencontohkan untuk menu sahur pilihan.

Semisal sahur pada pukul 04.00 WITA, itu menjadi waktu untuk makan selingan sahur yang menunya, teh manis dengan pisang goreng.
Kemudian bisa pula teh manis dan ubi goreng.

Serta teh manis dengan bakwan goreng.

Sementara pukul 04.30 WITA, untuk makan utama sahur, yakni nasi, ayam goreng, bakwan udang ditambah tahu, sop sayuran, kerupuk, sambel dan papaya.

Atau bisa juga perpaduan nasi, ikan bumbu merah, tempe bacem, sayur tumis, kerupuk, sambal dan melon.

Sumher: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...