Meningkatkan Kepedulian Membangun Negeri

by -154 views

Oleh Suhairi*

Suatu ketika, saya menghadiri Pengajian Rutin Malam Jumat Manis “Tambhana Ate” atau “Obat Hati” di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Lenteng Sumenep Madura. Acara ini bukan hanya dihadiri kalangan santri, tapi masyarakat non santri yang sudah lanjut usia berbondong-bondong mendatangi tempat ini untuk menata hati ini. KH Ahmad Imam Mawardi, selaku pengasuh pondok pesantren yang juga dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, sekitar satu hingga dua jam memberikan ceramah yang intinya menggiring anggota jamaah untuk selalu menyikapi hidup dengan cara ikhlash. Ia juga sering memberikan contoh-contoh kecil, dari orang-orang kecil, yang memiliki kearifan hidup.

Pada waktu itu, ia mengisahkan seorang nenek tua di Surabaya, yang sudah berusia 73 tahun. Pada awalnya, si nenek ini numpang tidur di sebuah rumah berukuran 2 X 3 meter.  Namun, hal ini ternyata tidak membuat si nenek tadi bangga, karena bisa tinggal di sebuah rumah secara gratis. Ia tidak mau berpangku tangan. Di usianya yang senja, ia terus berusaha mencari nafkah. Hingga akhirnya, ia mampu mengontrak rumah sebesar Rp. 25.000,- per bulan. Dapat Anda bayangkan, seperti apakah rumah yang dikontrak si nenek tadi dengan uang sebesar itu. Namun uniknya, setiap bulannya, si nenek tersebut  memiliki uang lebih dari kebutuhan hidup sehari-harinya. Ia mampu menyisihkan uangnya sebesar Rp. 100.000,- untuk pembangunan mesjid.

Kisah ini memiliki kearifan yang sangat tinggi. Di saat manusia berlomba-lomba menumpuk harta untuk kepentingan dirinya, ternyata nenek tersebut mampu menyalurkan hasil keringatnya untuk kebutuhan bersama. Bagi kebanyakan orang, uang senilai Rp. 100.000,- memang memiliki nilai yang sangat kecil. Namun bagi si nenek yang sudah berusia 73 tahun tadi, uang tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Dan yang perlu diteladani dari keluasan berfikirnya adalah keikhlasannya untuk menyalurkan dana tersebut untuk pembangunan mesjid.

Secara sekilas, apa yang dilakukan nenek tersebut mungkin tampak sepele, tetapi ternyata dampaknya sangat luar biasa. Nenek itu memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap permasalahan sekitar. Jika ditarik pada ranah yang lebih luas, nenek ini telah menanamkan kepedulian, bukan perpecahan sebagaimana yang banyak diberitakan di media sosial akhir-akhir ini. Jika semua elemen bangsa memiliki kepedulian seperti itu, tentu keutuhan persatuan bangsa akan terjamin. Bukankah keutuhan NKRI harga mati?

Cerita serupa berasal dari PT Semen Padang. Direktur Operasi perusahaan tersebut menyumbang 1000 zak semen untuk pembangunan Masjid Istigfar yang tertimbun material galodo di Jorong Galapung, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Minggu (24/11/2019). Perbedaannya dengan cerita di atas adalah bahwa sang nenek tadi merupakan seorang miskin tetapi memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pembangunan masjid, sedangkan cerita kedua adalah sebuah perusahaan yang memiliki kekayaan yang luar biasa, dan juga memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial.

Kepedulian terhadap permasalahan sosial memang tidak memandang kondisi sosial ekonominya. Siapa pun berkewajiban membantu sesama yang membutuhkan. Terkadang, seseorang tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi sekitar dengan alasan karena ia sendiri masih sedang membutuhkan. Padahal, yang kaya terkadang juga masih berat untuk melakukan hal tersebut.

Dalam usianya yang 110 tahun, PT Semen Padang masih konsisten melayani kebutuhan masyarakat. Selama ini, perusahaan ini memang sangat peka terhadap kondisi sosial masyarakat. Salah satu bentuk kepedulian tersebut sebagaimana tersebut di atas bahwa perusahaan ini menyumbangkan 1000 zak semen untuk pembangunan masjid. Tentu, ada banyak hal yang juga telah diperbuat selain bantuan ini. Contoh ini hanya sebagai pemantik untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sekitar yang sangat melekat dengan adat ketimuran.

Tentu saja, ini bukan satu-satunya perusahaan yang memiliki kepedulian serupa tetapi tidak dibahas dalam tulisan ini, atau tidak terekspos di media massa. Tetapi, di usianya yang cukup matang, perusahaan tersebut memiliki sumbangsih yang sangat besar terhadap pembangunan negeri ini. Inilah yang patut kita dibanggakan, dan inilah yang patut kita tiru bersama.

Mengapa perusahaan tersebut masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap permasalahan umat? Ini erat kaitannya dengan motto yang melekat pada perusahaan itu;   Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan. Jika nenek tersebut di atas berusia 73 tahun, maka perusahaan Semen Padang sudah melebihi satu abad. Bayangkan, kiprahnya dalam membangun negeri ini sudah luar biasa dan perlu diacungi jempol, seperti memberikan beasiswa, mengadakan seminar parenting, hingga memberikan bantuan semen terhadap masjid yang terkena banjir dan tanah longsor.

Hati nenek di atas perlu diobati, sebagaimana sebuah perusahaan juga perlu diobati. Begitu juga hati kita perlu diobati. Salah satunya yaitu dengan cara meningkatkan kepedulian terhadap fenomena sekitar. Inilah salah satu cara kita membangun negeri ini. Sebab, ada harta orang lain yang harus disisihkan agar hati kita atau jantung perusahaan tetap stabil.
.
*Suhairi adalah Dosen IAIN Madura, Jawa Timur.

loading...
loading...