Menghabiskan Malam Bersama Nabi

by

Bismillahirrahmannirrahim…

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan siang berganti dengan malam, begitu juga malam berganti dengan siang. Telah menjadikan waktu datang silih berganti; detik berganti detik, menit berganti menit, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, kecuali dengan suatu tujuan.

وَالْعَصْرِ ( ) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ( ) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr 103:1-3)

Begitu juga Allah tidak menjadikan malam terjadi terus-menerus tanpa pergantian dan tidak menjadikan siang terjadi terus-menerus tanpa suatu pergantian.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ ( ) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Bagaimana pendapatmu jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai Hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah (Muhammad), ‘Bagaimana pendapatmu jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahatmu? Apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. al-Qashash: 71-72)

Namun, letak permasalahannya sekarang adalah bagaimana manusia menyikapi siang dan malam tersebut? Untuk apakah detik demi detik ia habiskan di waktu –waktu tersebut?

“Manusia Malam”
Orang yang berhati bersih, berakal sehat, berkemauan keras dan bercita-cita tinggi serta mendapat taufiq Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentunya akan berupaya untuk menjadi golongan orang-orang yang meraih keuntungan dan tidak celaka. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan kegelapan malam dan kelalaian manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan shalat malam hingga fajar menyingsing. Mereka berdiri, ruku’ dan sujud merendahkan diri kepada Allah demi mencapai ridhaNya. .

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ( ) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ ( ) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ( ) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air. Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik, mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat:15-19)

Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” (QS. Al Furqan 25:64)

Rasulullah di Malam Hari
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik manusia yang telah Allah ciptakan dan utus kepada setiap umat. Beliau adalah sebaik-baik manusia yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah, menjadi suri tauladan bagi seluruh manusia dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Begitu juga dalam melakukan ibadah shalat malam.

 “ ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdiri shalat malam hari sehingga telapak kakinya terpecah-pecah. Maka ‘Aisyah berkata, ‘Mengapa engkau melakukan hal ini, Wahai Rasulullaah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang kemudian?’.

أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

‘Tidakkah aku mau menjadi seorang hamba yang banyak bersukur?’, tukas beliau.” (HR. Bukhari)

Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengerjakan shalat malam hingga shalat tersebut menjadi suatu kewajiban bagi beliau, lalu beliau menganjurkannya kepada seluruh umatnya. Allah perintahkan RasulNya untuk megerjakan shalat malam pada ayat yang setelahnya Allah perintahkan untuk mengerjakan shalat wajib. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا ( ) وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakanlah pula shalat) Subuh. Sungguh, shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat. Dan pada sebagian malam, laksanakanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’: 78-79)

Sebagian ulama mengartikan firman Allah “sebagai suatu ibadah tambahan bagimu” artinya secara khusus bagi beliau (Muhammad) diwajibkan mengerjakannya sehingga mereka menjadikan shalat malam wajib bagi beliau (Muhammad) shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak wajib bagi umatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!. Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dati (seperdua) itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 1 – 4)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir beliau : “Allah Ta’ala memerintahkan RasulNya agar meninggalkan berselimut di malam hari dan bangkit untuk Rabbnya, sebagaimana firmanNya : ‘Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkankan sebagian dari rezeki yang Kami berikan’.(QS As Sajdah 32:16).

Berkata Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha kepada Abdullah bin Qais radhiallahu ‘anhu : “Jangan engkau meninggalkan shalat malam, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya dan adalah beliau jika sakit atau kesal beliau shalat sambil duduk” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh Al Albani rahimahullah)

Keutamaan Shalat Malam

Ada begitu banyak keutamaan shalat malam, di antaranya:

  1. Shalat malam adalah salah satu amal yang menyebabkan pelakunya masuk surga
  2. Shalat malam merupakan sebab terangkatnya derajat seorang hamba di dalam surga. Orang-orang yang senantiasa shalat malam memiliki surga khusus untuk mereka
  3. Shalat malam adalah ibadah yang biasa dikerjakan orang-orang shalih, ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, penghapus berbagai kesalahan dan pencegah dari perbuatan dosa
  4. Para malaikat memberi persaksian atas kesempurnaan iman penegak shalat malam
  5. Shalat malam sebagai sebab rahmat dan kasih sayang Allah kepada hambaNya. Pelaku shalat malam akan memperoleh cinta Allah
  6. Shalat malam adalah shalat yang paling afdhal setelah shalat lima waktu

 

Bermalam-lah dengannya…

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah luput dalam menegakkan shalat malam meski kantong pahala dan ampunan sudah berada di tangan beliau, meski surga telah dijanjikan kepada beliau, meski beliau adalah manusia terbaik dari seluruh manusia yang ada di dunia ini.

Lalu dimanakah posisi diri kita yang rendah ini jika dibandingkan dengan Rasulullah yang notabene tidak akan bisa ditandingi? Diri ini masih begitu mudah terlelap dalam empuknya kasur, hangatnya suasana malam, indahnya mimipi. Padahal kantong pahala belumlah ada di tangan ini dan jaminan surga belumlah sampai pada diri ini.

Jadikanlah diri ini sebagai hamba yang benar-benar beriman kepada Allah dan RasulNya dengan sebenar-benarnya iman. Jadikanlah diri ini selalu mengharap akan kemulian derajat yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya dengan mendirikan shalat malam. Bermalamlah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Engkau telah dibuai oleh kelezatan tidur…

Hingga engkau tidak mendapatkan kenikmatan hidup bersama bidadari-bidadari cantik di kamar-kamar Surga… Engkau hidup kekal abadi tidak ada kematian di dalamnya dan engkau mendapatkan beragam kenikmatan dalam Surga bersama bidadari yang cantik jelita.

Bangunlah dari tidurmu!

Sesungguhnya bagian yang terbaik dari tidur adalah mengerjakan shalat tahajud dengan membaca Al Qur’an. (Syair Malik bin Dinar)

Sumber: muslimah.or.id

Loading...
loading...
loading...