Mengenal Puguk Idun Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Lematang Ilir, Melawan Pasukan Gajah Merah

by -203 views

Namanya adalah Rohidun bin Dalaman. Di kampungnya, Desa Purun Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan, ia akrab disapa Puguk (kakek) Idun.

Lelaki yang sebenarnya tak ingat secara pasti kapan ia dilahirkan itu, mengira ia telah berusia sekitar 92 tahun.

“Saya lahir pada tahun 1928. Pada tahun 1945, ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, saya berusia 17 tahun,” tuturnya pada penulis, beberapa waktu lalu.

Pada saat ini, menurut kakek yang telah memiliki moneng beberapa orang itu (moneng : cucunya juga telah mempunyai cucu), semua orang yang sebaya dengannya tak ada lagi yang masih hidup.

Bahkan orang-orang yang berumur lebih muda darinya pun, telah banyak yang lebih dahulu menghadap Yang Kuasa.

“Saya ini diberi Allah umur panjang. Sehingga banyak penemu (pengalaman). Tapi hampir sepanjang usia, sebenarnya perjalanan hidup saya lebih banyak pahitnya,” cetusnya sembari tersenyum getir.

Rohidun memiliki dua orang saudara. Satu lelaki, satu perempuan. Yakni Kadarudin yang sempat menjabat sebagai Keriye dan Sari Kembang.

Namun malang baginya, ayahnya Dalaman yang merupakan Ketua Partai Masyumi setempat bersama Kadarudin adiknya, menghilang tanpa jejak, diburu pasukan penjajah.

“Entah kemana mereka. Hingga kini tak pernah kembali dan tak ada kabarnya, karena dikejar-kejar oleh pasukan Gajah Merah (sebutannya pada serdadu Belanda). Bahkan, kuburannya pun kami tak pernah tahu di mana,” ungkapnya sedih.

Puguk Rohidun, pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat selama dua tahun. Pada 1940 ia sempat berhenti, karena Jepang melakukan konfrontasi dengan Belanda. Lalu Jepang menang, ia pun kembali belajar selama dua tahun berikutnya.

Saat itu usianya tepat 12 tahun. Karenanya ia pandai membaca dan menulis. Baik Bahasa Indonesia maupun Arab.

Pada medio 1947, pasukan Gajah Merah kembali menjejakkan kakinya di wilayah tersebut. Dari itu, kisah mengenaskan satu persatu dialami oleh Puguk Idun. Pria berperawakan tinggi kekar, dan berhidung bangir itu beberapa kali ditawan Belanda.

“Pada saat itu sebenarnya Indonesia sudah merdeka. Tapi entah mengapa, Belanda masih saja mencoba untuk menjajah kita?” cetus pria yang sudah pekak (tuli), namun belum rabun itu.

Pertama ditangkap oleh Belanda, beberapa orang warga kampungnya dikumpulkan di Balai Desa, berdasarkan laporan dari Keriye saat itu. “Jadi siapa saja yang melawan, tidak terima atas kedatangan Belanda. Ditangkap.”

Beruntung, setelah ditahan beberapa minggu, ia dilepaskan. Namun tak lama kemudian, ia kembali ditahan oleh pasukan penjajah. Karena kedapatan membawa pisau.

“Saat itu, saya habis medang merjake (main) jalan kaki ke Desa Raja (Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, saat ini). Ternyata di jalan kena razia oleh tentara Gajah Merah.”

Ia pun ditanya oleh tentara itu, “Kenapa Kamu membawa pisau. Kamu jaga?”

“Iya, Tuan,” jawabnya.

Rupanya teman-teman yang bersamanya saat itu, saat diinterogasi oleh Belanda, tidak membenarkan alasannya, bahwa ia sedang jaga (Belanda memerintahkan pada warga lokal setempat untuk jaga keamanan, di bawah komando mereka).

“Akibatnya saya pun kembali ditawan. Selama tiga bulan dipenjara oleh mereka, rambut saya pun gondrong. Kutunya sangat banyak sekali. Selain itu, dalam sehari hanya diberi makan kedelai rebus satu genggam. Tidak dimakan lapar, dimakan pun perut semakin pedih rasanya,” kenangnya.

Nasib baik, Indonesia lalu melakukan perdamaian dengan Belanda. Seorang petinggi pasukan Belanda bernama Sersan Tonny, pun mengeluarkannya, beserta tawanan lainnya.

Tak lama kemudian, terkabar Sersan Tonny mati dibunuh oleh pejuang di Desa Gunung Menang (Kecamatan Penukal Kabupaten PALI, saat ini).

Tak hanya itu, cerita mengenaskan lainnya saat ia ditawan penjajah yaitu pernah dihukum rendam di sungai, sehingga hanya kepala saja yang timbul di permukaan.

Kaki dan tangan di ikat di sebuah kayu, dalam air. Ia juga pernah dipaksa makan kotoran manusia, oleh pasukan Belanda.

“Sebenarnya Belanda sangat licik. Mereka menerapkan politik adu domba yang kejam. Pasukan mereka yang ditugaskan di daerah kita ini, sesungguhnya adalah orang-orang Indonesia juga, dari timur,” umpatnya.

Puguk Idun mengisi masa remajanya dengan bergabung sebagai Tentara Laskar Hizbullah.

Kebenciannya pada penjajah yang telah menghilangkan ayah dan juga adik laki-laki satu-satunya, bergemuruh di dadanya. Satu yang terpatri di dalam otaknya, bahwa penjajah harus diusir dari bumi pertiwi.

“Kala itu, pilihannya hanyalah merdeka atau mati!” suaranya mendadak menggelegar.

Selain kecepek (senjata api rakitan), beberapa peralatan perang peninggalan Jepang yang berhasil dipukul pergi oleh Belanda, dapat dimanfaatkan oleh para gerilyawan, Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Laskar Hizbullah untuk menyerang pasukan Gajah Merah.

Tak hanya beberapa kali terlibat gencatan senjata, Puguk Idun juga sempat bertugas di pedapuran pejuang (menyiapkan ketersediaan makanan).

Menurutnya, puluhan bahkan ratusan sahabatnya tewas di medan laga. Beberapa ditangkap oleh penjajah, lalu dibunuh secara brutal. Beruntung, Tuhan masih memberinya umur panjang.

“Pada tahun 1986, beberapa teman anggota TRI dan Laskar Hizbullah mengajak untuk mengurus dokumen terkait perjuangan kami. Katanya nanti bakal ada pensiun. Namun saat itu kondisi ekonomi keluarga kami sedang susah. Saya tak ada biaya.” Untuk menghadap komandannya di Muara Enim, Puguk Idun mengaku tak punya ongkos.

Kini, ia menjalani sisa umurnya dengan sederhana. Bahkan sebenarnya terkesan kekurangan. Di usia senja, ia tak mampu lagi bekerja.

Dengan istrinya Nangima binti Rahasan, Puguk Idun mempunyai anak empat perempuan tiga lelaki. Tiga di antaranya sudah meninggal. Tersisa empat orang yang semuanya telah berumah tangga, beranak cucu dan berpiut (buyut).

Sepeninggal istrinya wafat 19 tahun lalu, Puguk Idun menikah lagi. Kini ia mempunyai seorang putri yang beranjak remaja. Mereka menempati sebuah gubuk bertiang kayu, di Desa Betung Kecamatan Abab Kabupaten PALI.

Untuk makan sehari-hari, Puguk Idun secara berkala seminggu sekali mengunjungi anak cucunya, di Desa Purun. Pada mereka, ia mengharap kasih meminta ongkos ala kadarnya.

Dulu ia masih bisa mengayuh sepeda dari Betung ke Purun. Seiring usia yang kian renta, kini ia tak mampu lagi, dan sepedanya pun telah dijual.

“Kalau saya mau pergi-pergi, biasanya menyetop motor atau mobil yang lewat. Numpang,” katanya, sembari tertawa.

Kini, Rohidun bin Dalaman tak lagi memikirkan soal pensiunnya yang hangus. Tak digaji oleh negara tak mengapa. Prinsipnya, yang penting kemerdekaan sudah berhasil didapatkan. Ia sudah senang.

“Saya beruntung. Masih sempat merasakan alam kemerdekaan seperti sekarang. Teman-teman seperjuangan saya banyak yang tewas. Jadi saya ikhlas. Biarlah Allah yang membalasnya,” pungkasnya, tersenyum tulus.

Sumber: teras.id

loading...
loading...