Mengenal Istilah Khitbah dan Hal-hal yang Berkaitan Dengannya

by

Khitbah atau lamaran adalah meminta seorang wanita untuk dinikahi, tentu saja dengan cara yang dikenal di masyarakat dan diketahui olah wali si wanita.

Umumnya khitbah dilakukan oleh pihak lelaki. Namun pihak wanita pun sebetulnya diperbolehkan melamar. Bahkan orangtua dianjurkan ‘menawarkan’ putrinya agar dinikahi seorang lelaki.

Tujuan khitbah tak lain untuk memastikan apakah wanita yang dilamar bersedia atau tidak menjadi istri.

Sebelum menikah hendakalah seorang lelaki meng-khitbah wanita yang menjadi calon istrinya. Selain itu dianjurkan menanyakan perihal calon istrinya –seperti apakah ia, berakhlak baikkah, penyabar, dan lain sebagainya — kepada keluarga, tetangga dan kepada teman-teman dekatnya.

Pihak wanita tersebut memiliki hak serupa, yaitu menanyakan seputar kepribadian pihak laki-laki. Pihak wanita pun berhak menolak lamaran pihak laki-laki jika ternyata laki-laki tersebuttidak sesuai kriteria yang ditetapkan oleh syariat Islam.

Selain itu pihak wanita dalam hal ini orang tua meskipun memilki hak menerima atau menolak lamaran, dianjurkan meminta pertimbangan kepada putrinya dengan menanyakan apakah ia bersedia dilamar atau tidak.

Apabila putrinya merasa cocok dan menerima lamaran tersebut dengan berlandaskan pada sisi agama si pelamar, maka orang tua sebaiknya menerima lamaran tersebut.

Demikian juga apabila putrinya tidak berkenan dengan pelamar karena mungkin agamanya kurang baik, maka orangtua sebaiknya mengikuti putrinya.

Namun dalam proses seleksi ini benturan antara  anak dan orang tua sebisa mungkin untuk dihindari. Orang tua diharapkan lebih bijaksana dalam menentukan apakah lamaran diterima atau ditolak.

Karena bagaimanapun juga yang menjalani kehidupan keluarga toh si anak, bukan orang tua.  Si anak pun sebaiknya mengikuti pilihan orang tua jika laki-laki itu baik dari segi agamanya.

Hukum Khitbah
Pada dasarnya hukum khitbahialah sunah. Karena itu Rasulullah SAW menganjurkan melakukan khitbah sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Hukum khitbahmenjadi makruh bahkan mengarah ke haram apabila terdapat beberapa faktor, yaitu:

Pertama, wanita yang di-khitbah masih berstatus istri orang. Sebagaimana Allah melarang menikahi wanita yang sudah bersuami, Allah juga melarang meng-khitbah-nya.

Sebab dengan meng-khitbah atau menikahi wanita tersebut berarti seseorang telah merusak tali pernikahan, dan hal itu jelas tidak diperbolehkan. Sebagaimana firman-Nya:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. Allah telah menetapkan hukum itu sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 24)

Seorang laki-laki juga tidak diperbolehkan membujuk dengan iming-iming akan dinikahi sekiranya wanita yang telah bersuami itu mau menuntut cerai kepada suaminya.

Sebab dengantindakannya itu berarti laki-laki tersebut telah menerjang kehormatan seorang suami. Rasulullah Saw melarang bahkan beliau mengancam tindakan semacam itu, sebagaimana sabdanya:

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa merusak seorang istri atas suaminya maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Imam Baihaqi)

Kedua, wanita yang di-khitbah masih dalam masa iddah,  baik ‘iddah itu karena talak (cerai)atau karena wafatnya sang suami.

Apabila wanita yang dalam masa ‘iddahtadi disebabkan talak raj’i (talak yang memungkinkan mantan suami bisa kembali), seseorang diharamkan meng-khitbah baik secara sindirian (ta’ridh) maupun terang-terangan (tashrih). Karena status hukumnya ia masih istri mantan suaminya.

Hubungan suami istri antara keduanya belum putus. Dan sang suami boleh melakukan rujuk kapanpun ia menghendakinya, dengan catatan istri masih berada dalam masa iddah.

Sedangkan wanita yang masih dalam masa iddah tadi disebabkan talak tapi bukan talak raj’i, maka ia boleh di-khitbah hanya dengan sindiran (ta’ridh), dan haram jika di-khitbah dengan terang-terangan (tashrih).

Dan perlu dicatat, dalam kondisi ‘Iddah diharamkan melakukan akadnikah sampai iddah-nya benar-benar habis. Sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran:

وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلا أَنْ تَقُولُوا قَوْلا مَعْرُوفًا وَلا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ.

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janjimenikah dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka)perkataan yang ma’ruf dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. al-Baqarah: 235)

Ketiga, wanita yang di-khitbahsedang dalam khitbah orang lain

Diantara syaratkhitbahialah wanita yang akan di-khitbahtidak dalam khitbahorang lain. Apabila seorang laki-laki telah meng-khitbah seorang wanita, dan keluarga wanita telah menerimanya, maka wanita itu tidak boleh di-khitbah,sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

لاَ يَبِيعَنَّ أَحَدُكُمْ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلاَ يَخْطُبْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Artinya: “Janganlah sekali-kali salah satu kalian berjual beli di atas teransaksi saudaranya sendiri. Dan janganlah kalian meng-khitbah diatas khitbah orang lain,kecuali dengan izinnya.”(HR. Imam Baihaqi)

Khitbah seperti di atas dilarang supaya tidak terjadi tindakan diluar batas dari peng-khitbah pertama  yang merasa dilecehkan.

Lebih-lebih antara peng-khitbah pertama dan wanita yang di-khitbahsudah saling setuju dan suka sama suka. Kehadiran peng-khitbahkedua hanya akan memaning permusuhan dan mengeruhkan suasana. Oleh karena itu Islam mengharamkan meng-khitbah wanita yang sudah di-khitbah orang lain .

Dalam kasus lain meng-khitbah wanita yang sudah di-khitbah hukumnya tidak mencapai tingkat haram namun sebatas makruh.

Yaitu apabila pihak keluarga (ayah atau kakek) wanita yang di-khitbah belum menentukan apakah khitbah orang pertama itu diterima atau tidak. Maka meng-khitbah wanita yang demikian hukumnya makruh.

Melihat Wanita yang akan Di-khitbah
Melihat (an-nadhru) wanita yang akan di-khitbah diperbolehkan. Proses ini dilakukan sebelum akad nikah dilaksanakan. Tujuan melihat calon istri yaitu memperkuat jalinan cinta.

Dengan melihat calon istri maka diharapkan tidak ada kekecewaan di kemudian hari. Selain itu, agar lebih memahami karakteristik calon pasangan sebelum hari pernikahan tiba.

Melihat merupakan hak setiap peng-khitbah sebagaimana yang telah Rasulullah Saw perintahkan:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً , فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِلْخِطْبَةِ، وَإِنْ كَانَتْ لَا تَعْلَم

Apabila salah seorang dari kalian mengkhitbah seorang wanita, maka tidak ada larangan atasnya untuk melihat wanita tersebut asalkan melihatnya semata-mata untukkhitbah, meskipun wanita tersebut tidak mengetahuinya.” (HR. Imam Ahmad)

Melihat wanita dengan niat menikahi itu diperbolehkan, walaupun melihatnya dengan syahwat. Adapun melihat wanita sebelum ada niat menikahi hukumnya haram.

Sementara melihat wanita yang akan di-khitbah secara berulang-ulang meskipun lebih dari tiga kali sampai jelas baginya bentuk dan postur tubuh wanita tersebut juga tidak dilarang. Namun jika telah jelasbentuk dan postur tubuh wanita tersebut, maka melihatnya kembali hukumnya haram.

Sebelum akad nikah, peng-khitbah juga diperbolehkan mengutus wanita atau orang yang mempunyai ikatan mahram terhadap wanita yang akan di-khitbah untuk mengamati wanita yang akan di-khitbah tersebut.

Rasulullah Saw sendiri pernah mengutus seorang wanita untuk mengamati wanita yang akan beliau khitbah agar diperoleh gambaran mengenai wanitatersebut.

Adapun anggota badan dari wanita yang diperbolehkan untuk dilihat cukup wajah dan kedua telapak tangan.

Melihat wajah untuk mengetahui cantik atau tidaknya wanita yang akan di-khitbah, sedangkan melihat kedua telapak tangan untuk mengetahui kesuburannya. Selain wajah dan telapak tangan tidak boleh dilihat.

Keserasian (Kafa’ah)
Dalam pernikahan dikenal istilah kafa’ah atau kufu yang berarti keserasian antara calon suamidengan calon istri.

Pernikahan merupakan ikatan yang erat kaitannya dengan kehormatan, kemuliaan, harta serta nasab dua keluarga. Maka kafa’ah, kesepadanan derajat dalam pernikahan dipandang pentingdemi terwujudnya pasangan yang ideal.

Adanya kafa’ahini agar tidak terjadi ketimpangan diantara suami istri di kemudian hari. Sehingga kehidupan keluarga berjalan baik, serta segala sesuatu yang tidak diinginkan dalam rumah tangga dapat dihindarkan.

Dengan adanya kafa’ah, maka komitmen bersama untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang harmonis kemungkinan besar dapat terwujud. Mengenai hal itu Nabi bersabda:

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ لاَ تَضَعُوهَا إِلاَّ فِى الأَكْفَاءِ

Pilihlah tempat untuk sperma kalian. Jangan sampai menempatkannya kecuali pada wanita-wanita yang kufu.” (HR. Imam Daru  Quthni)

Kafa’ah umumnya merujuk pada empat kreteria, yaitu:

  1. Nasab. Nasab atau keturunan ini meliputi apakah dia keturunan dari orang merdeka atau budak; keturunan orang yang luas ilmu agamanya (saleh secara agama) atau tidak; dan lain-lain. Apabila calon suami berasal dari keturunan yang sederajat bahkan lebih unggul dalam beberapa kreteria daripada pihak calon istri maka kedua pasangan ini dianggap sederajat. Apabila dalam satu kriteria saja dari pihak calon suami lebih rendah daripada pihak calon istrimaka dianggap tidak sederajat. Inilah pendapat yang dipegang oleh Imam Nawawi, Rafi’i dan diikuti oleh ulama mutaakhkhirin seperti Imam Ibnu Hajar dan ar-Ramli.
  1. Dalam hal nasab. Indikator kriteria ini adalah kredibilitas, merdeka, profesi, ketokohan dalam hal keilmuan dan kesalehan serta kepemimpinan. Namun pendapat kedua ini tidak mensyaratkan harus sederajat. Bahkan, bila tidak unggul dalam salah satu derajat atau lebih masih dianggap sebagai pasangan yang kufu. Pendapat ini dikemukakan oleh al-‘Amudy. Menurut Ibnu Qadli pendapat inilah yang diunggulkan oleh imam an-Nawawi dan ar-Rafi’i.
  1. Yang dijadikan parameter ialah kriteria calon suami-istri bukan nenek moyangnya. Pendapat ini yang diunggulkan al-Adzra’i dan Ibn Rif’ah.Menurut  al-‘Amudy, pendapat ini adalah  yang dipilih sesuai tradisi sejak zaman dahulu.
  1. Kriteria kafa’ah ialah dapat saling melengkapi. Artinya jika dalam satu kriteria yang sudah disebutkan kalah unggul namun dalam kriteria lain mengungguli maka juga dianggap kufu.

Sumber: ngajionline.net

Loading...
loading...
loading...