Menahan Diri Dari Pujian

by

Suatu hari saat berkumpul bersama para sahabat, Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang Muslim, sebutkanlah kepadaku pohon apakah itu?”

Para sahabat menerka dengan menyebut pohon-pohon di sekitar lembah, tapi tak satu pun jawaban yang benar. Rasulullah berkata, “Ia adalah pohon kurma.

Di tengah kumpulan para sahabat kibar (tokoh sahabat) itu, ada seorang anak kecilIa ingin ikut menjawab, namun karena hormat kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat senior lainnya, ia mengurungkan niatnya. Dalam lanjutan hadits ini, Abdullah bin Umar—si anak kecil cerdas—bertutur, “Saat itu terbesit dalam diriku bahwa pohon itu pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”

Sahabat, bergaul dengan banyak orang memberikan peluang kepada kita untuk banyak mengambil hikmah dan pelajaran.

Dari pergaulan, kita mengenal secara nyata mana sikap baik dan buruk, mana yang menyenangkan dan meresahkan, mana yang membuat orang lain nyaman dan tidak, dan sebagainya.

Beragam kondisi dan sikap orang lain yang kita temui tak seharusnya membuat kita merasa terbaik, merasa paling tahu, atau merasa lebih dari orang lain.

Pergaulan itu sesungguhnya mendatangkan sikap sadar diri bahwa kita perlu banyak belajar. Itulah sebabnya Allah swt mengingatkan di surat an-Najm ayat 32,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Sahabat, dalam konteks pergaulan kita dengan orang yang usianya lebih tua, Ibnu Umar mencontohkan bagaimana kita harus selalu sadar diri.

Malu Ibnu Umar dalam majelis itu bukan karena ia pemalu, tapi karena rasa hormat terhadap para tokoh sahabat.

Ia menahan diri untuk memperlihatkan kecerdasannya karena khawatir mendapat pujian yang membuatnya tinggi hati. Ia lebih suka berhati-hati terhadap segala kemungkinan hinggapnya “rasa” yang akan menodai hatinya.

Ibnu Umar memilih untuk tidak populer di forum itu demi keselamatan hatinya. Demikianlah Ibnu Umar, ia dikenal sebagai sahabat yang tak ingin terlihat menonjol di antara tokoh sahabat lainnya.

Di tengah hiruk-pikuk kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi ini, mampukah kita menjadi sosok seperti Ibnu Umar, yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, namun selalu menjaga kebersihan hati untuk tidak haus pujian?

Sumber: ummi-online.com

Loading...
loading...
loading...