Masyarakat Yakin Kecelakaan Maut Tol Cipularang Karena Angkernya Gunung Hejo, Ahli Berpendapat Ini

by -1,244 views

Bukan sekali dua kali kecelakaan maut terjadi di Tol Cipularang terutama di Km 90-100.

Teranyar, kecelakaan beruntun terjadi di Tol Cipularang Km 92 yang melibatkan 21 kendaraan.

Kecelakaan beruntun itu disebut sebagai kecelakaan terparah yang terjadi di Km 90-100.

Banyaknya kecelakaan maut yang terjadi di Tol Cipularang dikaitkan dengan misteri Gunung Hejo.

Melansir dari Kompas.com, penduduk sekitar Tol Cipularang percaya bahwa kecelakaan maut berkaitan dengan Gunung Hejo yang angker.

Gunung Hejo itu berada di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, Jawa Barat.

Tepatnya, ada di Tol Cipularang Km 96,2. Bukit itu berdiri di sebelah kiri arah tol Bandung menuju Jakarta.

Masyarakat setempat percaya Gunung Hejo adalah tempat petilasan atau bertapa Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.

Untuk mengakses ke petilasan di Gunung Hejo, masyarakat bisa menaiki anak tangga yang ada di samping tol tersebut.

Wujud petilasan itu menyerupai makam dengan batu terbungkus kain putih.

Di batu itulah, konon Prabu Siliwangi sering bertapa.

Menurut penduduk setempat, petilasan itu sering dikunjungi peziarah, baik sebelum dan sesudah Tol Cipularang dibangun.

Pengunjung tak hanya berasa dari Kota Bandung saja, tapi berasal juga dari Jakarta, Bogor, Karawang, dan Jawa Tengah.

Beredar kabar saat pembangunan tol dimulai, pihak kontraktor berusaha menembus Gunung Hejo untuk dijadikan jalan tol.

Namun, usaha itu gagal karena gunung tersebut tak bisa dirobohkan dengan alat berat.

Alhasil rute jalan tol di daerah itu dibuat melingkar.

Karena tingginya angka kecelakaan di lokasi tersebut, kepolisian sempat melakukan penelitian.

Martinus Sitompul yang sempat menjabat sebagai Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri pada 2014, Kombes Martinus Sitompul mengatakan di kilometer 97 memang rawan kecelakaan.

Oleh sebab itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jasa Marga, Kepolisian, dan sejumlah pakar pernah melakukan evaluasi dan penelitian di Tol Cipularang Km 90-100.

“Kalau dilihat dari hasil kajian ilmiah kilometer 90-100 secara keseluruhan, pengguna kendaraan memang harus ekstra hati-hati saat melewati jalur tersebut. Kondisi jalanan menurun dengan belokan dan kontur angin membuat pengendara harus lebih hati-hati,” ujar Martinus yang dua tahun lalu menjabat sebagai Kabid Humas Polda Jawa Barat, seperti dimuat Kompas.com, Selasa (2/12/2014) silam.

Sementara itu, pakar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Ofyar Z Tamin, mengatakan bahwa trek jalan yang mulai menurun dari kilometer 100 dan ditambah beban massa dari kendaraan membuat laju kendaraan bertambah cepat.

Saat kondisi seperti ini, pengemudi seharusnya meningkatkan kewaspadaan.

“Saat mendesain dan membangun jalan ada yang disebut kecepatan rencana. Artinya, kendaraan akan aman jika melaju baik saat memasuki tikungan atau jalan menurun berada di bawah kecepatan rencana,” ujar Tamin.

Penyebab Kecelakaan
Menurut pemerhatian Kanitlaka Satlantas Polres Purwakarta, Iptu Asep Kusmana, penyebab kecelakaan di jalan Tol Cipularang itu memang beragam.

Beberapa di antaranya bisa karena kondisi pengemudi, kendaraan sendiri, hingga kendaraan lain.

Pada 2017, Kanitlaka Satlantas Polres Purwakarta, Iptu Asep Kusmana meyoroti faktor dan penyebab kecelakaan di Km 90-100 itu.

Iptu Asep Kusmana mengatakan ruas Tol Cipularang antara Km 90-100 adalah blackspot

Ia menyebut jalur tersebut sebagai blackspot karena menjadi lokasi yang rawan kecelakaan yang sudah banyak menelan korban.

Seperti halnya kecelakaan yang terjadi hari ini di Tol Cipularang di Kilometer 92, Senin (2/9/2019).

Sebelumnya juga terjadi kecelakaan di Kilometer 96 pada Jumat (28/6/2019).

Pada kecelakaan hari Jumat itu terjadi karena sopir diduga mengantuk.

Hal itu mengakibatkan dua korban meninggal dunia dan tiga penumpang lainnya luka-luka.

Menelaah dari banyaknya kecelakaan yang terjadi, Iptu Asep Kusmana mengatakan di sekitar lokasi blackspot itu memiliki beberapa faktor penyebab kecelakaan.

Kecelakaan terjadi disebabkan faktor human error maupun faktor geometrik jalannya.

Human Error

Mengantuk atau kelelahan saat mengemudi sangatlah fatal sekaligus meningkat kemungkinan kecelakaan.

“Di lokasi blackspot Cipularang itu menjadi titik lelah pengemudi, kemudian kontur jalannya turunan, tanjakan dan dikombinasi dengan banyak tikungan,” kata Asep kepada Tribun Jabar saat ditemui di Mapolres Purwakarta, Ciseureuh, Purwakarta.

Selain faktor jalan dan kendaraan, kecelakaan yang fatal juga terjadi karena pengemudi mengalami Microsleep.

Microsleep adalah tidur sementara secara mendadak dalam beberapa detik yang biasanya terjadi karena kelelahan atau kebosanan.

Karena Microsleep itulah di jalur masuk Purwakarta dari arah Bandung itu sering terjadi kecelakaan.

“Karena mengantuk menjadi faktor paling tinggi kecelakaan di situ, meski Microsleep itu hanya beberapa detik tapi akibatnya fatal, dan hampir selalu tabrak belakang kendaraan,” ujar dia.

Ditambah lagi, saat kecelakaan terjadi karena mengantuk, bisa dipastikan tidak ada pengereman dengan jarak yang cukup sebelum kecelakaan.

Oleh karena itu, efek kecelakaannya sering kali sangat parah hingga menimbulkan korban jiwa.

Geometrik Jalan

Asep menambahkan di Tol Cipularang rentang Kilometer 90 banyak pengemudi mobil yang memacu kendaraan berkecepatan tinggi.

Pada saat memasuki kontur jalan yang berkelok-kelok, pengemudi kurang antisipasi dan seringkali oversteer atau understeer.

Understeer adalah gejala pada saat mobil cenderung sulit untuk berbelok akibat roda depan kehilangan traksi dan memasuki tikungan terlalu cepat.

Sedangkan oversteer merupakan gejala mobil yang kehilangan traksi pada area ban belakang ketika sedang menikung di jalan dan mengakibatkan tergelincir dan hilang kendali.

“Setelah jalan KM 100-an itu kan lurus, ngebut tuh, karena melebihi kecepatan bisa oversteer atau tekor saat berbelok. Tapi paling banyak karena faktor kelelahan atau mengantuk,” katanya.

Asep mengimbau pengguna jalan Tol Cipularang yang melintasi Purwakarta untuk tetap berhati-hati dan selalu menjaga kewaspadaannya saat mengemudi.

Ia menyarankan agar pengemudi bisa melakukan istirahat yang cukup di sejumlah rest area yang telah tersedia.

“Setiap dua jam sekali disarankan untuk istirahat untuk menghindari kelelahan atau microsleep saat berkendara. Serta atur kecepatan dan jarak aman di dalam tol, hal itu tidak cuma angka,” katanya.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...