Masuk Sekolah TK Diundur Setahun, Ada Efeknya Bagi Anak?

by -4,809 views

Tahun ajaran baru 2020 jatuh pada 13 Juli mendatang. Saat itu kegiatan belajar siswa dimulai.

Namun, belum usainya pandemi Covid-19 membuat beberapa pihak khawatir sekolah-sekolahakan menjadi klaster penyebaran wabah.

Demi meredam kekhawatiran ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan 13 Juli bukan tanggal berlangsungnya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Merujuk surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri terkait Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 menyebutkan data pemerintah, 94 persen peserta didik masih berada di zona merah, orange, dan kuning dan jumlah peserta didik yang berada di zona hijau hanya 6 persen.

Untuk tahap I, SMA, SMK, MA dan setingkatnya, SMP dan MTS diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran baru Juli mendatang.

Untuk tahap II (dua bulan setelahnya) barulah SD boleh dibuka. Selanjutnya tahap III (dua bulan selanjutnya), TK dan PAUD boleh melakukan pembelajaran tatap muka.

Menanggapi keputusan di atas sejumlah orang tua yang tahun ini menyekolahkan anak mereka masuk Taman Kanak-kanak (TK) merasa bingung apakah akan terus mendaftar atau menunggu sampai tahun depan.

Menurut data yang dihimpun Tempo.co, Vanessa Sutopo orang tua dari anak yang tahun ini berencana sekolah TK mengatakan jika melihat kondisi saat ini dia akan memundurkan anaknya sekolah TK tahun depan.

“Toh masuk sekolah kalau SD Negeri juga kan 7 tahun ya, mending kelebihan usia deh tidak apa-apa, soalnya melihat area Bekasi sampai sekarang masih kuning. Jadi masih khawatir juga ngelepas anak sekolah tahun ini, jadi mau ngepasin saja 7 tahun,” ucap perempuan 28 tahun ini.

Kebetulan Vanessa yang juga seorang Dokter Umum ini mengatakan ia belum secara resmi mendaftarkan anaknya TK.

“Nanti rencananya akan diskusi lagi sama suami bagaimana sebaiknya, sebelum ada pandemimemang rencananya TK setahun saja, sekarang kondisi serba tidak menentu begini,” imbuhnya.

Berbeda juga dengan yang dirasakan Indah Puspita yang tahun ini sudah memiliki rencana anaknya akan sekolah TK.

Sampai sekarang menurut Indah, dari pihak sekolah masih susah diminta penjelasan.

“Kalau Tangerang Selatan keputusan sudah keluar untuk belajar dari rumah diperpanjang sampai Desember 2020. Jadi tahun ini karena sudah bayar akan tetap sekolah TK, menyesuaikan dengan metode yang berlaku yakni belajar di rumah,” ucap perempuan 32 tahun ini.

Dengan menanggapi kegelisahan sejumlah orang tua tersebut, psikolog Nuzulia Rahma Tristinarum mengatakan jika untuk anak anak TK, dampak psikologis yang terkait dengan tahapan perkembangan anak bisa dikatakan tidak begitu besar. Hal ini karena kompetensi yang diajarkan di TK sebenarnya bisa dilakukan sendiri di rumah.

“Justru memang usia TK itu jauh lebih baik jika melakukan beberapa kegiatan, termasuk kegiatan belajar adalah jika bersama orang tuanya. Yang perlu dilakukan orang tua adalah memberi fasilitas belajar sesuai tahapan perkembangan anaknya dan menjadi fasilitator bagi proses belajar anak,” ucap Psikolog di Pro Help Center ini saat dihubungi Tempo.co, Kamis 18 Juni 2020.

Meski akan ada efek psikologis yang terjadi terkait pada harapan. Anak yang sudah punya harapan akan sekolah barunya, seragam barunya, teman barunya dan terutama anak yang sudah merasa kangen dengan sekolahnya, kangen belajar dan bermain bersama dapat merasa sedih karena harus menunggu lagi sampai waktu tertentu atau bahkan sampai waktu yang masih belum jelas kepastiannya.

Sebab itu orang tua perlu mendengarkan perasaan anak dan memberi penjelasan dengan rasa empati, mendengarkan dengan sepenuh hati.

Berikan waktu khusus untuk anak mengungkapkan perasaannya dan apa yang menjadi harapannya.

“Walau masih TK tentu anak tetaplah manusia yang punya perasaan dan butuh didengarkan dengan sungguh sungguh. Setelah itu beri penjelasan mengenai kondisi yang ada sesuai bahasa yang dipahaminya dan beri penjelasan dengan rasa empati,” lanjut dia.

Belajar yang terbaik bagi usia TK, menurut Nuzulia adalah sambil bermain. Jadi orang tua bisa menggunakan benda-benda yang ada di sekitar.

Tidak harus mahal yang penting sesuaikan dengan kebutuhan belajar anak.Orang tua perlu memberi porsi waktunya untuk anak dalam menstimulasi tahapan perkembangan anak.

“Mengenai stimulasi apa saja yang diperlukan, bisa dicari ilmunya di internet atau buku buku yang ada. Orang tua perlu menyediakan hatinya, waktunya dan dirinya secara utuh saat mendampingi anak. Tidak perlu seluruh waktu orang tua buat anak. Beri sebagian saja sesuai kemampuan orang tua. Tetapi saat memberi yang sebagian itu, hadirlah secara penuh dan utuh,” pungkasnya.

Sumber: tempo.co

loading...
loading...